TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Pemandangan anak yang makan sambil menatap layar ponsel kini bukan lagi hal yang asing.
Demi membuat anak anteng dan menghabiskan makanan, sebagian orangtua memilih memberikan gadget sebagai pengalih perhatian.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, tersimpan dampak yang perlu diwaspadai terhadap perkembangan anak.
Sekilas cara ini memang terlihat praktis.
Baca juga: Video Satpam Viral Ditonton Jutaan Kali, Direktur RSJ Yaunin Padang Jelaskan Strategi Edukasi
Anak yang semula berlarian atau sulit diajak duduk akan langsung fokus menatap layar sambil membuka mulut ketika disuapi.
Namun, di balik kemudahan tersebut, kebiasaan memberi gadget saat makan ternyata menyimpan dampak yang tidak bisa dianggap sepele terhadap tumbuh kembang anak.
Mengutip Psikolog RSJ dr. Yaunin Padang, Ruri Handayani, S.Psi., M.Psi., dalam Podcast TribunPadang yang tayang Jumat (26/6/2026), waktu makan seharusnya menjadi momen bagi orangtua untuk membangun komunikasi dengan anak, bukan justru membiarkan mereka fokus pada layar ponsel.
"Orangtua zaman sekarang cenderung memilih cara yang instan. Anak diberi gadget supaya anteng saat makan. Padahal, kebiasaan itu membuat komunikasi antara anak dan orangtua menjadi berkurang," ujarnya dalam Podcast Tamu Kita TribunPadang.com.
Ruri menjelaskan, jika kondisi tersebut terus berlangsung, anak akan lebih terbiasa berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya.
Baca juga: Aksi Kocak Satpam RSJ Yaunin Padang Viral, Eko Sanjaya Kaget Kini Banyak yang Minta Foto
Lebih lanjut, Ruri menjelaskan bahwa kebiasaan makan sambil menonton video atau bermain gadget membuat anak kehilangan kesempatan belajar banyak hal.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dengan pola pengasuhan beberapa tahun lalu.
Dahulu, orangtua tetap berusaha menyuapi anak meski harus mengejar mereka yang sedang bermain di halaman rumah.
Walaupun membutuhkan tenaga dan kesabaran lebih, cara tersebut justru menghadirkan interaksi yang membantu perkembangan anak.
"Kalau dulu anak makan sambil berlari di halaman, orangtuanya mengejar sambil menyuapi. Sekarang justru banyak yang langsung memberikan gadget supaya anak diam. Akibatnya, komunikasi antara anak dan orangtua menjadi semakin sedikit," katanya.
Kebiasaan tersebut dikhawatirkan akan terus terbawa hingga anak memasuki usia sekolah.
Selain menghindari penggunaan gadget saat makan, Ruri juga mengingatkan pentingnya membatasi durasi screen time sesuai usia anak.
Menurutnya, masih banyak orangtua yang belum memahami bahwa penggunaan gadget pada anak memiliki batasan tertentu agar tidak mengganggu proses tumbuh kembang.
Ia menjelaskan, anak yang berusia di bawah tiga tahun sebaiknya belum diberikan screen time sama sekali.
Pada usia tersebut, anak lebih membutuhkan stimulasi melalui aktivitas bermain, berbicara, serta berinteraksi secara langsung dengan orang-orang di sekitarnya.
Sementara itu, bagi anak berusia tiga hingga lima tahun, penggunaan gadget tetap harus dibatasi.
Ruri menyarankan durasi screen time hanya sekitar 30 hingga 60 menit dalam sehari.
"Di usia di bawah tiga tahun belum boleh diberikan screen time. Kalau usia tiga sampai lima tahun, durasinya sekitar 30 sampai 60 menit. Yang paling penting adalah mengurangi interaksi anak dengan layar agar mereka lebih banyak berinteraksi langsung dengan lingkungan," jelasnya.
Pembatasan tersebut sangat penting mengingat usia balita merupakan masa emas perkembangan otak.
Pada periode ini, anak membutuhkan berbagai rangsangan melalui pengalaman nyata, bukan hanya dari tayangan di layar.
Di sisi lain, Ruri memahami bahwa tidak semua anak mampu duduk tenang saat makan.
Banyak anak yang aktif bergerak sehingga membuat orangtua memilih jalan pintas dengan memberikan gadget agar proses makan menjadi lebih mudah.
Padahal, menurutnya, kondisi tersebut masih bisa disiasati tanpa harus melibatkan gawai.
Salah satunya dengan mengajak anak makan di tempat yang memiliki area bermain atau ruang terbuka sehingga anak tetap memiliki kesempatan bergerak secara bebas.
Dengan cara itu, kebutuhan anak untuk beraktivitas tetap terpenuhi tanpa harus bergantung pada layar ponsel.
Aktivitas fisik juga dinilai mampu membantu perkembangan motorik, konsentrasi, hingga kemampuan bersosialisasi anak.
"Kalau anak memang aktif dan tidak bisa diam, cari tempat makan yang memiliki permainan langsung atau area outdoor. Anak tetap bisa bergerak sehingga perkembangannya terasah secara optimal," ujarnya.
Ruri juga mengingatkan bahwa perkembangan anak pada lima tahun pertama kehidupan sangat dipengaruhi oleh stimulasi yang diberikan orangtua.
Komunikasi yang terjalin saat makan, bermain, maupun beraktivitas sehari-hari menjadi bagian penting dalam membentuk kemampuan bahasa, emosi, hingga kesiapan anak memasuki jenjang pendidikan.
"Jangan berharap anak siap ke tahap perkembangan berikutnya atau siap masuk sekolah kalau stimulasi dasarnya tidak dikejar sejak dini," katanya.
Oleh karena itu, ia mengimbau para orangtua untuk mulai mengurangi kebiasaan memberikan gadget kepada anak, terutama saat makan.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti mengobrol, menyuapi sambil berinteraksi, hingga mengajak anak bermain secara langsung akan memberikan manfaat yang lebih besar bagi tumbuh kembang mereka dibandingkan membiarkan anak diam di depan layar. (MG/Aulia Ranti Putri)