Oleh: Prima Trisna Aji
Dosen Prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang.
"Dok, saya sudah bertanya ke AI semalam. Katanya kemungkinan hanya asam lambung."
POS-KUPANG.COM - Kalimat di atas diucapkan seorang pasien yang datang ke instalasi gawat darurat setelah dua hari mengalami nyeri dada.
Ia tidak segera mencari pertolongan medis karena lebih dulu berkonsultasi dengan aplikasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Jawaban AI membuatnya yakin bahwa keluhannya hanya gangguan lambung.
Namun, setelah diperiksa di rumah sakit, dokter memastikan ia mengalami sindrom koroner akut yang membutuhkan penanganan segera. Beberapa jam keterlambatan saja dapat berakibat fatal.
Baca juga: Opini: Pajak, Subsidi, dan Keadilan bagi Warga
Pengalaman tersebut bukan lagi kasus yang langka. Semakin banyak pasien datang membawa hasil percakapan dengan AI sebelum berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
AI telah menjadi "dokter pertama" bagi sebagian masyarakat karena mampu menjawab pertanyaan dengan cepat, mudah dipahami, dan tersedia kapan saja.
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam pelayanan kesehatan. AI kini dimanfaatkan untuk membaca citra radiologi, membantu deteksi dini penyakit, menganalisis rekam medis, menyusun dokumentasi klinis, hingga mendukung pengambilan keputusan.
Di berbagai negara, teknologi ini berhasil mengurangi beban administratif sehingga dokter dan perawat memiliki lebih banyak waktu untuk melayani pasien.
Namun, laporan internasional tahun 2026 menunjukkan sisi lain dari perkembangan tersebut.
Walaupun AI meningkatkan efisiensi, banyak tenaga kesehatan mengaku belum memiliki pelatihan yang memadai mengenai penggunaan AI secara aman, etis, dan bertanggung jawab.
Di Indonesia, tantangannya lebih kompleks. Transformasi digital berlangsung cepat, tetapi literasi kesehatan masyarakat belum merata.
Tidak sedikit orang yang menganggap jawaban AI sebagai diagnosis pasti, sehingga menunda pemeriksaan atau justru mengalami kecemasan yang tidak perlu.
Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi, "Apakah AI akan menggantikan dokter?"
Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah di tengah kecanggihan teknologi kita sedang kehilangan empati?
Pelayanan kesehatan sejak awal tidak hanya berbicara tentang diagnosis dan terapi. Di balik setiap hasil pemeriksaan ada manusia yang datang dengan rasa takut, cemas, dan harapan.
Mereka tidak hanya membutuhkan jawaban ilmiah, tetapi juga ingin didengar, dipahami, dan didampingi.
Empati menjadi jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kemanusiaan. Tanpa empati, pelayanan kesehatan hanya menjadi proses teknis yang dingin.
Ironisnya, perkembangan teknologi justru menghadirkan paradoks. Ketika dokumentasi elektronik, layar komputer, dan algoritma semakin mendominasi ruang praktik, waktu untuk membangun hubungan terapeutik semakin berkurang.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa komunikasi empatik meningkatkan kepatuhan berobat, kepuasan pasien, kualitas hidup, bahkan luaran klinis pada berbagai penyakit kronis.
Kemajuan AI memang mengagumkan. Penelitian tahun 2026 menunjukkan bahwa pada komunikasi berbasis teks, chatbot sering memperoleh skor empati yang tinggi.
Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa penilaian tersebut hanya mencerminkan kualitas bahasa, bukan empati klinis yang sesungguhnya.
Empati tidak hanya lahir dari kata-kata, tetapi juga dari kemampuan membaca ekspresi wajah, bahasa tubuh, nilai yang dianut pasien, hingga pertimbangan moral dalam mengambil keputusan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia. AI bekerja berdasarkan pola dan probabilitas.
Sebaliknya, tenaga kesehatan bekerja dengan ilmu pengetahuan yang diperkaya pengalaman, intuisi klinis, tanggung jawab etik, dan empati.
AI mampu menghitung risiko penyakit dalam hitungan detik, tetapi tidak dapat menggenggam tangan pasien yang sedang menangis atau menenangkan keluarga yang baru menerima kabar buruk.
Filosofi William Osler tetap relevan hingga kini: "The good physician treats the disease; the great physician treats the patient who has the disease."
Penyakit memang dapat dianalisis oleh mesin, tetapi manusia yang sedang menderita tetap membutuhkan manusia lain untuk memahami rasa takut dan harapannya.
Bagi profesi keperawatan, empati bahkan merupakan bagian dari intervensi berbasis bukti.
Hubungan terapeutik terbukti meningkatkan kepatuhan pengobatan, keterlibatan pasien dalam pengambilan keputusan, serta kualitas pelayanan.
Karena itu, ancaman terbesar AI bukanlah hilangnya profesi dokter atau perawat, melainkan ketika pelayanan kesehatan menjadi semakin efisien tetapi kehilangan sentuhan kemanusiaannya.
Masa depan pelayanan kesehatan tidak boleh dibangun dengan memilih antara manusia atau mesin, melainkan melalui kolaborasi keduanya. AI harus diposisikan sebagai mitra klinis, bukan pengganti tenaga kesehatan. Untuk itu, sedikitnya ada lima langkah yang perlu dilakukan.
Pertama, pemerintah perlu mempercepat regulasi AI di bidang kesehatan yang mengatur keamanan data, transparansi algoritma, validasi klinis, dan akuntabilitas.
Kedua, rumah sakit harus menerapkan konsep Human-Centered AI, yakni memanfaatkan teknologi untuk memperluas interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien, bukan sekadar meningkatkan efisiensi.
Ketiga, institusi pendidikan perlu memperkuat literasi AI, etika digital, dan komunikasi terapeutik agar lulusan siap menghadapi era baru pelayanan kesehatan.
Keempat, organisasi profesi harus menyusun pedoman penggunaan AI yang menegaskan bahwa keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga kesehatan.
Kelima, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital agar AI dimanfaatkan sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai pengganti konsultasi medis.
Pada akhirnya, revolusi AI tidak sedang mempertandingkan manusia melawan mesin. Yang dipertaruhkan adalah wajah pelayanan kesehatan di masa depan: apakah akan menjadi semakin cepat tetapi terasa dingin, atau semakin canggih sekaligus semakin manusiawi.
Pasien mungkin akan melupakan aplikasi yang pertama kali menjelaskan penyakitnya.
Namun, mereka hampir selalu mengingat dokter yang mendengarkan tanpa tergesa-gesa, perawat yang tetap menggenggam tangan ketika rasa takut memuncak, dan tenaga kesehatan yang hadir bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga harapan.
AI mungkin akan menjadi otak baru dalam pelayanan kesehatan. Namun, empati akan selalu menjadi jantungnya.
Selama jantung itu tetap berdetak, teknologi tidak akan pernah mengurangi kemanusiaan kitajustru akan memperkuatnya. (*)