TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kenaikan biaya impor barang jadi mendorong pelaku industri fesyen melakukan penyesuaian strategi produksi.
Merek produk kulit Donini memilih menghentikan impor produk jadi dan mengalihkan proses perakitan (assembling) ke dalam negeri dengan melibatkan sekitar 500 perajin lokal.
Direktur Donini, David Tanuwidjaja, mengatakan seluruh bahan baku, mulai dari kulit hingga aksesori, tetap didatangkan langsung dari Italia. Sementara proses perakitan dilakukan di Indonesia untuk menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk.
"Dulu kami mengimpor produk dalam bentuk jadi. Karena kondisi harga saat ini sudah tidak memungkinkan, kami mengalihkan proses perakitan ke 500 perajin lokal," ujar David di sela Re-Opening Donini Ambarrukmo Plaza, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, para perajin lokal memproduksi berbagai lini produk seperti tas, dompet, hingga sebagian sepatu.
Mereka juga menangani material kulit eksotis, seperti kulit ular piton dan biawak, yang membutuhkan teknik pengerjaan khusus.
Dengan skema produksi tersebut, Donini mampu menawarkan produk berbahan baku impor dengan harga yang lebih kompetitif.
Baca juga: Mahasiswi UAD Korban Pelecehan Seksual Saat KKN : Lambat Dapat Respon, Lalu Lapor Polisi
Tas dipasarkan mulai Rp2,5 juta hingga Rp6 juta, sedangkan dompet dijual pada kisaran Rp500 ribu sampai Rp2 juta.
"Target pasar kami adalah konsumen yang mencari desain Italia dan material impor, namun dengan harga lokal yang bisa bersaing," katanya.
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Donini juga memberikan garansi seumur hidup terhadap cacat produksi, seperti kerusakan ritsleting maupun aksesori. Perbaikan dilakukan tanpa biaya, selama kerusakan bukan akibat kesalahan penggunaan.
Selain itu, perusahaan membuka layanan Donini Custom yang memungkinkan pelanggan memesan produk sesuai warna, material, hingga penambahan inisial nama.
Proses pengerjaan memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, dengan tetap menggunakan model tas yang telah tersedia.
Di sisi lain, Donini juga melakukan pembaruan konsep gerai dengan nuansa warna yang terinspirasi dari Kota Bologna, Italia, serta menyiapkan inovasi baru berupa layanan pembuatan parfum mandiri (DIY Perfume).
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pilihan produk sekaligus meningkatkan pengalaman berbelanja konsumen di tengah tantangan industri ritel fesyen. (han)