TRIBUNJAMBI.COM – Maroko tidak memberikan perlawanan sengit kepada Prancis pada babak perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Amerika Serikat, Jumat dini hari (10/7). Tim Singa Atlas tampil antiklimaks hingga tersingkir dengan skor 2-0.
Penulis sempat memberikan analisis soal bagaimana laga Prancis versus Maroko akan berjalan. Saat memenuhi undangan sebagai narasumber di TVRI Jambi pada program Kabar Jambi, Kamis (9/7/2026), penulis menilai Prancis memang lebih unggul secara kualitas pemain.
Tim Ayam Jantan punya empat pemain kelas dunia di barisan depan: Kylian Mbappe (Real Madrid), Ousmane Dembele (Paris Saint-Germain), Desire Doue (Paris Saint-Germain), Michael Olise (Bayern Munchen).
Lini serang Prancis bahkan memiliki kedalaman. Sebagai supersub, ada Bradley Barcola (Paris Saint-Germain), Marcus Thuram (Inter Milan), dan Jean-Philippe Mateta (Cristal Palace).
Penulis juga menyoroti sektor tengah tim pemegang dua gelar piala dunia ini. Dobel pivot mereka sangat solid untuk menyeimbangkan permainan. Pada partai kontra Maroko, pelatih Didier Deschamps memasang Manu Kone (AS Roma) untuk mendampingi Adrien Rabiot (AC Milan). Kone menggantikan Aurelien Tchouameni (Real Madrid) yang belum pulih 100 persen dari cedera.
Terbukti, pada pertandingan, gelombang serangan Prancis cukup dahsyat. Mereka melepaskan total 22 tembakan, sembilan di antaranya mengarah ke gawang, dan dua berujung gol melalui Mbappe dan Dembele.
Namun, dalam analisis pada obrolan bertema “8 Besar Piala Dunia 2026: Adu Strategi, Mental, dan Kualitas” di TVRI Jambi itu, penulis memperkirakan Maroko bukan tidak mungkin menyulitkan Prancis. Ini seperti yang mereka terapkan kepada Belanda pada partai 32 besar.
Nyatanya tidak demikian. Relatif hanya pada babak pertama Maroko sanggup meladeni Prancis. Itu pun seandainya Mbappe sukses mencetak gol via penalti, termasuk peluang emas sundulan bek Dayot Upamecano (Bayern Munchen) dan sepakan Desire Doue, tim Singa Atlas pasti sudah tertinggal.
Pada babak kedua, Maroko mengendur, apalagi setelah Prancis memimpin 2-0. Ofensif mereka tanggung, lini tengah kedodoran, sementara barisan belakang kurang solid.
Selama 90 menit, Maroko hanya bikin lima tembakan, tapi cuma satu yang mengarah ke gawang Prancis. Satu-satunya kesempatan terbaik ketika playmaker Azzedine Ounahi menyepak bola dari luar kotak penalti pada menit 82, tetapi kiper Prancis, Mike Maignan (AC Milan), berhasil menahan.
Maroko tidak berinisiatif lebih setelah ketinggalan dua gol. Mereka tak ngotot melancarkan gelombang serangan.
Harapan pencinta bola bahwa tim Afrika Utara ini berjuang secara spartan, sehingga kalaupun kalah tetapi pulang dengan kepala tegak, tidak terjadi.
Baca juga: Sekuat Haaland Menebang Brasil, Seluhur Viking Row yang Menggema
Mengapa Maroko Flop?
Mari kita ulas sedikit mengapa Maroko flop, antiklimaks. Penampilan yang tak biasanya dari satu-satunya tim Afrika yang tersisa di babak perempat final. Apakah murni karena mereka melempem, atau juga faktor Prancis yang lebih solid?
Pertama, Maroko memang agak pincang di depan. Itu karena absennya Ismael Saibari, pemain Bayern Munchen yang cedera kala menghadapi Kanada pada laga 16 besar.
