BANGKAPOS.COM – Sosok pria di balik foto keluarga rumah mewah di Sentul, Bogor, Jawa Barat yang didalamnya tersembunyi 74 kg emas batangan dan uang ratusan miliaran disita dan menjadi barang bukti.
Pajangan foto keluarga di rumah mewah di Sentul yang digeledah dan mengungkap brankas berisi 74 kg emas batangan dan uang ratusan miliar yang tersembunyi di balik dinding menjadi perbincangan publik.
Foto-foto yang sempat dipajang tersebut langsung diamankan penyidik.
Tak hanya itu pengamanan barang bukti bersama dokumen penting dan telepon seluler dari dalam rumah.
Pajangan foto ini pun menjadi pusat perhatian yang tampak memperlihatkan seorang pria, seorang wanita, serta tiga anak yang berpose layaknya foto keluarga di studio.
Baca juga: Profil dan Harta Kekayaan Febrie Adriansyah Jampidsus yang Rumahnya Dijaga Ketat Aparat TNI
Bingkai foto berwarna perak itu diketahui dipajang di ruang tamu, tepat di atas sofa rumah mewah di Sentul.
Hingga kini, identitas perempuan yang terdapat dalam foto tersebut masih belum diungkapkan kepada publik.
Sementara itu, sosok pria dewasa dalam foto disebut-sebut berkaitan dengan pemilik rumah yang tengah menjadi sorotan.
Kortas Tipidkor Polri Irjen Pol Totok Suharyanto mengatakan pihak yang ada dalam foto diduga merupakan pemilik rumah dan barang berharga yang ditemukan dalam brankas.
"Kita juga melakukan penyitaan dokumen termasuk handphone, beberapa foto keluarga diduga pemilik rumah dan pemilik barang dalam brankas. Selanjutnya barang bukti akan kita lakukan penyitaan," katanya.
Lelaki pada foto diduga merupakan Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah.
Namun begitu, Totok belum dapat memastikan kebenaran sosoknya.
"Saat ini masih didalami, mohon waktu," katanya.
Sementara itu, Kepala Kortas Tipidkor Polri Irjen Pol Totok Suharyanto menyatakan foto-foto tersebut diduga merupakan dokumentasi keluarga pemilik rumah sekaligus pihak yang memiliki barang berharga di dalam brankas.
Karena dinilai memiliki keterkaitan dengan proses penyidikan, seluruh foto tersebut turut disita sebagai barang bukti.
Di sisi lain, beredar dugaan bahwa pria yang terlihat dalam salah satu foto merupakan Jampidsus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Namun, hingga saat ini, aparat penegak hukum belum memberikan keterangan resmi mengenai identitas pihak-pihak yang terdapat dalam foto tersebut.
Adapun dalam penggeledahan polisi menemukan brankas terkunci yang tersembunyi di dinding kamar lantai dua.
Brankas menyimpan koper berisi emas batangan dan uang.
Totok merinci dalam koper berisi 74 kilo emas batangan, 4.767.300 dollar Amerika Serikat (USD), 14.083.800 dollar Singapura (SGD), dan uang Rp 100 juta.
"Estimasi total dalam rupiah Rp 476 miliar," kata Totok.
Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI, Febrie Adriansyah, memberikan klarifikasi terkait isu penggeledahan rumah dan temuan sejumlah uang serta emas.
Tim gabungan Kortas Tipidkor Polri bersama Polda Metro Jaya telah menggeledah 13 lokasi dalam kasus dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Rekam Jejak Jampidsus Febrie Adriansyah Rumahnya Dijaga Ketat TNI, Tangani Kasus Korupsi Kelas Kakap
Penggeledahan itu dilakukan atas dasar penyidikan terhadap sejumlah perkara yakni dugaan korupsi PLN batu bara, PT Asabri, dan Krakatau Steel.
Jampidsus Febrie Adriansyah mengakui jika rumah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, adalah miliknya.
