POSBELITUNG.CO -- Kalender Jawa hingga kini masih digunakan oleh masyarakat Jawa yang memegang tradisi weton sebagai pedoman hidup.
Dalam kalender Jawa, tanggal 12 Juli 2026 merupakan weton Minggu Kliwon dengan Wuku Mandhasiya.
Perpaduan antara Minggu Kliwon dan Wuku Mandhasiya menghadirkan keseimbangan antara keteguhan hati, kecerdasan, dan keberanian, sekaligus membawa pesan agar manusia senantiasa bijak dalam mengambil keputusan.
Baca juga: Kalender Jawa 11 Juli 2026 Weton Sabtu Wage, Ada 2 Peringatan Internasional Hari Ini
Minggu Kliwon dikenal sebagai weton yang membawa karakter penuh wibawa, berjiwa pemimpin, dan memiliki intuisi kuat.
Orang yang lahir pada weton ini biasanya disegani karena sikapnya yang tegas, berani, dan mampu menjaga kehormatan diri maupun keluarga.
Namun, sifat keras kadang membuat mereka sulit menerima masukan dari orang lain.
Sementara itu, Wuku Mandhasiya melambangkan keteguhan, keberanian, dan semangat juang. Wuku ini sering dikaitkan dengan pribadi yang pantang menyerah, memiliki daya tahan tinggi, serta mampu menjadi pemimpin dalam lingkungannya.
Perpaduan Minggu Kliwon dan Wuku Mandhasiya menjadikan karakter seseorang penuh keseimbangan: berwibawa dalam sikap, namun kuat dalam tindakan, sehingga mampu menghadapi tantangan dengan bijak.
Baca juga: Kalender Jawa 10 Juli 2026 Weton Jumat Pon dan Wuku Mandhasiya, Diperingati Hari Kebab Sedunia
Setiap tanggal 12 Juli, masyarakat Indonesia memperingati Hari Koperasi Indonesia.
Sejarahnya berawal dari Kongres Koperasi pertama yang diselenggarakan di Tasikmalaya pada 1947.
Dalam kongres tersebut, tepatnya pada 12 Juli 1947, para pelopor gerakan koperasi sepakat membentuk organisasi tunggal bernama Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI).
Tanggal bersejarah itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia.
Mengutip laman Kemendikdasmen, pada tahun 1953, SOKRI berganti nama menjadi Dewan Koperasi Indonesia.
Organisasi tersebut berperan sebagai penggerak perkembangan koperasi di berbagai wilayah Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, koperasi terus berkembang dan hadir di berbagai bidang, seperti pertanian, industri, perdagangan, hingga jasa. Keberadaannya tidak hanya menjadi sarana kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi juga ikut mendukung pembangunan nasional.
Memasuki era digital, koperasi di Indonesia turut beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan, efisiensi operasional, serta memperluas jangkauan kepada para anggotanya.
Meski mengalami berbagai perubahan, koperasi tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip utamanya, yakni kebersamaan, kemandirian, serta kepedulian terhadap anggota dan masyarakat.
Sejarah Awal Pembentukan Koperasi di Indonesia
Lahirnya koperasi di Indonesia tidak terlepas dari kondisi masyarakat pada masa itu, terutama para pegawai negeri yang terbebani oleh praktik pinjaman berbunga tinggi dari rentenir.
Sebagai upaya membantu mereka, pada tahun 1896 Patih Kabupaten Purwokerto, R. Aria Wirya Atmaja, memperkenalkan konsep koperasi melalui pendirian sebuah bank bagi pegawai negeri. Lembaga tersebut berbentuk koperasi kredit yang mengadopsi sistem dari Jerman.
Mengutip laman Kelurahan Sidomulyo, saat melakukan kunjungan ke Jerman, Asisten Residen Belanda De Wolffvan Westerrode memberikan dukungan terhadap langkah R. Aria Wirya Atmaja. Ia mengusulkan agar Bank Pertolongan Tabungan yang telah berdiri dikembangkan menjadi Bank Pertolongan, Tabungan, dan Pertanian.
Sejak saat itu, gerakan koperasi berkembang semakin pesat di Indonesia. Perkembangan tersebut didukung oleh budaya gotong royong dan semangat kekeluargaan yang telah lama melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga selaras dengan nilai-nilai koperasi.
Melihat pertumbuhan koperasi yang semakin cepat, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengeluarkan berbagai peraturan mengenai perkoperasian sebagai bentuk pengaturan terhadap perkembangan sektor tersebut.
(Posbelitung.co/Tribunnews.com)