Langkah Terbaik Hadapi Kemarau di Kalsel, Pengamat: Lindungi Daerah Tangkapan Air
Ratino Taufik July 11, 2026 07:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Penurunan kualitas air baku yang mulai dirasakan saat musim kemarau di Kalimantan Selatan tak semata-mata dipengaruhi berkurangnya curah hujan.

Pengamat lingkungan dari Universitas Lambung Mangkurat, Akbar Rahman menyebut kondisi itu juga dipengaruhi tekanan terhadap ekosistem lahan basah, daerah aliran sungai (DAS), hingga kawasan hulu.

Menurut Akbar, secara ekologis Kalsel memiliki karakteristik yang bergantung pada sistem sungai, rawa, dan lahan gambut sebagai sumber air baku.

Saat kemarau, debit sungai menurun sehingga kemampuan sungai mengencerkan limbah domestik, limbah industri, maupun sedimen ikut berkurang. “Akibatnya, konsentrasi pencemar menjadi lebih tinggi sehingga kualitas air menurun. Persoalan ini bukan hanya disebabkan berkurangnya hujan, tetapi juga kondisi ekosistem lahan basah yang semakin tertekan,” ujarnya, Kamis (9/7).

Ia menjelaskan, peningkatan suhu air selama musim kemarau juga mempercepat pertumbuhan mikroorganisme. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas air baku.

Akbar menilai, alih fungsi kawasan hulu dan daerah tangkapan air turut memperburuk kondisi tersebut. Kawasan yang semula berfungsi menyimpan air hujan kini banyak berubah menjadi permukiman, pertambangan, perkebunan, maupun lahan terbuka.

Baca juga: Empat Calon Kepala Desa Desa Jambu Burung Resmi Kantongi Nomor Urut

Akibatnya, kemampuan tanah menyerap dan menyimpan air menurun. Saat musim hujan air lebih banyak menjadi limpasan, sedangkan pada musim kemarau sungai kehilangan pasokan air sehingga debit air baku ikut berkurang.

Fenomena intrusi air laut yang semakin masuk ke badan sungai juga dinilai tidak hanya dipengaruhi faktor alam. Rendahnya debit sungai saat kemarau membuat air laut lebih mudah bergerak ke arah hulu, sementara kerusakan mangrove, perubahan kawasan muara, dan berkurangnya aliran air tawar dari hulu turut memperparah kondisi tersebut.

Di sisi lain, ia menilai infrastruktur ketahanan air di Kalsel masih perlu diperkuat. Akbar mengatakan pembangunan embung, waduk, reservoir, hingga sistem pemanenan air hujan perlu diperluas sebagai sumber cadangan saat musim kemarau. Ketahanan air, menurutnya, tidak cukup bergantung pada satu sumber, tapi juga harus didukung sistem penyimpanan air yang memadai.

Ia juga menyoroti penanganan pemerintah yang selama ini lebih banyak dilakukan saat kondisi darurat, seperti distribusi air bersih menggunakan mobil tangki. Langkah tersebut menurutnya penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak, namun belum menyentuh upaya pencegahan.

“Yang lebih dibutuhkan adalah perlindungan daerah tangkapan air, rehabilitasi hutan dan gambut, pembangunan infrastruktur penyimpanan air, serta pengendalian alih fungsi lahan. Pencegahan memang membutuhkan waktu lebih lama, tetapi lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi,” ujarnya. (banjarmasinpost.co.id/muhammad saiful riki)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.