Kehilangan Saibari sedikit banyak memengaruhi daya gedor Maroko. Dia selalu starter di tiga pertandingan fase grup hingga partai 32 besar dan 16 besar sebelum akhirnya cedera.
Saibari adalah pencetak gol terbanyak Singa Atlas sampai sebelum perempat final dengan tiga gol. Masing-masing satu gol melawan Brasil pada laga perdana Grup C sekaligus menahan 1-1 juara dunia lima kali itu; satu gol versus Skotlandia, satu-satunya gol Maroko; dan satu gol ketika menang 4-2 kontra Haiti. Belum termasuk satu gol saat adu penalti bersobok dengan Belanda di babak 32 besar, sekaligus meloloskan mereka ke 16 besar.
Sebagai pengganti Saibari, pelatih Mohamed Ouahbi memasang Chemsdine Talbi menjadi ujung tombak. Sayangnya, pemain Sunderland yang belum bikin satu gol pun pada Piala Dunia 2026 ini tak mampu berbuat banyak. Ia bahkan mendapat rating terendah di antara para penggawa Maroko.
Kedua, Brahim Diaz kurang berhasil menjalankan perannya sebagai pemain nomor punggung 10, bahkan secara keseluruhan di setiap laga Maroko. Padahal, harapan kreasi serangan tim Singa Atlas ada di pundaknya, selain Azzedine Ounahi.
Brahim Diaz gagal menghadirkan umpan-umpan kunci ke depan, dan dalam hal bertahan ia juga tidak banyak membantu sampai pelatih menariknya pada babak kedua.
Pemain yang kabarnya tak masuk dalam rencana Jose Mourinho, pelatih anyar wajah lama Real Madrid, dalam skuat musim 2026-2027 itu selalu starter pada Piala Dunia 2026. Namun, ia nyaris “hilang”.
Penampilannya kurang mengesankan kala Maroko bersua Brasil, Skotlandia, Belanda, plus Prancis. Cuma agak mending ketika berjumpa Haiti, lalu Kanada, satu-satunya laga di mana pelatih tidak menggantinya.
Ketiga, entah mengapa gelandang bertahan Ayyoub Bouaddi loyo. Tak terlihat determinasi pemain Lille, klub liga utama Prancis, itu dalam membendung serangan-serangan Prancis.
Ini berbeda ketika Bouaddi garang menghadapi gelandang-gelandang Belanda dan Kanada di dua babak gugur sebelumnya, termasuk Brasil pada pertandingan pembuka grup.
Keempat, bek kanan sekaligus kapten Achraf Hakimi kali ini tidak mampu mengangkat mental rekan-rekannya saat Maroko telah kebobolan dua gol. Jika biasanya rutin mendukung serangan dari sayap kanan, ia begitu sibuk dan kelimpungan menjaga pertahanan dari serbuan Desire Doue dan sahabatnya, Kylian Mbappe.
Dan kelima, pergantian pemain dari sang pelatih yang tak cukup membantu. Gelandang Sofyan Amrabat yang masuk di babak kedua tidak berarti apa-apa, malah gawang Maroko kecolongan gol kedua Ousmane Dembele.
Begitu juga masuknya Soufiane Rahimi yang telah mencetak dua gol pada piala dunia ini. Pemain depan yang biasanya menjadi supersub itu tidak mendapat ruang dan peluang untuk menceploskan bola ke gawang Mike Maignan.
Rasanya lima faktor itu yang bikin Maroko tersingkir. Praktis hanya kiper Yassine Bounou yang bermain baik dengan menahan sejumlah peluang Prancis, dan karenanya ia memperoleh rating paling tinggi di antara sejawatnya.
Baca juga: Saatnya Ikhlaskan Messi dan CR7, karena Ada…
Kesabaran Prancis
Namun, di samping alasan-alasan yang bersumber dari Maroko sendiri, tidak adil jika tak menyebut bahwa Prancis memang dominan. Tim Ayam Jantan sukses menjaga determinasinya sepanjang 90 menit.
