TRIBUNBANYUMAS.COM, MASHHAD – Prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di kota kelahirannya, Mashhad, dijadwalkan berlangsung pada Kamis (9/7/2026) siang waktu setempat di tengah bayang-bayang eskalasi militer yang kembali memanas.
Jutaan pelayat telah memadati wilayah tersebut, sementara di saat yang sama, Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara baru ke wilayah Iran sebagai respons atas konflik di Selat Hormuz.
Gubernur Mashhad, Hassan Hosseini, memproyeksikan sekitar 15 juta orang akan menghadiri ritual pelepasan terakhir ini.
Rangkaian upacara penghormatan yang telah berlangsung selama beberapa hari di Iran dan Irak menjadi momentum yang dimanfaatkan pemerintah Teheran untuk menunjukkan persatuan nasional, pasca-perang Timur Tengah dan penumpasan aksi protes domestik beberapa bulan lalu.
Jadwal pemakaman yang semula direncanakan pukul 06.00 waktu setempat terpaksa diundur menjadi pukul 14.00.
Penundaan ini terjadi karena prosesi penghormatan sebelumnya di kota suci Najaf dan Karbala, Irak, memakan waktu lebih lama akibat membeludaknya massa. Sebelum tiba di Mashhad Iran, jenazah juga sempat disemayamkan selama tiga hari di ibu kota Teheran dan Kota Qom.
Keputusan pemakaman di Mashhad ini didasarkan pada wasiat langsung Khamenei semasa hidup kepada Kepala Stafnya, Mohammad Mohammadi-Golpaygani.
Baca juga: Pemakaman Ali Khamenei Jadi Ajang Konsolidasi: Menlu Iran Kumpulkan Hamas, Hizbullah, dan Houthi
Namun, di luar atmosfer duka, ketegangan AS Iran justru mencapai titik didih baru. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa mereka telah membombardir sejumlah target militer di dalam wilayah Iran.
Operasi tersebut diklaim sebagai tindakan defensif untuk memotong kemampuan militer Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Langkah Washington ini memicu reaksi berantai di kawasan. Pihak Teheran mengklaim telah membalas dengan menghantam pangkalan militer AS yang berada di Bahrain dan Kuwait.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa masa gencatan senjata dengan Iran telah resmi berakhir. Trump mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak yang jauh lebih fatal bagi Teheran jika serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz terus berlanjut.
Ali Khamenei sendiri, yang memimpin struktur kekuasaan tertinggi Iran sejak tahun 1989, wafat pada usia 86 tahun. Ia gugur dalam serangan udara Israel pada 28 Februari lalu, yang menandai dimulainya operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Sebagai penghormatan terakhir, pihak keluarga memastikan mendiang akan dimakamkan dalam satu liang lahat bersama anggota keluarganya yang turut tewas dalam manifes serangan Februari tersebut, termasuk putri, menantu, cucu perempuannya yang masih bayi, serta istri dari Mojtaba Khamenei, Zahra Haddad Adel.
Masyarakat dunia kini tertuju pada pemakaman Ali Khamenei yang tidak hanya menandai akhir dari sebuah era kepemimpinan di Iran, tetapi juga menjadi titik krusial penentu arah geopolitik Timur Tengah yang semakin tidak menentu. (inas/kps)