TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Rencana pemerintah menambah hingga 70 ribu petugas lapangan kehutanan (forest ranger) mendapat dukungan dari kalangan pegiat konservasi.
WWF Indonesia menilai kebijakan yang dijalankan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni itu menjadi momentum penting untuk memperkuat perlindungan kawasan hutan sekaligus menyelamatkan habitat satwa liar Indonesia.
Ketua WWF Indonesia, Aditya Bayunanda, mengatakan penambahan forest ranger merupakan langkah yang telah lama dinantikan para pegiat konservasi karena selama ini jumlah penjaga hutan dinilai jauh dari memadai.
"WWF-Indonesia menyambut baik penambahan petugas lapangan kehutanan (forest ranger) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dan dilakukan pada era kepemimpinan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Penambahan forest ranger ini sudah sangat ditunggu-tunggu bagi kami yang bergerak di bidang konservasi alam," kata Aditya kepada wartawan, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, keterbatasan jumlah petugas selama ini membuat banyak kawasan hutan dengan nilai konservasi tinggi rentan terhadap perambahan, pembalakan liar (illegal logging), hingga perburuan satwa dilindungi.
Dia mencontohkan kondisi di Aceh, di mana sekitar 3,5 juta hektare kawasan hutan hanya diawasi 32 orang ranger.
"Angka ini sangat tidak rasional. Satu orang ranger idealnya mengawasi paling tinggi 1.000 hektare," ujarnya.
Aditya menilai penambahan personel menjadi sekitar 70 ribu orang akan membuka peluang lebih besar untuk menjaga sekitar 125 juta hektare kawasan hutan Indonesia yang menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik.
Namun, ia mengingatkan keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel.
"Penambahan menjadi 70.000 personel ini menjadi harapan bagi Indonesia untuk menjaga 125 juta kawasan hutan di Indonesia, sekaligus menyelamatkan satwa endemik Indonesia yang ada di dalamnya. Namun demikian, aspek kualitas (mental model, skill, dan lain-lain), sumber daya operasionalnya, kesejahteraan, dan jaminan keselamatan kerja juga harus ditingkatkan seiring peningkatan jumlahnya," jelasnya.
Menurut WWF Indonesia, penguatan kapasitas ranger harus dibarengi penyediaan perlengkapan patroli, sarana mobilitas, teknologi pemantauan kawasan, hingga perlindungan keselamatan kerja agar pengawasan hutan dapat berjalan optimal.
WWF juga mendukung langkah Kementerian Kehutanan yang memulai penguatan petugas lapangan di 13 taman nasional yang menjadi proyek percontohan inovasi pembiayaan pengelolaan kawasan konservasi.
"Kami juga mendukung pernyataan Menteri Kehutanan untuk memulai peningkatan petugas lapangan pada 13 taman nasional yang menjadi pilot inovasi pembiayaan pengelolaan taman nasional," kata Aditya.
Bahkan, menurutnya, penambahan petugas lapangan layak dijadikan salah satu program prioritas (quick win) dalam Satgas Inovasi Pembiayaan Pengelolaan Taman Nasional.
Selain penambahan personel, WWF juga mendorong pemerintah melakukan revitalisasi pendidikan bagi forest ranger melalui penguatan kembali Nature Conservation School guna meningkatkan kompetensi petugas di lapangan.
"Dari sisi pembinaan, kami juga mendukung revitalisasi kurikulum pendidikan ranger. Selain berdampak langsung terhadap kelestarian ekosistem hutan, hal ini juga akan meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata internasional dalam pengelolaan hutan, khususnya kawasan konservasi," ujarnya.
Menurut WWF Indonesia, kombinasi antara penambahan jumlah ranger, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dukungan sarana operasional, serta tata kelola kawasan konservasi yang lebih kuat akan menjadi modal penting bagi Indonesia menghadapi ancaman perambahan hutan, pembalakan liar, dan perburuan satwa dilindungi. (*)