Buku Tatah Diluncurkan: Rekonstruksi Sejarah Budaya dan Identitas Jepara
muslimah July 11, 2026 11:56 AM

Buku Tatah Diluncurkan: Rekonstruksi Sejarah Budaya dan Identitas Jepara

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Seni ukir melekat menjadi sebuah identitas khas dari Kabupaten Jepara. Di balik nama ukir, tersimpan sejarah panjang bagaimana Jepara tumbuh menjadi lebih besar melalui kerajinan ukir.

Bahkan, karya-karya ukir dari Bumi Kartini tidak hanya dikenal dan dipasarkan di dalam negeri saja. Melainkan lebih luas dari pasar domestik hingga merambah ke pasar industri global.

Puncak kejayaan seni ukir Jepara berlangsung pada abad ke-16 di bawah kepemimpinan Retno Kencono atau biasa akrab disapa Ratu Kalinyamat. Kala itu, ukiran-ukiran Jepara diakui dunia dengan mengedepankan keindahan dan kehalusan tatah. Bahkan karya ukir khas Jepara tembus di berbagai negara di penjuru dunia.

Bukti kejayaan seni ukir Jepara di panggung pasar global menjadi tantangan bagaimana regenerasi seniman ukir tetap terjaga.

Generasi muda diperkuat dan didorong sebagai penyabung estafet kesenian ukir agar tidak sirna tergerus zaman.

Satu di antara upaya yang dilakukan dengan peluncuran Buku Tatah oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon bersama Bupati Jepara, Witiarso Utomo, untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan seni ukir dari Kabupaten Jepara.

Lahirnya buku Tatah tidak sekadar launching sebuah buku saja, lebih dari itu sebuah upaya menempatkan seni ukir Jepara sebagai pusat peradaban budaya dunia.

Kini upaya tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Sebuah buku monumental berjudul "Tatah" representarasi suluk, sulur, dan Jepara diramu dalam sebuah tulisan. Buku tersebut sekaligus rekonstruksi Jepara melalui seni ukir yang diluncurkan, Jumat, (10/7/2026) di Ruang Teater Museum Nasional Indonesia (MNI), Jakarta.

Buku Tatah kini menjadi sebuah sarana pendidikan dan pembelajaran bagi generasi muda agar lebih mengenal seni ukir Jepara.

Launchingnya Buku Tatah dilakukan dalam kegiatan pameran seni ukir Tatah yang berlangsung di Museum Nasional Indonesia (MNI) dan telah menyedot lebih dari 53 ribu pengunjung. Pameran itu masih berlangsung hingga 2 Agustus 2026.

Buku Tatah sebagai instrumen baru menandai babak baru dalam menempatkan Jepara tidak hanya sekadar sentra industri ukir, juga pusat peradaban dengan nilai sejarah yang tinggi.

​Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengatakan, seni ukir Jepara adalah warisan leluhur yang menyimpan nilai artistik tinggi, juga potensi ekonomi kreatif yang besar.

Karya-karya hebat industri mebel dari para pengukir di Bumi Kartini menjadi bagian dari perkembangan industri global yang mampu menempatkan ukir dikenal di manacanegara.

Kata dia, seni ukir Jepara juga menyimpan nilai artistik sebagai ekspresi budaya Indonesia.

Dengan kehadiran buku Tatah, diharapkan memiliki nilai strategis yang kuat guna memperkuat literasi sejarah, sekaligus menawarkan perspektif baru tentang masa depan Jepara sebagai pusat seni ukir dunia.

"Di tengah kekhawatiran menyusutnya generasi muda yang menekuni seni ukir, Kementerian Kebudayaan berkomitmen melakukan langkah konkret lewat pelatihan bersama maestro ukir dan pengembangan sekolah lokakarya," terangnya.

​Tak hanya itu, Fadli Zon menegaskan, Pemerintah Pusat juga memastikan terus mengawal penguatan mekanisme perlindungan tradisi ini di kancah internasional.

Juga mengupayakan terkait pengakuan seni ukir Jepara sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

"Buku Tatah ini menjadi ikhtiar intelektual untuk merekam perjalanan sejarah seni ukir Jepara, sekaligus memperkuat upaya pelestarian, pengembangan dan pemanfaatannya," tutur Menbud, Fadli Zon.

​Lahirnya buku Tatah memberikan cara pandang baru dalam membaca sejarah Jepara, khususnya berbasis kesenian ukir yang berkembang dari zaman ke zaman.

Ukir Jepara menyimpan sejarah panjang lebih dari 500 tahun sejak dikenalkan kepada masyarakat Jepara pada abad ke-15.

Sejarah ukir juga bagian dari lahirnya Kabupaten Jepara dengan segala potensi yang ada. Bahkan Jepara menyulap diri sebagai daerah pesisir asal Indonesia yang dikenal oleh berbagai negara di belahan dunia lewat karya-karya ukir.

Satu di antara penulis Buku Tatah, Dr. Arif Akhyat menyampaikan, seni ukir direkonstruksi ulang melalui penelusuran artefak dan arsip yang belum banyak dikaji dalam historiografi nasional.

Dengan itu, lahirnya Buku Tatah diharapkan mampu mengajak masyarakat agar melihat seni ukir sebagai bagian dari sejarah, budaya, dan identitas Jepara yang terus berkembang.

Direktur Tatah, Veronica Rompies menyebut, peluncuran buku Tatah diharapkan memantik ruang diskusi dan riset yang lebih luas.

Khususnya dalam memperhatikan nasib para pengukir sebagai penjaga pengetahuan dan tradisi penopang keberlangsungan warisan budaya.

Seni ukir Jepara diharapkan semakin kokoh berdiri sebagai identitas bangsa yang dipromosikan di panggung internasional.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo menyambut baik peluncuran buku Tatah sebagai instrumen penting bagi pemerintah daerah Kabupaten Jepara.

Buku ini, lanjut dia, bagian dari strategi memperkenalkan sejarah seni ukir kepada generasi muda, agar identitas budaya daerah tidak tergerus arus modernisasi.

​Tingginya antusiasme kunjungan pameran Tatah yang berlangaung sejak April 2026, Mas Wiwit optimistis seni ukir Jepara punya daya tarik yang luar biasa jika dikelola dengan tepat.

​Di mana tantangan utama yang dihadapi Jepara bukan lagi sekadar menjaga tradisi secara pasif, melainkan bagaimana mengemas seni ukir sebagai sebuah sejarah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman, juga mampu menarik minat generasi muda.

"Kami berharap melalui buku ini anak-anak muda semakin memahami sejarah seni ukir Jepara, sehingga warisan budaya ini terus hidup dan berkembang," harap dia. (Sam)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.