100 Hari Menjelang Bulan "Ber-ber" 2026
Sri Widya Rahma July 09, 2026 04:54 PM

Oleh: Dr Marah Halim MAg MH *)

Iseng-iseng saya buat promt bertanya ke Gemini AI, “Kamu pakar cuaca, Apakah benar di Aceh curah hujan cenderung tinggi di bulan-bulan “ber-ber”?

Si AI kasih jawaban begini, “Analisis anda sangat tepat. Secara sains meteorologi, fenomena bulan-bulan berakhiran "-ber" (September, Oktober, November, Desember) memang merupakan periode puncak curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Aceh. Mengapa? 

Pertama, puncak Monsun Barat (Monsun Asia), mulai bulan Oktober dan mencapai puncaknya di bulan Desember atau Januari, arah angin berembus dari Benua Asia menuju Benua Australia.

Angin ini melewati Laut Cina Selatan dan Samudra Hindia, membawa massa uap air yang sangat padat.

Begitu menabrak daratan Sumatera, khususnya Aceh yang berada di ujung utara, uap air ini naik, mengondensasi, dan tumpah menjadi hujan lebat.

Kedua, pengaruh Topografi Bukit Barisan. Aceh memiliki topografi yang unik dengan bentangan pegunungan Bukit Barisan.

Ketika angin Monsun yang membawa banyak uap air terhalang oleh pegunungan tinggi, massa udara terpaksa naik (efek orografis).

Proses ini mempercepat terbentuknya awan-awan konvektif seperti Kumulonimbus yang menghasilkan hujan deras disertai angin kencang dan petir, terutama di wilayah tengah atau dataran tinggi dan barat-selatan Aceh.

Ketiga, suhu permukaan laut yang hangat. Perairan di sekitar Aceh (Samudra Hindia dan Selat Malaka) pada akhir tahun cenderung hangat.

Suhu laut yang hangat ini memicu penguapan yang sangat tinggi, menjadi "bahan bakar" utama bagi pertumbuhan awan hujan secara masif di atas langit Serambi Makkah.

Di paragraf akhir si AI memberi semacam reminder, berdasarkan pola historis dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pola Monsun perlu diwaspadai.

Wilayah Aceh umumnya memasuki masa transisi (pancaroba) di bulan September, kemudian masuk ke puncak musim hujan primer pada bulan November hingga Desember.

Curah hujan pada bulan-bulan ini sering kali melebihi 300-400 milimeter (mm) per bulan, yang secara statistik meningkatkan risiko hidrometeorologi seperti banjir luapan dan tanah longsor di jalur-jalur rawan.

Realitas di Lapangan

Info sajian AI di atas bisa dikonfirmasi ke pengalaman kita selama bertahun-tahun. Kenyataannya memang demikian, bulan “ber-ber” adalah musim lakunya jas hujan, sepatu bot, payung, bahkan obat kutu air.

Namun seperti apa tinggi rendah curah serta volumenya mungkin tidak sama setiap tahunnya, khususnya “ber-ber” 2025 lalu menurut penjelasan ahli adalah sebuah anomali, suatu keganjilan dan menyimpang dari kebiasaannya. 

Berangkat dari pengalaman empiris itu dan juga dari anomali tahun lalu, maka tidak ada salahnya kita waspada terhadap countdown bulan “ber-ber”, terutama pascabencana saat ini.

Trauma psikologis kita belum lagi hilang, puncak bukit dan gunung yang longsor masih menganga, dan mereka yang terdampak langsung masih ada yang bertahan di penampungan dan rumah sewa.  

Yang jelas “ber-ber” pascabencana ini akan berbeda dengan sebelumnya. Sudah pasti hujan akan disambut oleh puncak gunung dan bukit terlebih dahulu.

Masalahnya, sebelum bencana  belum ada titik-titik terbuka menganga atau bergeser seperti sekarang.

Tanpa filter dan tanpa ditingkahi oleh daun, cabang, batang serta akar kayu seperti sebelumnya, air dipastikan akan langsung masuk ke celah tanah dan membentuk alurnya sendiri. 

Indikasinya, saat ini sedikit saja hujan deras di kawasan Kecamatan Pintu Rime Gayo, atau di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, provinsi Aceh, air sungainya langsung deras dan keruh.

Beberapa waktu lalu ketika melintas di jembatan Umah Besi, Bener Meriah, ada truk sayur yang tersangkut di jalur bawah jembatan di saat air sungai membesar dan keruh, padahal hujan mungkin baru satu jam berlangsung.

Mengapa begitu cepat turunnya air deras dan keruh seperti warna kopi sanger itu? Tentu saja karena jalur dan alurnya sudah dirintis oleh gugusan air baih pada saat bencana.

Kini jalur itu menjelma menjadi “jalan tol” bagi air yang meluncur dari puncak gunung dan bukit.

