Datang ke Koba untuk Konser, Arga Malah Sibuk Cari Pertalite
Asmadi Pandapotan Siregar July 12, 2026 07:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- 

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite mulai berdampak pada aktivitas masyarakat di Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Selain menyebabkan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), kondisi tersebut juga membuat stok Pertalite di kios-kios eceran sulit ditemukan.

Akibatnya, sejumlah pengendara harus berkeliling mencari BBM atau terpaksa membeli Pertamax eceran dengan harga yang lebih tinggi.

Kondisi itu dialami Arga, warga Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, saat berkunjung ke Koba untuk menghadiri konser dan bazar UMKM yang digelar di Alun-alun Koba, Minggu (12/7/2026).

Saat melintas di kawasan Jalan Berok, Koba, Arga sempat menghentikan sepeda motornya di sebuah toko kelontong dengan harapan mendapatkan Pertalite eceran.

"Yuk, ade Pertalite dak?" tanya Arga kepada penjaga toko.

Namun harapannya pupus setelah mendapat jawaban bahwa stok Pertalite tidak tersedia.

"Tidak, cuma Pertamax," jawab penjaga toko.

Mendengar jawaban itu, Arga hanya mengangguk pelan. Ia kembali menyalakan sepeda motornya, lalu melanjutkan perjalanan mencari Pertalite di tempat lain.

Ia mengaku mulai mencari Pertalite sejak melintasi Desa Ranggas hingga memasuki Kota Koba. Sejumlah kios eceran yang didatanginya ternyata tidak lagi menjual Pertalite.

"Kami sudah cari dari Ranggas sampai masuk Koba, tapi belum juga ketemu Pertalite. Hampir semua yang kami singgahi bilang stoknya tidak ada,"kata Arga kepada Bangkapos, Minggu (12/7/2026).

Menurutnya, sebenarnya ia bisa mengisi BBM di SPBU. Namun antrean kendaraan yang mengular membuatnya memilih mencari BBM eceran agar waktu perjalanan tidak banyak terbuang.

"Kalau beli di SPBU ramai, Bang. Bisa nunggu sampai satu jam. Apalagi di SPBU Berok, antreannya panjang. Kami datang dari jauh, sekalian mau jalan-jalan juga. Kalau habis waktu cuma buat antre rasanya sayang,"ujarnya.

Sebelum berangkat dari Toboali, Arga mengaku telah mengisi Pertalite eceran sebanyak empat liter dengan harga Rp14 ribu per liter. Ia mengira dapat kembali mengisi Pertalite setelah tiba di Koba.

"Berangkat dari Toboali saya sempat isi empat liter dengan harga Rp14 ribu per liter. Saya pikir nanti di Koba tinggal tambah saja. Ternyata sampai di sini malah susah cari Pertalite. Yang banyak dijual justru Pertamax eceran seharga Rp18 ribu per liter,"katanya.

Menurut Arga, salah seorang rekannya sempat lebih dulu menemukan kios yang masih menjual Pertalite eceran seharga Rp15 ribu per liter. Namun ketika ia datang, stoknya sudah habis.

"Tadi teman saya sempat isi Pertalite eceran Rp15 ribu per liter di Koba. Pas saya datang mau isi, ternyata sudah habis. Jadi saya tidak kebagian,"katanya.

Meski kesulitan mendapatkan Pertalite, Arga mengaku enggan membeli Pertamax. Selain harganya lebih mahal, sepeda motor Yamaha Mio keluaran lama yang digunakannya selama ini memang terbiasa menggunakan Pertalite.

"Kalau Pertamax mahal, Bang. Motor saya juga dari dulu pakainya Pertalite, belum pernah isi Pertamax. Jadi saya lebih pilih cari Pertalite dulu,"ujarnya.

Ia juga sempat mempertimbangkan mengisi Pertamax di SPBU. Namun setelah melihat antrean kendaraan yang juga cukup panjang, niat tersebut akhirnya diurungkan.

"Di SPBU walaupun Pertamax tetap antre juga. Jadi malas nunggu lama. Kami kan mau jalan-jalan, bukan mau habiskan waktu antre bensin,"ucapnya.

Arga mengatakan motor Yamaha Mio yang digunakannya memiliki kapasitas tangki kecil sehingga konsumsi BBM cukup boros ketika digunakan bepergian antarkabupaten.

"Kalau dari Toboali ke Koba pulang pergi sambil jalan-jalan lumayan boros. Kurang lebih habis enam liter. Jadi harus isi dua kali karena tangki motor kecil,"katanya.

Menurutnya, selisih harga Pertalite di SPBU dengan BBM eceran bukan menjadi persoalan utama. Yang terpenting, kata dia, bahan bakar tetap tersedia sehingga perjalanan tidak terganggu.

"Kalau selisih harga sebenarnya tidak masalah buat saya. Yang penting masih ada barangnya daripada mogok di jalan karena kehabisan bensin,"ujarnya.

Ia berharap ke depan masyarakat yang sedang melakukan perjalanan jauh tetap dapat memperoleh BBM eceran sebagai alternatif ketika antrean di SPBU sedang padat.

"Harapan kami ke depan, BBM eceran di pinggir jalan tetap ada. Kalau harus antre lama di SPBU, apalagi panas-panasan, kami kadang tidak sanggup. Mending beli eceran walaupun sedikit lebih mahal, yang penting perjalanan tetap lanjut,"tutupnya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.