Pilu 3 Santri di Ponpes Lombok Diduga Dibakar Hidup-hidup Oleh Senior, 1 Orang Meninggal Dunia
Talitha Daren July 10, 2026 09:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Kasus tewasnya seorang santri akibat insiden kebakaran di sebuah pondok pesantren di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kembali menjadi sorotan publik.

Peristiwa yang terjadi pada Desember 2025 itu mengakibatkan tiga santri mengalami luka bakar setelah diduga dibakar oleh senior mereka.

Satu korban dilaporkan meninggal dunia, sementara dua santri lainnya masih mengalami luka bakar berat.

Kasus ini kembali mencuat setelah kuasa hukum para korban mengungkap kronologi kejadian yang diduga bermula dari tindakan para senior di lingkungan pesantren.

Menurut kuasa hukum korban, Joko Sumadi, salah satu korban awalnya diperintahkan oleh terduga pelaku untuk membeli satu liter bensin.

Bensin tersebut kemudian dibagi ke dalam dua botol sebelum dibawa ke lokasi yang berbeda, salah satunya ke kamar yang kemudian menjadi tempat kejadian perkara.

Saat insiden berlangsung, terdapat lima orang di dalam lokasi, terdiri atas dua orang yang diduga sebagai pelaku dan tiga santri yang menjadi korban.

Api disebut pertama kali muncul ketika salah seorang terduga pelaku menyalakannya di dalam sebuah wadah plastik hingga akhirnya menyambar botol berisi bensin.

Kobaran api dengan cepat membesar dan memenuhi ruangan setelah botol bensin diduga tidak sengaja tertendang.

Sementara dua orang berhasil menyelamatkan diri, tiga santri lainnya terjebak di dalam kamar hingga mengalami luka bakar serius, dengan satu di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: Kondisi Luka Bakar Istri di Cirebon yang Dianiaya Oknum Polisi, Keluar dari RS Karena Tak Ada Biaya

Dua Orang Diduga Pelaku

Saat kejadian, di lokasi terdapat lima orang. Dimana dua orang diduga sebagai pelaku, dan tiga lainnya adalah korban.

"Jadi si pelaku di situ sempat menyalakan api di dalam mika, api itu kemudian menyebar kena ke botol bensin yang kemudian, karena dia kaget, itu malah ditendang dan kemudian menyebar di seluruh kamar itu," beber Joko.

Namun terduga pelaku dan satu saksi kemudian berhasil keluar dari lokasi kejadian, sehingga menyisakan tiga korban yang berada di dalam kamar tersebut.

"Sampai akhirnya kemudian bisa didobrak dari luar, akhirnya kemudian tiga korban bisa diselamatkan. Namun diperjalanannya, karena luka bakar yang dialami mencapai 85 persen, salah satu korban itu akhirnya meninggal dunia saat bulan Ramadan kemarin," imbuh Joko.

Baca juga: Viral Pria di Buleleng Bali Diduga Bakar Mobil dan Kandang Sapi Warga, Dipicu Cinta Tak Direstui

SANTRI DI LOMBOK DIBAKAR - (Ilustrasi dibakar) 3 santri di Ponpes Lombok diduga dibakar hidup-hidup oleh senior mereka (Tribun Trends/Magnific.com/@kues1)

Dugaan Bullying

Kendati demikian, ia tak menduga bahwa sebelum kejadian memang terdapat dugaan bullying atau perundungan yang dilakukan terduga pelaku serta adanya ancaman pembakaran.

"Tapi memang sebelumnya ada dugaan bullying yang dilakukan oleh pelaku, dan itu ada ancaman memang pembakaran, sehingga kemudian terjadilah kasus pembakaran ini," tutur Joko.

Sementara itu, usai kasus kronologi 3 santri dibakar hidup-hidup oleh senior, pihak keluarga korban sempat menduga terdapat upaya penyelesaian kasus secara internal melalui surat perdamaian tersebut.

Baca juga: KPK Konfirmasi Bupati Sukoharjo Etik Suryani Terjaring OTT, 6 Koper Dibawa ke Polresta Solo

Dugaan Upaya Penyelesaian Kasus dengan Damai

Bahkan, mereka menuding tanda tangan wali murid dalam dokumen itu tidak pernah diberikan secara sadar untuk kepentingan perdamaian.

“Dia bilang untuk wali murid tapi nyatanya kan ada terbit surat perjanjian perdamaian yang ditandatangani, kami pastikan 100 persen itu dipalsukan,” kata ibu salah satu korban, Nurul, dikutip Grid.ID dari Tribunnews.com.

Nurul juga mengaku keluarga tidak pernah diberi penjelasan bahwa dokumen yang ditandatangani merupakan surat perdamaian terkait kasus yang dialami anaknya.

“Ini salahnya mungkin dari kami karena mungkin juga kami tidak teliti. Kami hanya disuruh untuk menandatangani berkas, namun itu bahasanya untuk keperluan lain, bukan surat damai,” tegasnya.

Hingga saat ini, keluarga korban menyatakan masih berupaya mencari kejelasan dan keadilan atas peristiwa yang dialami anak mereka, sembari fokus pada proses pemulihan korban yang mengalami luka bakar cukup serius.

(TribunTrends/Grid.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.