TRIBUNNEWS.COM - Berakhirnya langkah Kolombia di Piala Dunia 2026 ternyata tak memutus nestapa yang dialami salah satu pemainnya.
Penggawa Timnas Kolombia, Jaminton Campaz, mendapatkan ancaman pembunuhan setelah berjuang mati-matian di Piala Dunia 2026.
Ancaman tersebut timbul setelah ia dianggap melakukan kesalahan fatal yang berpotensi membuat Kolombia kalah dari Swiss lebih cepat.
Sebenarnya Campaz baru bermain ketika babak kedua berlangsung 21 menit, saat ia dimasukkan menggantikan Jhon Arias.
Pada menit kelima di babak perpanjangan waktu kedua, ia membuat umpan ke belakang atau back pass yang fatal.
Back pass tersebut menciptakan situasi satu lawan satu bagi pemain Swiss dengan penjaga gawang Kolombia.
Baca juga: Belgia Kandas dari Piala Dunia 2026 akibat Blunder, Rudi Garcia Tak Ada Penyesalan
Untungnya tembakan kaki kiri pemain lawan melenceng jauh dari gawang, sehingga menyia-nyiakan peluang untuk mencetak gol penentu kemenangan.
Sebenarnya Campaz sudah menebusnya dengan baik ketika ia maju sebagai salah satu algojo penendang penalti di fase adu sepakan 12 pas.
Ia menjadi penendang ketiga dan berhasil menjalankan tugasnya dengan baik.
Namun hal itu tak cukup baginya lolos dari beragam cercaan dan ancaman.
Sesaat setelah pertandingan berakhir, akun media sosial Campaz tidak hanya dibanjiri kritik atas penampilannya, tetapi juga ancaman pembunuhan yang ditujukan kepadanya dan keluarganya.
Pada akhirnya, ia menonaktifkan kolom komentar di akun media sosialnya.
Padahal kinerja ciamik Campaz di lini tengah setidaknya bisa meringankan beban yang ada di pundak Luis Diaz sebagai pemain terbaik Kolombia saat ini.
"Kalau dari Kolombia ya Luis Diaz, sentrisnya ini," kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Dikutip dari AP, Campaz benar-benar khawatir dengan keselamatan diri dan keluarganya.
Ia memilih tak pulang bersama rombongan Kolombia ke negara yang terletak di Amerika Selatan itu.
Campaz memilih pulang secara terpisah menggunakan penerbangan yang ia sewa sendiri.
Campaz mengungkapkan perasaannya melalui media sosial, disertai sebuah foto yang memperlihatkan dirinya duduk di lapangan dengan kepala tertunduk.
"Sebagai orang Kolombia, saya sangat memahami betapa besarnya kekecewaan akibat hasil ini. Saya dengan tulus meminta maaf karena tidak mampu menghadirkan kebahagiaan yang diharapkan semua orang," tulisnya di akun Instagram pribadinya.
"Sepak bola adalah olahraga yang mengajarkan kita untuk menghadapi masa-masa sulit bersama. Saya akan belajar dari pengalaman ini dan terus bekerja keras agar bisa kembali sebagai pemain yang lebih kuat."
"Tolong jangan sampai kita kehilangan rasa saling menghormati yang selama ini kita miliki. Kita mungkin memiliki pendapat yang berbeda serta merasakan frustrasi dan kesedihan."
"Namun, tidak ada gairah atau kecintaan terhadap sepak bola yang dapat membenarkan kebencian atau membuat seseorang hidup dalam ketakutan," sambungnya.
Keresahan yang dirasakan Campaz akibat ancaman tersebut mendapatkan respons dari Asosiasi Sepak Bola Kololmbia.
Federasi memberikan dukungan penuh kepada Campaz dan keluarga untuk bisa melalui peristiwa ini.
Mereka sekaligus meminta adanya pengusutan terhadap ancaman ini.
"Federasi menyampaikan dukungan penuh kepada Campaz beserta keluarganya, serta kepada tim nasional Kolombia," terang mereka.
"Kami meminta pihak berwenang yang berwenang melakukan penyelidikan agar segera mengidentifikasi para pelaku dan menjatuhkan hukuman kepada mereka sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," pungkasnya.
(Tribunnews.com/Guruh)