TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Jumlah pendaki Gunung Raung melalui jalur klasik Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, naik hingga tiga kali lipat selama musim liburan 2026. Peningkatan kunjungan tersebut memberikan dampak ekonpmi pada masyarakat sekitar.
Pada akhir pekan biasa jumlah pendaki hanya mencapai puluhan orang, selama masa liburan jumlahnya meningkat menjadi ratusan orang. Para pendaki menempuh jalur menuju Gunung Raung yang memiliki ketinggian sekitar 3.332 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berada di wilayah perbatasan Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi, serta Jember.
Salah satu pengurus pengelola pendakian Gunung Raung, Kurniawan, mengatakan para pendaki tidak hanya berasal dari Bondowoso maupun daerah lain di Jawa, tetapi juga datang dari berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara.
"Paling jauh dari Indonesia itu empat orang dari Papua," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Cadas itu, pola pendakian yang dipilih wisatawan juga beragam. Sebagian memilih berkemah di kawasan gunung, sementara lainnya menggunakan sistem tek-tok, yakni mendaki dan turun pada hari yang sama tanpa bermalam.
Baca juga: Pesona Senja Glenmore Banyuwangi, Ngopi di Kaki Gunung Raung Sambil Nikmati Sunset
Kurniawan menjelaskan, mayoritas pendaki datang untuk menikmati panorama matahari terbit (sunrise) serta mengabadikan momen dengan latar Kaldera Gunung Raung yang menjadi salah satu daya tarik utama.
Selain itu, Gunung Raung juga dikenal sebagai salah satu puncak dalam daftar Seven Summits Pulau Jawa, sehingga menjadi destinasi favorit bagi para pecinta kegiatan pendakian.
"Termasuk salah satu Seven Summits-nya Jawa," katanya.
Baca juga: Pendakian Gunung Raung via Bondowoso Ditutup Mulai 24 Desember
Meningkatnya jumlah pendaki juga diimbangi dengan penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang lebih ketat. Langkah tersebut dilakukan karena tren pendakian kini turut menarik banyak pendaki pemula.
Pengelola mengatur jadwal pendakian, mewajibkan seluruh peserta mengikuti briefing sebelum berangkat, serta memastikan kondisi kesehatan setiap pendaki.
"Ketika briefing, kalau ada yang punya riwayat penyakit pribadi, mereka wajib membawa keperluan obat-obatan sesuai dengan penyakitnya tersebut," jelas Kurniawan.
Camat Sumberwringin, Probo Nugroho, mengungkapkan meningkatnya aktivitas pendakian membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar.
Salah satu sektor yang merasakan manfaatnya adalah jasa ojek motor yang mengantar pendaki menuju Pos Pondok Motor. Pada akhir pekan, seorang pengemudi ojek bahkan dapat memperoleh omzet hingga Rp 500 ribu per hari.
Selain itu, pendapatan masyarakat juga meningkat melalui jasa pemandu wisata (tour guide), penyewaan perlengkapan, hingga penginapan yang sebagian besar dikelola warga setempat.
"Sirkulasi ekonomi berjalan," ujarnya.
Probo berharap jalur pendakian Gunung Raung melalui Sumberwringin semakin diminati wisatawan dengan dukungan peningkatan fasilitas pendukung.
Ia juga mengapresiasi kegiatan bersih gunung yang rutin dilakukan Bumdes Raung Asri sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Di sisi lain, mengingat aktivitas vulkanik Gunung Raung yang dapat berubah sewaktu-waktu, ia mengingatkan seluruh calon pendaki agar selalu memperhatikan informasi resmi sebelum melakukan pendakian.
"Mengingat status aktivitas vulkanik yang fluktuatif, pastikan untuk selalu mematuhi arahan petugas pos pantau dan pihak berwenang sebelum merencanakan pendakian," tambahnya.