Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Sebanyak 171 kepala keluarga (KK) atau 513 jiwa di Dusun Cibeureum, Desa Cibadak, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, masih terdampak kekeringan akibat musim kemarau yang mulai dirasakan sejak akhir Mei 2026.
Pemerintah Desa Cibadak memastikan akan kembali mengajukan bantuan distribusi air bersih apabila pasokan yang telah disalurkan BPBD Kabupaten Ciamis mulai habis.
Sekretaris Desa Cibadak, Yuki Firmansyah mengatakan dampak kekeringan semakin meluas sejak pertengahan Juni.
Dari total 12 RT di Dusun Cibeureum, lima RT di RW 07 mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
"Awalnya warga mulai merasakan kekeringan sejak akhir Mei. Namun memasuki pertengahan Juni, jumlah warga yang terdampak semakin banyak hingga mencapai 171 KK atau sekitar 513 jiwa," ujar Yuki saat ditemui di Kantor Desa Cibadak, Jumat (10/7/2026).
Baca juga: Kekeringan Meluas di Banjarsari, BPBD Ciamis Salurkan Air Bersih untuk 171 KK
Baca juga: Garut, Pangandaran, dan Tasikmalaya Alami Krisis Air Bersih Akibat Kekeringan
Menurutnya, distribusi air bersih dari BPBD yang dilakukan beberapa hari lalu masih mencukupi kebutuhan warga untuk sementara waktu.
Namun, apabila musim kemarau terus berlanjut dan persediaan air kembali menipis, pemerintah desa akan segera berkoordinasi dengan BPBD untuk mengajukan bantuan lanjutan.
"BPBD sudah menyampaikan siap membantu lagi apabila masyarakat masih membutuhkan. Nanti kami akan melihat perkembangan di lapangan," katanya.
Selain mengandalkan BPBD, Pemerintah Desa Cibadak juga menggandeng berbagai unsur relawan kebencanaan yang ada di desa.
Yuki mengatakan, relawan dari berbagai organisasi pernah terlibat aktif saat kekeringan yang lebih parah terjadi pada 2024 dan diharapkan kembali membantu apabila kondisi semakin memburuk.
"Kami memiliki relawan tanggap bencana yang terdiri dari berbagai unsur ada dari Muhammadiyah, Persis dan organisasi lainnya. Mereka sebelumnya juga sangat membantu saat kekeringan pada 2024," ujarnya.
Untuk solusi jangka panjang, Pemdes Cibadak berharap pembangunan jaringan irigasi air tanah yang segera direalisasikan pemerintah dapat menjadi jawaban atas persoalan kekeringan yang hampir setiap tahun melanda wilayah tersebut.
Menurut Yuki, infrastruktur tersebut nantinya tidak hanya dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian, tetapi juga memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat saat musim kemarau.
"Kami berharap bantuan jaringan irigasi air tanah ini segera terealisasi sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian sekaligus air bersih warga," katanya.
Di sisi lain, keterbatasan anggaran desa menjadi kendala dalam penanganan bencana tahun ini.
Yuki menjelaskan, pemerintah desa tidak lagi memiliki keleluasaan mengalokasikan Dana Desa untuk penanggulangan bencana, termasuk kekeringan karena anggaran yang diterima jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun ini kami tidak bisa mengalokasikan anggaran khusus untuk penanganan kekeringan karena Dana Desa yang diterima tinggal sekitar 30 persen. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang masih memungkinkan untuk dianggarkan," jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat selama musim kemarau, tidak membakar sampah sembarangan karena rawan memicu kebakaran, serta saling membantu warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
"Kalau ada warga yang masih memiliki persediaan air, kami berharap bisa saling membantu tetangganya. Dengan begitu beban warga yang terdampak kekeringan bisa lebih ringan," ujarnya. (*)