TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Keberhasilan Peta Jalan Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda yang mampu membangun persatuan di tengah keberagaman.
Pesan tersebut disampaikan Staf Khusus Menteri Agama RI, H. Gugun Gumilar, M.A., Ph.D. saat menjadi narasumber dalam Sekolah Pluralisme 'Interfaith' 2026 di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, Kamis (9/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gugun menekankan bahwa bonus demografi harus diarahkan menjadi bonus pembangunan melalui penguatan karakter, kepemimpinan, serta kolaborasi lintas agama dan budaya.
"Keunggulan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kualitas sumber daya manusianya, tetapi juga dari kemampuannya merawat kohesi sosial. Indonesia Emas 2045 memerlukan pemuda yang menjadikan keberagaman sebagai modal strategis untuk melahirkan inovasi, memperkuat persatuan, dan mewujudkan pembangunan yang inklusif," ujar Gugun.
Menurutnya, di tengah tantangan polarisasi, disrupsi digital, dan perubahan global, generasi muda harus tampil sebagai agen kerukunan yang mengedepankan dialog, toleransi, serta semangat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.
Gugun juga mengajak peserta Sekolah Pluralisme 'Interfaith' untuk tidak hanya memahami keberagaman sebagai realitas sosial, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan dalam membangun masa depan Indonesia.
Baca juga: Wamendikdasmen: Pemerintah Siapkan Desain Besar Tata Kelola Guru Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Melalui kolaborasi lintas iman, pemuda diharapkan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa sekaligus memperkuat persatuan nasional.
“Kerukunan bangsa adalah kunci utama mewujudkan Indonesia Emas. Kita harus menghidupkan Trilogy of Harmony, yaitu harmoni antara manusia dengan Tuhan, harmoni antar-sesama manusia melalui dialog dan solidaritas, serta harmoni antara manusia dengan alam,” jelas Gugun.
Ia juga menggarisbawahi visi Kementerian Agama untuk mewujudkan masyarakat yang taat beragama, rukun, cerdas, dan sejahtera lahir batin melalui fokus utama pada moderasi beragama dan transformasi digital.
Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung memberikan pembahasan mendalam mengenai posisi strategis Sulawesi Utara yang dikenal bukan sekadar wilayah geografis, melainkan sebuah Laboratorium Kerukunan yang hidup di Indonesia.
Melalui kearifan lokal seperti filsafat “Torang Samua Basudara” (Kita Semua Bersaudara), masyarakat Sulawesi Utara telah berabad-abad mempraktikkan toleransi aktif, bukan sekadar koeksistensi pasif.
Kampus keagamaan seperti IAKN Manado memegang peran sentral dalam merawat laboratorium ini dengan menjadi ruang perjumpaan ilmiah dan kultural bagi seluruh elemen generasi muda lintas iman agar nilai-nilai inklusivitas tetap terjaga.
Kegiatan yang diikuti pemuda lintas agama dari berbagai daerah tersebut menjadi ruang pembelajaran bersama untuk menumbuhkan kepemimpinan yang inklusif, memperkuat moderasi beragama, serta menyiapkan generasi muda yang siap berkontribusi mewujudkan Indonesia Emas 2045.