TRIBUNFLORES.COM, RUTENG – Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng mengirim 200 mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik GENTASKIN (Gerakan NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif) 2026.
Jumlah tersebut menjadikan Unika Santu Paulus Ruteng sebagai perguruan tinggi dengan jumlah pengirim mahasiswa terbanyak kedua di antara peserta KKN GENTASKIN di bawah koordinasi LLDIKTI Wilayah XV.
Program KKN Tematik GENTASKIN berlangsung hampir dua bulan, mulai 10 Juli hingga 29 Agustus 2026, termasuk satu pekan masa persiapan.
Program kolaboratif ini bertujuan mendukung percepatan penanganan stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur.
Baca juga: Rektor Unika Ruteng: Keberhasilan KKN Diukur dari Manfaat yang Dirasakan Masyarakat
Ketua Umum Panitia KKN Tematik 2026 sekaligus Wakil Rektor I Unika Santu Paulus Ruteng, Dr. Marselus Ruben Payong, M.Pd., mengatakan 200 mahasiswa tersebut akan ditempatkan di empat kabupaten.
Rinciannya, sebanyak 64 mahasiswa menjalankan KKN di Kabupaten Manggarai Timur, 59 mahasiswa di Kabupaten Flores Timur, 40 mahasiswa di Kabupaten Nagekeo, dan 37 mahasiswa di Kabupaten Ngada.
"Jumlah peserta dari Unika Santu Paulus Ruteng mencapai 200 mahasiswa. Ini merupakan jumlah terbanyak kedua dari seluruh perguruan tinggi pengirim di wilayah LLDIKTI XV. Kami melihat partisipasi ini sebagai bentuk komitmen nyata universitas untuk ikut menjawab persoalan pembangunan di NTT," jelas Dr. Marsel.
Dr. Marsel menilai KKN GENTASKIN bukan hanya kegiatan pengabdian mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, persoalan stunting dan kemiskinan ekstrem membutuhkan kerja bersama karena tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.
"KKN GENTASKIN menjadi wadah untuk berkolaborasi secara konkret dengan perguruan tinggi lain, pemerintah daerah, dan para pemangku kepentingan dalam memecahkan persoalan bersama, terutama stunting dan kemiskinan ekstrem," ujarnya.
Ia mengatakan program tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Keterlibatan Unika Santu Paulus Ruteng dalam KKN GENTASKIN juga mendukung agenda pembangunan berkelanjutan serta penguatan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Bagi Dr. Marsel, keberhasilan sebuah universitas tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa mendapat kesempatan menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung dengan pendekatan multidisiplin. Setiap kelompok KKN terdiri dari mahasiswa berbagai bidang ilmu sehingga mampu menyusun solusi sesuai kebutuhan masyarakat.
"Mahasiswa tidak bekerja sendiri-sendiri. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu sehingga mampu mengintegrasikan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat secara lebih menyeluruh," katanya.
Unika Santu Paulus Ruteng berharap KKN GENTASKIN dapat menjadi model pengabdian kolaboratif yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Dr. Marsel berharap program tersebut terus berkembang dengan melibatkan kerja sama lintas disiplin, lintas sektor, dan lintas perguruan tinggi.
"Kami berharap KKN semakin berdampak, terutama dalam membantu memecahkan persoalan aktual yang dihadapi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya stunting dan kemiskinan ekstrem," tutupnya.
Melalui KKN GENTASKIN 2026, Unika Santu Paulus Ruteng menegaskan komitmennya untuk menghadirkan peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan daerah sekaligus ruang belajar mahasiswa bersama masyarakat.