TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) Bener yang berlokasi di Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, ditargetkan mulai beroperasi penuh pada November 2026 mendatang.
Realisasi UPPO merupakan bagian dari upaya Pemkot Yogyakarta untuk mengubah sampah organik menjadi pupuk, sekaligus memperkuat ketahanan pangan perkotaan.
Menariknya, fasilitas ini tidak hanya fokus pada tata kelola sampah, namun dikembangkan menjadi area pertanian terpadu yang menyasar kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum lansia.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sukidi, menjelaskan, fokus pembangunan UPPO di tahun pertama adalah merampungkan infrastruktur dasar.
"Target tahun 2026 adalah pembangunan hanggar selesai, seluruh peralatan terpasang, kemudian pada November 2026 UPPO sudah mulai beroperasi," ujarnya, Jumat (10/7/26).
Setelah operasional di tahun ini berjalan stabil, Pemkot Yogyakarta bakal melanjutkan pengembangan kawasan pada kisaran 2027 mendatang.
Rencananya, akan ada penambahan sarana prasarana penunjang untuk menyatukan UPPO dengan konsep pertanian terpadu yang menyentuh masyarakat akar rumput.
"Manfaat dari integrated farming ini terutama untuk mempermudah akses pangan bagi lansia kurang mampu di Kota Yogyakarta. Selain itu, program ini juga diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja," jelasnya.
Terkait pasokan bahan baku, Sukidi memastikan UPPO Bener akan memanfaatkan limbah hijau yang bersumber dari aktivitas pemeliharaan ruang publik.
Antara lain, dedaunan yang disapu dari ruas-ruas jalan, hingga ranting hasil pemangkasan pohon, baik milik masyarakat maupun pemerintah.
"Kalau bahan untuk UPPO berasal dari daun sapuan jalan dan hasil pruning. Yang dari masyarakat nanti pengambilan melalui penggerobak atau off taker yang dikelola DLH," katanya.
Pada fase awal operasional, pupuk organik yang diproduksi akan dialokasikan untuk menyuplai kebutuhan kebun-kebun milik Pemkot, menyokong gerakan penghijauan kota, serta didistribusikan kepada kelompok tani lokal.
Namun, jika produktivitasnya sudah konsisten, ia tidak menutup kemungkinan untuk mengomersialkan pupuk tersebut secara luas kepada masyarakat umum.
"Harapannya, setelah produksi stabil, paling cepat pada 2027 pupuk organik hasil UPPO sudah bisa diperjualbelikan sehingga dapat memberikan nilai tambah sekaligus menjadi salah satu sumber PAD," tutur Sukidi.
Untuk kapasitas tampung, pada tahap awal UPPO Bener diproyeksikan mampu mengolah sekitar lima ton sampah organik saban harinya.
Melalui rentetan proses mulai dari pencacahan, fermentasi, hingga penyusutan kadar air, estimasi hasil akhirnya mampu menelurkan sekitar tiga hingga empat ton pupuk organik siap pakai.
Guna menggenjot efisiensi waktu produksi, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta sengaja memilih mesin sawdust ketimbang mesin chopper biasa.
Mesin ini dinilai mampu menghasilkan cacahan yang jauh lebih halus, sehingga mempercepat kerja mikroorganisme saat proses fermentasi.
Sementara, Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Eni Sulistyowati, memaparkan bahwa pengerjaan fisik kini sudah memasuki tahap penyelesaian.
Pekerjaan tersebut mencakup pembangunan hanggar seluas kurang lebih 200 meter persegi, pengerasan akses jalan, hingga pembuatan talud.
"Setelah pembangunan selesai, kami akan melengkapi sarana dan prasarana pengolahan melalui anggaran perubahan. Setelah alat tersedia, insyaallah UPPO sudah bisa langsung beroperasi," ujarnya. (aka)