"Tentang rumah Sentul itu memang rumah pribadi Jampidsus yang sudah sejak lama. Itu bisa dilihat bagaimana proses kepemilikan sejak awal," ungkap Febrie Adriansyah dalam konferensi pers, Jumat (10/7/2026).
Dirangkum Tribunnews.com, berikut fakta-fakta rumah Jampidsus Febrie Adriansyah di Sentul tersebut.
Meski telah diakui kepemilikannya oleh Febrie Adriansyah, rumah mewah di kawasan Sentul tersebut ternyata tidak tercatat dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) periode 2025 yang dilaporkan ke KPK pada 7 Maret 2026.
Febrie diketahui hanya melaporkan lima kepemilikan tanah dan bangunan yang berlokasi di Jakarta Selatan, Tangerang Selatan dan Bandung, Jawa Barat.
Rinciannya yakni tanah dan bangunan seluas 220 m2/180 m2 di Jakarta Selatan senilai Rp2,3 miliar.
Kemudian, tanah seluas 652 m2 dan 704 m2 di Tangerang Selatan dengan masing-masing senilai Rp597 juta dan Rp644 juta.
Lalu, tanah seluas 2.301 m2 di Bandung senilai Rp473 juta serta tanah dan bangunan seluas 638 m2/200 m2 di Jakarta Selatan senilai Rp10,8 miliar.
Tim gabungan Polri menyita emas batangan hingga uang senilai Rp476 miliar saat menggeledah sebuah rumah di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat.
Baca juga: Penampakan 74 Kg Emas dan Uang dalam 7 Koper Disita Polisi dari Rumah di Sentul, Total Rp476 Miliar
Kakortas Tipidkor Polri, Irjen Totok Suharyanto, mengatakan penggeledahan tepatnya dilakukan di rumah yang beralamatkan di Parahyangan Golf 2 nomor 2, Bogor, Jawa Barat.
"Ditemukan brankas terkunci, setelah dibuka berisi tujuh koper. Yang pertama 74 kilogram emas batangan. Kemudian 4.767.300 USD. Kemudian 14.083.800 SGD. Kemudian Rp100 juta. Estimasi total dalam rupiah senilai Rp476 miliar," ungkap Totok kepada wartawan, Rabu.
Menurut Totok, pihaknya juga menyita sejumlah barang bukti lainnya seperti dokumen, ponsel hingga foto keluarga.
"Kemudian beberapa foto keluarga yang diduga pemilik rumah dan pemilik barang dalam brankas. Selanjutnya barang bukti akan kita lakukan penyitaan," jelasnya.
Penemuan di Sentul ini melengkapi rentetan hasil penggeledahan sebelumnya di Kafe de’Clan Signature, Cipete, Jakarta Selatan.
Di lantai dua kafe tersebut, polisi juga menyita sebuah brankas berisi tumpukan uang tunai rupiah serta mata uang asing berupa dolar Amerika Serikat dan dolar Singapura senilai total Rp60 miliar.
Tidak jauh dari lokasi kafe, penyidik juga menggeledah Koin Money Changer dan mengamankan barang bukti tambahan senilai Rp7,2 miliar.
Febrie Adriansyah membantah spekulasi yang beredar mengenai temuan emas dan uang di rumahnya yang berlokasi di Sentul.
Mengenai isu penyitaan sejumlah uang dan emas yang ramai dibahas dalam penggeledahan tersebut, Febrie memberikan penjelasan mengenai asal-usul dana itu.
Menurut Febrie, uang yang ditemukan di lokasi memiliki pemilik yang sah dan terkait dengan kegiatan yang jelas, bukan hasil dari tindak pidana korupsi.
"Dan mengenai uang kan sudah saya jelaskan yang ditemukan bahwa itu ada pemilik ya bahwa itu ada kegiatan, ada orang-orang juga terima kegiatan, itu bisa juga ditanya, kemudian juga ada berapa kegiatan bangunan yang bisa dicek, semua kami yakin dapat dipertanggungjawabkan dengan benar," kata Febrie, Jumat.
