UMKM RI Dinilai Tangguh Hadapi Serbuan Masif Produk China Pasca Pandemi
Seno Tri Sulistiyono July 11, 2026 11:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Produk murah asal China dan dampaknya bagi produsen Indonesia dan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam negeri masih menjadi topik yang mengundang antusiasme masyarakat negeri kita. 

Sejak berangsur pulih dari pandemi Covid-19, pasar Indonesia dibanjiri oleh produk-produk dengan harga murah dari RRC yang menerobos rantai pasok terakhir di jalur perdagangan, yaitu para pembeli eceran. 

Hal ini sempat memukul Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Keluhan para pegiat UMKM akibat masuknya produk dengan harga murah dari China seperti produk tekstil ramai di 2023 disusul sepinya pusat perbelanjaan Tanah Abang, sebuah pusat grosir terbesar di Indonesia. 

Baca juga: HPI Dorong Inovasi Polimer untuk Tekan Ketergantungan Bahan Baku Impor

Maraknya promosi di marketplace diduga juga menjadi penyebab dari turunnya omzet pedagang pedagang kecil dan menengah di pasar tradisional hingga mal. 

Pemerhati China sekaligus dosen tetap di Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Pelita Harapan (UPH), Johanes Herlijanto berpendapat, meski ada anggapan bahwa barang-barang asal China yang dijual di TikTok melakukan praktik predatory pricing, hal tersebut belum bisa dibuktikan secara hukum. 

Namun dia sependapat bahwa barang-barang asal China itu memang dibandrol dengan harga sangat murah, dan bahkan sempat menjadi andalan UMKM Indonesia. 

Mengutip pendapat seorang pakar ekonomi asal Universitas Indonesia, Johanes menjelaskan bahwa pada awalnya, setidaknya dalam 10 tahun yang lalu, barang-barang dari China, bersama dengan hadirnya perdagangan elektronik, sangat membantu UMKM. 

“Para pedagang toko daring bisa mendapatkan barang yang murah untuk dijual,” kata Johanes dikutip Sabtu, 11 Juli 2026. 

Sementara itu, platform jual beli daring seperti TikTok Shop menjadi wahana bagi para pedagang untuk menemukan pembeli. Namun dalam perkembangan selanjutnya, pedagang asal luar negeri, termasuk China, dapat melakukan aktivitas menjual langsung melalui platform daring di atas. 

Hal inilah yang pada waktu itu menjadi keprihatinan bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah merespons keprihatinan itu dengan menerapkan regulasi yang membuat platform tersebut harus mengubah diri dan berkolaborasi dengan platform asal Indonesia.

Namun demikian, kolaborasi tersebut tidak menghapus fenomena masuknya barang berharga murah dari luar negeri, khususnya dari China. 

Meski sudah berlangsung dalam periode waktu yang panjang, fenomena banjir barang murah dari China makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat dari kelebihan kapasitas produksi (over capacity) yang terjadi di negara itu. 

Namun demikian, hasil sementara dari sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) memperlihatkan bahwa fenomena banjir barang dari Cina dan negara-negara asing lainnya tak lantas membuat para pelaku usaha UMKM putus asa. 

“Masuknya barang-barang dari China melalui platform perdagangan daring (e-commerce) tidak membuat pengusaha kecil dan menengah mati langkah,” kata Amore dalam seminar berjudul “Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform,” di Jakarta, 8 Juli 2026. 

Dia menilai, daya tahan pengusaha UMKM karena kedekatan akses dan relasi dengan jejaring lokal seperti dengan rantai pasok lokal (local supply change), penyedia jasa logistik, dan  menjadi faktor utama yang mendukung mereka untuk mengembangkan usaha dan berkompetisi secara sehat.

Karena itu dia menilai, upaya menjaga hubungan dengan para pembeli (consumer) di luar platform daring menjadi strategi yang sangat krusial.

Seminar yang diselenggarakan di Gedung SMESCO, Jakarta ini digagas oleh British Academy dan melibatkan UWE, Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) UPH, dan Kementerian UMKM. 

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, M. Riza Damanik, Ph.D menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan seminar dan penelitian di atas. 

“Penelitian ini perlu kita apresiasi karena sangat relevan dengan apa yang kita perlukan hari ini,” tutur Riza. Menurutnya, studi studi terhadap platform daring yang memusatkan perhatian pada pergeseran dan perubahan dalam aspek sosial dan budaya sangatlah jarang. 

“Biasanya, studi-studi mengenai platform daring berfokus pada bagaimana meningkatkan partisipasi UMKM untuk masuk dalam platform, atau bagaimana para pengguna platform bisa lebih produktif,” jelas Riza.  

Dia menjelaskan, pasca pandemi Covid 19 partisipasi UMKM di platform online tumbuh signifikan. 

Dia beranggapan bahwa sangat penting bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya, termasuk para pelaku UMKM, untuk memastikan agar pasar domestik Indonesia sehat, demi meningkatkan produktivitas. 

“Agar bisa sehat, perlu dibangun kebijakan yang baik untuk memastikan agar seluruh produk yang dihasilkan di Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” pungkas Riza.   

CEO SMESCO Indonesia, Doddy A. Matondang mengatakan, hasil sementara penelitian yang menekankan pada ketahanan UMKM Indonesia merupakan sebuah kebanggaan. 

Di tengah terpaan yang luar biasa oleh produk dari luar dan biaya layanan perdagangan daring (e-commerce) yang cukup tinggi, masih terdapat UMKM yang memiliki ketahanan yang luar biasa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.