Ada momen di mana mereka mentok membobol gawang Maroko, persisnya di babak pertama. Peluang sundulan bek Dayot Upamecano, tendangan mendatar Desire Doue dari luar kotak penalti, tendangan jarak jauh bek kiri Lucas Digne (Aston Villa) yang menerpa tiang gawang, dan tentu penalti Mbappe, semuanya tidak berujung gol.
Pada awal-awal babak kedua pun, Prancis masih belum berhasil menembus gawang Maroko. Meskipun begitu, alih-alih frustasi, tim Ayam Jantan dengan sabar terus mengalirkan serangan, tidak mudah kehilangan bola, lebih intens menusuk ke kotak penalti.
Adalah Michael Olise yang konsisten mengatur serangan Prancis. Ia telaten menyuplai bola kepada Dembele di kanan dan Doue di kiri, juga kepada Mbappe yang bermain cair di depan. Andalan Bayern Munchen itu juga rajin menjemput bola agak ke tengah dari dobel pivot Adrien Rabiot dan Manu Kone yang solid.
Dan memang usaha jarang mengkhianati hasil. Utak-atik bola Prancis menemukan jalannya ketika Mbappe dengan cerdik mem-placing bola di antara bek Maroko pada menit 60. Gol.
Unggul satu gol tentu belum aman. Prancis segera meningkatkan intensitas yang membuat Maroko tak sempat memulihkan diri.
Enam menit setelah gol Mbappe, datanglah gol Dembele. Menyambut bola agak ke tengah, Dembele menempatkan bola di pojok kiri gawang Yassine Bounou pada menit 66.
Gol tersebut hasil dari padunya Mbappe dan Dembele, dua bintang paling bersinar Prancis saat ini. Alih-alih berebut pengaruh, keduanya saling melengkapi.
Dalam wawancara dengan jurnalis seusai pertandingan, Dembele menyebut bahwa Mbappe-lah yang memintanya bergerak agak ke tengah sebelum golnya tercipta. Dan benar, ketika Mbappe berlari ke depan dan menarik perhatian satu bek Maroko, pemain terbaik dunia 2025 itu mendapat ruang untuk menembak bola.
Sisanya tentang mempertahankan keunggulan. Beberapa pertukaran pemain oleh pelatih Didier Deschamps, selain masuknya striker Jean-Philippe Mateta untuk menggantikan Mbappe yang terganggu kakinya, adalah untuk memperkuat sektor tengah dan belakang.
Baca juga: Pelajaran dari Tersingkirnya Jerman dan Belanda
Menanti Konsistensi Prancis
Melihat permainan saat menyisihkan Maroko, para pendukung Prancis tentu menantikan konsistensi Mbappe dan Kawan-kawan. Di babak semifinal, tim Ayam Jantang menunggu pemenang antara Spanyol versus Belgia.
Jika akhirnya berjumpa Belgia, rasanya Prancis masih akan dominan, walaupun Belgia, dengan sisa-sisa generasi emasnya, bisa saja memberikan perlawanan sengit.
Namun, apabila berjumpa Spanyol, dominasi Prancis akan berhadapan dengan uletnya barisan tengah tim Matador. Gelandang jangkar Rodri serta Pedri dan Dani Olmo yang mengapitnya bersiap membendung gelombang serangan Michael Olise.
Sekaligus mereka akan bertransisi dengan cepat, mengalirkan bola ke Lamine Yamal dan Alex Baena di sayap serta Mikel Oyarzabal, pencetak gol terbanyak Spanyol sejauh ini.
Sementara Ousmane Dembele dan Desire Doue, sayap-sayap Prancis, akan bersobok dengan bek Spanyol yang disiplin: Marc Cucurella di kiri dan Pedro Porro di kanan.
Menarik pula bagaimana duet bek tengah Spanyol Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi menghentikan Kylian Mbappe, pemuncak top skor piala dunia dengan delapan gol, unggul jumlah assist dari Lionel Messi, tiga berbanding satu. (*)