Benang Merah Kemenangan Prancis dan Argentina di Babak 16 Besar, Pergantian Pemain Jadi Pembeda
Whiesa Daniswara July 08, 2026 08:30 PM

TRIBUNNEWS.COM - Prancis dan Argentina lolos dari babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan cara yang serupa, menghadapi tim yang bertahan dalam, bola mati, hingga efisiensi pergantian pemain.

Prancis harus bersusah payah mengalahkan Paraguay dengan skor tipis 1-0, sementara Argentina melakukan comeback dramatis untuk menumbangkan Mesir dengan skor 3-2.

Kedua finalis Piala Dunia di Qatar itu sama-sama mendominasi permainan sejak awal waktu kick-off pertandingan, tetapi kewalahan saat berada di sepertiga akhir lapangan karena ruang tembak yang terbatas.

Dalam 45 menit awal melawan Paraguay, Prancis besutan Didier Deschamps tidak mampu menghasilkan satu tendangan tepat sasaran dari sejumlah peluang yang mereka hasilkan.

Paraguay menumpuk pemainnya di lini pertahanan, hal yang sama mereka lakukan saat menyingkirkan Jerman di babak sebelumnya.

Sedangkan Argentina tertinggal dua gol lebih dulu dari Mesir, dan kegagalan penalti Lionel Messi karena berhasil ditepis oleh kiper.

Mesir bermain begitu disiplin, mulai dari menutup ruang tengah yang memaksa Argentina bermain melebar dan tidak efektif, serta memanfaatkan serangan balik yang cepat untuk mengubah keadaan.

Pergantian Pemain

Tapi semua itu runtuh di babak kedua. Masing-masing pelatih, Deschamps dan Lionel Scaloni sangat efektif melakukan pergantian pemain.

Di kubu Prancis, Deschamps menarik Bradley Barcola dengan memainkan Desire Doue pada menit ke-61.

Pemain PSG itu memiliki kemampuan menggiring bola yang lebih berani di sisi sayap. Hal yang diharapkan Deschamps dari sosok Doue membuahkan hasil enam menit kemudian setelah dirinya berada di lapangan.

Satu tusukan dari sisi sayap kiri membuat Diogo Gomez melakukan kesalahan. Dia menjatuhkan Doue di kotak 16 pass, dan Prancis mendapatkan hadiah penalti dari wasit.

Kylian Mbappe yang maju sebagai eksekutor penalti Prancis sukses menjalankan tugasnya, dan gol itu menjadi satu-satunya yang tercipta hingga peluit panjang waktu pertandingan.

Sementara Scaloni memainkan Lautaro Martinez dan Nicolas Gonzalez untuk menggantikan Rodrigo de Paul serta Tagliafico.

Awalnya Argentina dikejutkan dengan gol Mostafa Ziko, selang satu menit keduanya masuk ke lapangan.

Tapi setelah itu, Argentina menciptakan momentum untuk membalikkan keadaan.

Masuknya Lautaro dan Nicolas Gonzalez membuat perubahan dalam struktur permainan Argentina.

Messi bermain lebih ke belakang di lini tengah dan bergerak melebar di sisi sayap kanan alih-alih bekerja sebagai penyerang utama.

Perubahan ini cukup efektif karena mampu merusak solidnya pertahanan Mesir, termasuk lini tengah mereka yang teroganisir dengan baik selama babak pertama.

Ketika mereka menemui kebuntuan dari serangan tengah, anak asuh Scaloni bermain melebar dengan melepaskan umpan-umpan silang ke kotak penalti.

Gol yang dicetak oleh Romero berasal dari bola mati di sisi sayap kanan yang dilepaskan oleh Messi.

Gol Messi pada menit ke-83, empat menit setelah gol Romero juga berasal dari pergerakan di sisi kanan melalui Gonzalo Montiel.

Lalu gol pamungkas yang dicetak oleh Enzo Fernandez berasal dari umpan silang Lautaro Martinez yang bermain melebar ke sisi sayap kanan dalam skenario serangan balik.

Ketiga gol Argentina berasal dari umpan silang dari sisi lapangan ke dalam kotak penalti, sebuah pola yang dimungkinkan berkat perubahan susunan pemain.

Hasil yang diraih Prancis dan Argentina di babak 16 besar membuktikan satu hal bahwa kemenangan tidak hanya membutuhkan talenta individu, melainkan fleksibilitas strategi dan ketenangan mental di lapangan, meskipun lawan bermain rapat untuk menutup ruang tembak.

Kini, di babak perempat final, Prancis akan menghadapi Maroko, sementara Argentina melawan Swiss.

Keduanya berada di bagan yang berbeda, dan favorit untuk bertemu di babak final Piala Dunia 2026.

Suara Lokal soal Bekal Berharga Prancis Juarai Piala Dunia 2026

Melihat komposisi skuad yang dibawa Didier Deschamps ke Piala Dunia 2026, tak ada yang menyangkal jika Prancis punya peluang besar untuk menjadi juara lagi.

Hal itulah yang diamini oleh Difanda Pandu, salah seorang penggemar Prancis, sekaligus anggota Big Reds Regional Surabaya.

Pandu sepenuhnya percaya bahwa Prancis punya kekuatan yang dibutuhkan untuk berbicara banyak di Piala Dunia 2026.

"Jujur pribadi sebagai fans Timnas Prancis dari Piala Dunia 2006, aku masih optimis Piala Dunia 2026 ini, Prancis bisa mencapai partai puncak lagi alias final," kata Difanda Pandu saat dihubungi Tribunnews, Jumat (5/6/2026) hari ini.

"Dengan komposisi pemain seperti Kylian Mbappe, lalu Michael Olise yang tampil dalam prime terbaiknya di Bayern Munchen tahun ini,"

"Ditambah ada nama pemain baru seperti Rayan Cherki, jagoan PSG seperti Desire Doue, skuad Prancis terlihat hampir sempurna dari semua lini,"

"Jadi harapan untuk melihat Prancis lolos final dan juara cukup besar," tukasnya.

(Tribunnews.com/Sina, Dwi Setiawan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.