Arti La adwa Wala Thiyarata Wala Hamata Wala Safara, Hadits Bulan Safar Bukan Bulan Sial, Hikmahnya
Lisma Noviani July 11, 2026 06:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM -- Kalimat La adwa Wa La Tiyarata Wa La Hamata Wa La Safara, merupakan hadits yang menjelaskan tentang bulan Safar bukanlah bulan sial.

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharam. Di tengah masyarakat masih berkembang anggapan bahwa Safar adalah bulan yang membawa kesialan atau waktu yang tidak baik untuk memulai suatu pekerjaan. 

Padahal, keyakinan tersebut berasal dari tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah dan telah diluruskan oleh Rasulullah SAW.

Berikut bunyi hadits selengkapnya.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

Teks Arab
لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ

Latin
La adwa Wa La Tiyarata Wa La Hamata Wa La Safara

Arti:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."

Hadis Lengkap (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ
Latin:

Lā 'adwā, wa lā ṭiyarata, wa lā hāmata, wa lā ṣafara.

Artinya:

"Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada burung hantu pembawa sial, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."

(HR. Bukhari No. 5707 dan Muslim No. 2220)

Makna Hadis

Hadis ini meluruskan keyakinan masyarakat Arab pada masa jahiliah yang mempercayai adanya kesialan pada bulan Safar, burung hantu, atau tanda-tanda tertentu.

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa semua peristiwa terjadi atas kehendak Allah SWT. Ini bukan berarti menolak adanya penularan penyakit secara sebab-akibat, karena dalam hadis lain Rasulullah ﷺ juga memerintahkan umat Islam untuk menghindari sumber penyakit dan tidak mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.

 Maksud hadis ini adalah tidak ada sesuatu yang dapat memberi manfaat atau mudarat dengan sendirinya tanpa izin Allah SWT, sehingga seorang Muslim dilarang meyakini takhayul, ramalan, atau menganggap bulan Safar sebagai bulan pembawa sial.

Hadis ini menjadi dasar bahwa Islam menolak keyakinan tentang adanya bulan yang membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT dan memiliki keberkahan apabila diisi dengan amal saleh.

Dikutip dari laman nu.or.id, Ulama Yaman, Habib Abu Bakar bin Ali al-'Adni, dalam kitab Mandzumah Syarh al-Atsar fi Ma Warada 'an Syahri Safar, menjelaskan bahwa Rasulullah SAW justru melakukan berbagai aktivitas penting pada bulan Safar sebagai bentuk penghapusan keyakinan jahiliah mengenai bulan tersebut.

Berikut sejumlah peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah Islam pada bulan Safar

1. Perang Al-Abwa atau Waddan, Ekspedisi Militer Pertama Rasulullah

Salah satu peristiwa bersejarah pada bulan Safar adalah Perang Al-Abwa (Waddan) yang terjadi pada tahun kedua Hijriah.

Ekspedisi ini merupakan operasi militer pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah. Tujuannya bukan untuk mencari peperangan, melainkan mengamankan jalur perdagangan Quraisy sekaligus menjalin perjanjian damai dengan Bani Dhamrah.

Dalam ekspedisi tersebut tidak terjadi pertempuran karena kedua belah pihak memilih berdamai.

Peristiwa ini banyak disebut dalam kitab-kitab sirah, di antaranya karya Ibnu Hisyam dan Ibnu Katsir.

2. Hijrah Rasulullah SAW Memasuki Tahap Penting

Sebagian ulama sirah menjelaskan bahwa rangkaian hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah berlangsung melintasi akhir bulan Safar hingga awal Rabiulawal.

Menurut mayoritas ahli sejarah, Rasulullah mulai meninggalkan Makkah pada penghujung bulan Safar tahun ke-14 kenabian sebelum akhirnya tiba di Madinah pada Rabiulawal.

Hijrah menjadi titik balik sejarah Islam karena menjadi awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah dan kelak dijadikan dasar penanggalan Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

3. Pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah Menurut Sebagian Riwayat

Sebagian ulama dan ahli sejarah menyebutkan akad nikah Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah terjadi pada bulan Safar.

