TRIBUNGORONTALO.COM – Almarhum Rachmat Gobel resmi dianugerahi gelar adat Gorontalo Taa Lo'o Lamahe Lipu melalui sidang adat yang berlangsung di Rumah Adat Gobel, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Jumat (10/7/2026).
Pemberian garai atau gelar adat tersebut menjadi bentuk penghormatan Dewan Adat Gorontalo atas dedikasi dan pengabdian Rachmat Gobel selama hidupnya, baik untuk masyarakat Gorontalo maupun Indonesia.
Sidang adat diikuti oleh perwakilan lima pohala'a atau negeri adat Gorontalo. Dalam musyawarah itu, para pemangku adat membahas dan menetapkan gelar yang dinilai paling tepat disematkan kepada almarhum.
Baca juga: 47 Nama dalam Pengembangan Kasus Dugaan Korupsi MBG Dibongkar Jampidsus
Ketua Harian Dewan Adat Gorontalo, Alim S. Niode, menjelaskan prosesi sidang adat dilaksanakan di Rumah Adat Gobel karena rangkaian adat tidak dilakukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, tempat pemakaman Rachmat Gobel.
"Karena bukan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, maka potongan upacara itu kita lakukan di sini," ujar Alim usai sidang adat.
Ia menerangkan bahwa garai merupakan gelar adat yang diberikan kepada seseorang setelah meninggal dunia. Menurutnya, pemberian gelar tersebut memiliki makna yang mendalam, bukan sekadar penghormatan.
Alim menyebut tujuan pertama adalah sebagai doa bagi almarhum agar memperoleh kemaslahatan di alam barzakh. Sementara tujuan lainnya ialah menjadi pesan moral bagi keluarga, masyarakat, dan generasi penerus.
"Boleh juga menjadi inspirasi kalau itu dianggap inspirasi dan motivasi bagi masyarakat," katanya.
Dalam sidang tersebut, masing-masing pohala'a menyampaikan usulan sesuai ketentuan adat yang berlaku di wilayahnya.
Kelima negeri adat yang terlibat yakni Suwawa, Limboto (Limutu), Hulonthalo atau Kota Gorontalo, Bulango Atingola, serta Boalemo Pohuwato.
Secara keseluruhan terdapat sepuluh usulan gelar adat yang dibahas sebelum akhirnya seluruh peserta sidang mencapai kesepakatan memilih Taa Lo'o Lamahe Lipu sebagai garai bagi Rachmat Gobel.
"Ada 10 usulan garai masing-masing mengikuti payung di negeri masing-masing dan disimpulkan Taa Lo'o Lamahe Lipu," ujar Alim.
Ia menjelaskan, gelar tersebut merupakan bentuk singkat dari kalimat adat Gorontalo yang berbunyi, "Taa Lomaya lo batanga, lo dunga lo nyawa, lo tombulu lo arata ode lamahu lipu."
Kalimat adat itu menggambarkan seseorang yang mengabdikan jiwa, raga, dan hartanya demi kemajuan serta kemakmuran negeri.
"Kalau dipanjangkan artinya mengorbankan jiwa, raga dan hartanya untuk kemakmuran negeri. Karena terlalu panjang kemudian dipersingkat menjadi Taa Lo'o Lamahe Lipu tanpa menghilangkan maknanya," jelas Alim.
Ia menegaskan keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan seluruh peserta sidang adat.
"Disepakati oleh seluruh batin dan yang hadir sebagai garai untuk almarhum Bapak Rachmat Gobel," katanya.
Setelah diputuskan dalam sidang adat, gelar tersebut selanjutnya akan diumumkan kepada masyarakat melalui berbagai kesempatan, seperti pada doa tujuh hari, 40 hari, maupun agenda keluarga lainnya.
"Gelar tersebut tinggal dimaklumkan, tinggal diumumkan. Boleh jadi pada acara tujuh hari, 40 hari, tetapi lebih cepat lebih baik," ujar Alim.
Selain diumumkan kepada masyarakat, garai tersebut juga akan diabadikan di makam Rachmat Gobel sebagai bagian dari warisan nilai yang ditinggalkannya.
"Nanti gelar itu akan dituliskan di makam almarhum sebagai pelajaran bagi orang yang berziarah," katanya.
Berdasarkan Tiga Nilai Pengabdian
Alim mengungkapkan, Dewan Adat Gorontalo menetapkan gelar tersebut setelah mempertimbangkan tiga nilai utama yang melekat pada sosok Rachmat Gobel.
Ketiga nilai itu meliputi keteladanan, kesempurnaan pengabdian, serta legasi yang ditinggalkan selama hidupnya.
Menurut Alim, seluruh nilai tersebut tercermin dari pengorbanan Rachmat Gobel yang selalu mengutamakan kepentingan masyarakat dibanding kepentingan pribadi.
"Beliau sampai akhir hayatnya tidak pernah berbicara tentang dirinya sendiri, bisnisnya ataupun keluarganya. Yang beliau pikirkan adalah bagaimana Gorontalo bisa maju," ujarnya.
Bahkan menjelang akhir hayatnya, kata Alim, Rachmat Gobel masih aktif membahas berbagai program pembangunan dan upaya menghadirkan dukungan pemerintah pusat untuk Gorontalo.
"Beliau memikirkan orang banyak sampai beliau meninggal," katanya.
Alim juga menilai pengabdian Rachmat Gobel memiliki cakupan yang lebih luas dibanding sejumlah penerima garai sebelumnya. Jika tokoh-tokoh terdahulu lebih dikenal melalui kiprah di tingkat daerah, Rachmat Gobel dinilai memberikan kontribusi hingga level nasional.
"Beliau bukan hanya berkiprah di Gorontalo, tetapi di tingkat nasional, dari Sabang sampai Merauke. Karena itu gelar yang diberikan memang memiliki makna yang sangat besar," tutupnya. (*)