Teorinya, semakin tinggi dan curam gunung dan bukit serta semakin besar volume airnya, maka semakin kencang pula kecepatan turunnya, secepat lesatan lari kuda pacu di Gelanggang Pacuan Kuda Blang Bebangka, sebagaimana diungkapkan oleh Jalimin Gayo, penyintas bencana November 2025 lalu.  

Sedia Payung Sebelum “Ber-ber”

Alam tentu sudah memiliki algoritmanya sendiri seperti penjelasan rasional Gemini AI. Dengan sajian pengetahuan itu, pilihan dan keputusan terpulang kepada manusianya sendiri, warga dan Pemerintah Daerah (Pemda).

Menghadapi potensi bahaya di depan mata ini, pola pilihan dan pola kerja hanya ada dua, mau kerja sama atau “sama-sama kerja”.

Kerja sama artinya berkolaborasi menyatukan kekuatan dan sumber daya, sedangkan jika sama-sama kerja masing-masing dengan urusannya sendiri. 

Cerita heroik pak Sahrial di kawasan Enang-Enang, Bener Meriah, selama dua bulan ke belakang mengindikasikan bahwa antara masyarakat dan Pemda masih “sama-sama kerja”, Pemda kerja di kantor dan masyarakat kerja di rumahnya masing-masing, masalah jalan serahkan saja pada yang di atas, maksudnya Pemerintah Pusat.   

Sedangkan masa rehab rekon ini saja solusi dari “atas” belum lagi menunjukkan hasil yang signifikan, bulan “ber-ber” baru sudah menjelang.

Rehab artinya pulih dan rekon artinya bangun kembali, lalu apa yang sudah pulih dan apa yang sudah dibangun kembali oleh “yang di atas itu”?

Yang kembali dengan jelas adalah “ber-ber”. Pepatah mengatakan harus ada sedia payung sebelum hujan. Lalu akan seperti apa persiapan masyarakat dan Pemda menghadapi bulan "ber-ber" ini? 

Kerja sama Pemda dan warga mutlak adanya, sebab alam Negeri Antara dan manusianya tidak bisa dipisahkan, sama halnya dengan penduduk Palestina dan tanahnya, setandus apapun tanahnya.

Konon lagi alam Negeri Antara yang hijau ranau bak bentangan permadani yang kini banyak robeknya. Alam yang memberikan kehidupan dasar kepada masyarakatnya jika robek tentu harus dijahit kembali.

Problemnya, robekan permadani itu sama sekali belum ditambal kembali, isu segar beredar robekan akan ditambah lagi dengan dalih investasi sektor tambang dan perkebunan kopi skala tinggi. 

Jangan Terlalu Berharap

Belajar dari pengalaman penanganan bencana beberapa bulan yang lalu, ketika terjadi bencana, Pemda dan masyarakat setempat tidak boleh berharap terlalu muluk kepada penanganan Pemerintah Pusat, meskipun ada bagian yang memang tugas dan fungsi mereka, dan kalaupun ada pasti prosesnya panjang dan lama, sementara dampak yang ditinggalkan bencana secepat terjangan air bah itu. Idealnya memang “Pusat datang masalah hilang”. 

Sinyal di atas bukanlah sentimen, bisa dibuktikan di lapangan. Tenda-tenda otoritas kebencanaan masih terpasang di pinggir-pinggir jalan yang ditempatkan begitu saja selama berbulan-bulan dan hanya dijadikan simbolisasi bahwa mereka telah hadir ke masyarakat.

Tapi dalam kenyataannya, kehadiran mereka itu hanya simbol, hanya untuk memantapkan eksistensinya dan sebagai laporan kinerja mereka kepada yang lebih atas lagi.

Berharap pada “yang di atas” itu boleh-boleh saja tapi sekedarnya saja agar tidak menimbulkan kecewa.

Yang perlu dicatat, spirit dan jiwa kerja mereka tak sebesar simbol-simbol negara di dada dan di bahunya.

Kalaupun berharap maka sekedarnya saja, sewajarnya saja. Mereka juga bukan malaikat yang tidak terikat janji dan “transaksi” dalam jabatan dan pekerjaannya, karena semakin “atas” instansi dan jabatan, maka semakin “atas” pula dunia persilatannya.  

Karena itu, warga dan Pemda di Negeri Antara harus kerja sama dan kolaborasi menyelesaikan masalah sendiri dengan sumber daya dan kekuatan yang ada.

Yang kurang pada kita sesungguhnya bukan kemampuan (capability) untuk berkolaborasi tetapi kemauan (willingness) untuk berkolaborasi.

Pertanyaannya mengapa tidak mau? Mengapa berat hati? Ketidakmauan bekerja sama tentu saja disebabkan oleh banyak faktor, tetapi yang paling laten adalah faktor ego dan keakuan.

Dalam hal ini pihak yang superior biasanya yang paling parah keakuannya. Dalam ajaran agama kita, keakuan adalah keiblisan yang hanya akan memperparah kerusakan di Negeri Antara.

*) Penulis adalah Widyaiswara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh dan Dosen Ilmu Hukum STIHMAT Takengon, yang berdomisili di Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.