Namun demikian, riwayat mengenai waktu pernikahan tersebut tidak tunggal. Sejumlah kitab sejarah menyebut bulan yang berbeda sehingga informasi ini masih menjadi perbedaan pendapat di kalangan sejarawan Muslim.

Yang pasti, pernikahan Rasulullah dengan Khadijah menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam karena dari keluarga inilah lahir putra-putri Nabi, termasuk Sayyidah Fatimah Az-Zahra.

4. Pernikahan Sayyidah Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib

Habib Abu Bakar al-'Adni juga menyebut bahwa Rasulullah SAW menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib pada bulan Safar.

Pernikahan dua tokoh mulia ini menjadi teladan tentang kesederhanaan, kasih sayang, dan kehidupan rumah tangga yang dipenuhi ketakwaan kepada Allah SWT.

Dari pasangan inilah lahir Hasan dan Husain yang kemudian menjadi cucu-cucu kesayangan Rasulullah SAW.

5. Pengiriman Pasukan Usamah bin Zaid

Menjelang wafatnya pada tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah SAW memerintahkan pembentukan pasukan di bawah komando Usamah bin Zaid untuk menuju wilayah perbatasan Romawi.

Meski usia Usamah masih sangat muda, Rasulullah mempercayainya memimpin pasukan besar kaum Muslimin. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan kesempatan kepada generasi muda yang memiliki kemampuan, integritas, dan amanah.

Ekspedisi tersebut kemudian tetap dilanjutkan pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq setelah Rasulullah wafat.

6. Bulan Safar Menjadi Bukti Tidak Ada Hari atau Bulan Sial

Pelajaran terbesar dari berbagai peristiwa di bulan Safar bukan sekadar mengetahui sejarahnya, melainkan memahami bahwa Rasulullah SAW sengaja menghapus keyakinan jahiliah tentang adanya bulan sial.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menjelaskan bahwa Islam mengajarkan seorang Muslim bertawakal kepada Allah SWT dan tidak menggantungkan nasib kepada waktu, hari, atau bulan tertentu.

Hal senada dijelaskan oleh para ulama bahwa semua hari dan bulan adalah ciptaan Allah SWT. Yang menentukan baik atau buruknya suatu urusan adalah iman, ikhtiar, doa, dan ketetapan Allah, bukan waktu pelaksanaannya.

Hikmah Bulan Safar bagi Umat Islam

Ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah bulan Safar, antara lain:

Tidak mempercayai mitos tentang bulan sial.
Meneladani keberanian Rasulullah SAW dalam berdakwah.
Memperkuat tawakal kepada Allah SWT.
Menjadikan sejarah Islam sebagai sumber pembelajaran.
Menghidupkan semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Dengan mengetahui berbagai peristiwa bersejarah pada bulan Safar, umat Islam diharapkan semakin memahami bahwa bulan ini tidak memiliki kesialan sebagaimana diyakini masyarakat Arab pada masa jahiliah.

 Justru, bulan Safar menyimpan banyak pelajaran berharga tentang perjuangan, kepemimpinan, hijrah, dan penguatan keimanan yang tetap relevan hingga sekarang.

Demikian Arti La adwa Wala Thiyarata Wala Hamata Wala Safara, Hadits Bulan Safar Bukan Bulan Sial dan Hikmahnya. (lis/berbagai sumber)

Baca juga: Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Bulan Juli 2026 Bertepatan Safar 1448 H, Lengkap Bacaan Niatnya

Baca juga: Kapan 1 Safar 2026? Apakah Pemerintah dan NU Kembali Berbeda? Berikut Penjelasannya

Baca juga: 15 Prompt AI Hari Pajak Nasional 2026 untuk Spanduk, Banner hingga Poster: Kritis tapi Membangun

Baca juga: Sejarah dan Tema Hari Harapan Internasional 12 Juli 2026: Ketika Harapan Menjadi Hak Setiap Manusia

Baca juga: 4 Contoh Teks Doa Upacara Bendera Perdana Tahun Ajaran Baru 2026/2027 Jenjang TK, SD, SMP dan SMA

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.