Meski demikian, Febrie menyatakan pembuktian dan penjelasan detail mengenai aset-aset tersebut tidak akan dibuka secara liar di ruang publik.
Pihaknya siap memberikan pertanggungjawaban seluruh data dan bukti tersebut melalui mekanisme dan forum resmi yang berlaku.
"Tetapi tentunya tidak melalui forum seperti ini. Melalui forum acara mungkin yang sudah sesuai prosedur," jelas Febrie.
Ketua RW setempat, Agung Hermawan, mengaku tidak mengenal sosok perempuan yang ada pada foto keluarga di rumah Sentul.
Agung juga mengaku tidak mengenal penghuni rumah yang menjadi warganya.
"Saya enggak kenal tadi sosoknya juga ada ibu-ibu fotonya, yang di tempat saya berdiri enggak ada foto-foto lain," ujarnya, Kamis (9/7/2026), dilansir TribunnewsBogor.com.
Baca juga: Histeris Keluarga Lihat Ayah Terbujur Kaku Berjibaku Selamatkan Tiga Anak Tenggelam di Pantai Matras
Ia menyebut pemilik rumah tidak melakukan sosialisasi dengan lingkungan sekitar, serta tak ada aktivitas yang menonjol.
"Warganya juga kurang bergaul dengan kami, jadi kita juga kurang informasi mengenai pemilik rumah. Sehari-harinya kosong, cuma hanya yang jaga aja," ungkapnya.
Agung mengatakan, pemilik rumah tidak melapor kepada pengurus lingkungan sehingga tidak ada data yang dimilikinya.
Padahal, kata dia, rumah tersebut sudah dibeli oleh pemilik saat ini sejak tahun 2010 lalu dan hingga kini identitasnya tak diketahui.
"Kami mewajibakan warga-warga untuk melapor kepada RT-nya terus ke RW-nya, ini belum pernah, tadi ketua RT juga lapor sama saya belum pernah dia (pemilik rumah) lapor," paparnya.
Pada Kamis (9/7/2026) siang, suasana sepi terlihat di kediaman Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.
Berdasarkan pantauan Tribunnews.com sekitar pukul 12.15 WIB siang, rumah Febrie Adriansyah yang terletak di Jalan Radio I Nomor 15, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini tak terlihat adanya penjagaan berarti yang dilakukan petugas aparat keamanan.
Situasi ini cenderung berbeda dibanding dengan kondisi yang tergambar pada Rabu (8/7/2026) malam.
Jika pada Rabu malam terdapat sejumlah anggota TNI berseragam lengkap berjaga di depan pintu gerbang rumah Febrie, hal itu tak terlihat pada Kamis siang.
Di depan pagar berwarna hitam yang berukuran cukup tinggi itu tampak kosong tak ada satu orang pun yang berjaga.
Sementara itu, di pos pengamanan terlihat sejumlah pria sedang duduk menghadap ke arah rumah Febrie.
Namun, belum diketahui apakah sejumlah pria tersebut merupakan petugas keamanan yang khusus menjaga rumah Febrie atau tidak.
Adapun Dirreskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Pol Victor D. Mackbon mengatakan penggeledahan dilakukan untuk melengkapi alat bukti dalam penyidikan dua laporan polisi yang saat ini ditangani pihaknya.
Menurut Victor, laporan pertama berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dan/atau TPPU yang melibatkan oknum pegawai negeri atau penyelenggara negara dalam proses penanganan perkara PT Asabri (Persero) dan/atau Asuransi Jiwa Jiwasraya pada kurun waktu 2020 hingga 2025.
Laporan kedua berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi dan/atau TPPU dalam proses penyelesaian utang atau kewajiban PT CBS kepada PT KNI yang diduga melibatkan pegawai negeri atau penyelenggara negara pada periode yang sama.
