BANGKAPOS.COM, BANGKA – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung mengalami peningkatan.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, prevalensi stunting di daerah itu tercatat sebesar 20,7 persen, kemudian meningkat menjadi 24,6 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah memperkuat gerakan pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan, dr Agus Pranawa bilang, peningkatan angka prevalensi stunting sebesar 3,9 persen menunjukkan bahwa upaya percepatan penurunan stunting masih menjadi tantangan bersama.
Pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang mengalami stunting, tetapi juga memperkuat pencegahan sejak masa kehamilan hingga periode awal kehidupan anak.
Langkah tersebut dilakukan melalui program Penggerakan Cegah Stunting yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Memang ada peningkatan prevalensi stunting. Sehingga upaya percepatan penurunan stunting masih menjadi tantangan yang memerlukan perhatian dan kerja sama seluruh pihak,” kata dia kepada Bangkapos.com, Kamis (9/7/2026).
Agus Pranawa menjelaskan, stunting bukan hanya persoalan kondisi fisik anak yang memiliki tinggi badan lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
Permasalahan tersebut berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan perkembangan kognitif, gangguan kesehatan, hingga penurunan produktivitas ketika dewasa.
Menurutnya, pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan.
Pemerintah daerah mendorong keterlibatan seluruh pihak mulai dari perangkat daerah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga keluarga sebagai lingkungan pertama dalam tumbuh kembang anak.
Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci agar intervensi pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif.
“Pencegahan stunting harus menjadi gerakan bersama yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, hingga keluarga,” jelas Agus Pranawa.
Dalam upaya menekan angka stunting, pemerintah daerah mendorong berbagai langkah pencegahan mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
Setiap ibu hamil diimbau melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan memenuhi kebutuhan gizi selama masa kehamilan.
Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi terus digencarkan.
Selain pemenuhan gizi, pemerintah juga menekankan pentingnya pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala.
Orang tua didorong aktif membawa balita ke Posyandu maupun fasilitas pelayanan kesehatan untuk memastikan kondisi tumbuh kembang anak terpantau sejak dini.
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk penggunaan air bersih dan sanitasi yang layak.
“Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala di Posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting,” tuturnya.
Agus Pranawa turut memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini telah berperan dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bangka Selatan.
Tenaga kesehatan, kader Posyandu, Tim Penggerak PKK, pemerintah desa dan kelurahan dinilai memiliki peran besar dalam mendampingi keluarga serta memberikan edukasi kepada masyarakat.
Pemerintah daerah berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat agar target penurunan stunting dapat tercapai.
“Karena peran seluruh pihak yang telah bekerja keras mendampingi keluarga dan masyarakat dalam mendukung percepatan penurunan stunting,” kata Agus Pranawa. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)