Digempur Tren Belanja Olshop dan ke Medan, Toko Perlengkapan Sekolah di Aceh Tamiang Tutup
Mursal Ismail July 12, 2026 08:03 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Toko perlengkapan sekolah di Aceh Tamiang tak meraup untung atas tahun ajaran baru yang akan dimulai besok, Senin, 13 Juli 2026.

Berbanding terbalik dengan tingginya antusias belanja keperluan sekolah, toko lokal ini justru memilih tutup pada hari terakhir libur sekolah, Minggu (12/7/2026).

Asna, pedagang perlengkapan sekolah di Pasar Hongkong, Kota Kualasimpang mengungkapkan kondisi ini tidak terlepas dari tingginya minat masyarakat Aceh Tamiang belanja ke Medan, Sumatera Utara dan menggunakan aplikasi online shop (olshop).

"Kami terkendala sama orang-orang jualan online yang menjual jauh lebih murah. Istilahnya, mereka berani jual di bawah standar toko di pasar. Kayak buku dan seragam sekolah, kami kalah telak di situ," ujar Asna, Minggu (12/7/2026) di Kualasimpang.

Menurut Asna, selisih harga antara barang di pasar dan di online shop bisa mencapai Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per barang.

Angka yang terlihat kecil bagi konsumen tersebut nyatanya menjadi penentu hidup-mati bagi pedagang konvensional yang harus menanggung rentetan biaya operasional.

Baca juga: Krisis BBM di Aceh Tamiang Diprediksi Berlangsung hingga Pekan Depan

Berbeda dengan ramainya pelaku online shop rumahan, Asna dan pedagang Pasar Hongkong lainnya harus memutar otak untuk membayar gaji karyawan dan menghadapi sewa lapak tahunan yang terus merangkak naik.

Situasi ini diperparah oleh kondisi ekonomi lokal yang belum sepenuhnya stabil.

"Minyak eceran di Tamiang saja sekarang sudah mahal sekali. Otomatis biaya distribusi barang dari konveksi ke kita juga naik.

Kami tidak minta untung besar, setidaknya harga bisa sama rata karena kami harus bayar sewa toko dan gaji anggota," keluhnya.

Ia juga menyayangkan maraknya konsumen yang kerap membandingkan harga pasar dengan harga online tanpa melihat aspek kualitas bahan.

"Kadang pembeli protes, kenapa di sini lebih mahal. Saya bilang, coba ibu beli yang di sana, bawa ke mari, kita lihat bahannya sama atau tidak.

Jangan sampai baru dua kali cuci, bajunya sudah rusak. Kami ambil untung tipis, yang penting modal bisa berputar," tambah Asna.

Baca juga: Dihantui Ancaman Inflasi, Harga Kebutuhan Pangan di Aceh Tamiang Masih Stabil

Beruntung, ia mengaku masih memiliki segelintir pelanggan setia yang tetap bertahan karena menghargai kualitas fisik barang.

Selain itu, pasca-musibah banjir yang sempat melanda kawasan Aceh Tamiang, daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Asna berharap ada gerakan moral dari masyarakat dan pemerintah untuk kembali meramaikan pasar lokal demi menyelamatkan perekonomian daerah yang sedang sekarat.
"Semoga perekonomian di Aceh Tamiang pasca-banjir cepat pulih kembali dan harga barang tidak naik lagi.

Harapan kami, bantulah perekonomian di Tamiang dulu dengan cara membeli barang-barang dari pedagang di Tamiang sendiri," pungkasnya. (mad)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.