Disisi lain, penggerebekan ini menjadi perbincangan publik.
Meskipun TNI telah membantah mengirimkan prajurit ke Polda Metro Jaya, publik menilai ada yang tidak beres dengan kondisi sekarang.
"Tidak benar TNI mendatangi Polda," kata Kapuspen TNI Brigjen Muhammad Nas saat dimintai konfirmasi, Kamis (9/7/2026).
Sejumlah spekulasi terkait kondisi ini mencuat di media sosial.
Diketahui, Polri telah menyita Rp 476 miliar dan 74 kilogram emas dari dugaan korupsi batu bara yang akibatkan blackout di Sumatera.
Terkait kedatangan sejumlah prajurit TNI ini diungkap Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso.
Sugeng mengatakan bahwa prajurit dikerahkan oleh dua perwira TNI berpangkat Brigadir Jenderal atau perwira TNI Bintang Satu.
Kata Sugeng, prajurit dikerahkan diduga untuk mengambil alih barang bukti yang disita Polisi.
"Kedatangan orang-orang yang diduga oknum TNI ini diinformasikan hendak mengambil secara paksa saksi-saksi dan barang bukti yang sedang diperiksa oleh Dirkrimsus Polda Metro Jaya pasca ditemukannya barang bukti sejumlah uang tunai dalam bentuk mata uang asing USD dan SGD serta emas batangan yang nilainya setara dengan Rp 541 miliar yang ditemukan dari 2 tempat yang digeledah yaitu di restoran de'Clan Jakarta Selatan dan di rumah yang berlokasi di Sentul Bogor," ujar Sugeng melalui keterangan resminya, Kamis (9/7/2026).
Sugeng menjelaskan, kedua lokasi yang digeledah oleh penyidik kepolisian tersebut diduga kuat milik seorang pejabat utama di lingkungan Kejaksaan Agung.
Ia meyakini pergerakan puluhan terduga aparat militer tersebut tidak didasarkan pada garis komando resmi.
"Indonesia Police Watch menduga oknum-oknum ini bertindak tidak atas perintah dari pimpinan yang resmi, tetapi tampaknya dimanfaatkan oleh pihak yang sedang saat ini sedang gerah digeledah beberapa tempatnya, dimanfaatkan oleh, diduga oleh pejabat utama yang ada di Kejaksaan Agung," tegas Sugeng.
Atas peristiwa ini, Sugeng mengingatkan bahwa perbuatan para oknum tersebut merupakan pelanggaran hukum berat.
Tindakan ini juga dinilai dapat mencoreng institusi TNI. "Selanjutnya, perlu disampaikan bahwa tindakan tersebut adalah tindakan perbuatan langsung yang bisa dikategorikan sebagai tindakan menghalangi proses penegakan hukum atau obstruction of justice," katanya.
Lebih lanjut, Sugeng mendesak Panglima TNI dan Polisi Militer (POM) TNI untuk segera turun tangan menindak oknum perwira tinggi maupun prajurit yang terlibat dalam insiden di Polda Metro Jaya.
"IPW mendesak Panglima TNI untuk menertibkan kesatuan-kesatuan yang ada di bawahnya serta menertibkan anggota-anggota yang menjadi oknum ini," ujar Sugeng.
Kakortas Tipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto sebelumnya menegaskan bahwa operasi penggeledahan ini terkait dugaan korupsi dan TPPU perkara PLN batu bara, PT Asabri, dan Krakatau Steel.
"Salah satu proses penyidikan, kita saat ini melaksanakan penggeledahan di beberapa tempat," ujar Totok.
(Tribunnews.com/Nuryanti/Igman Ibrahim/Abdi Ryanda Shakti/Reynas Abdila/Fahmi Ramadhan) (TribunnewsBogor.com/Sanjaya Ardhi) (Tribun Medan/Bangkapos.com)