2 SD di Trenggalek Enggan Terima MBG Lagi, Kepsek : Makan Waktu dan Mubazir Makanan
Rendy Nicko July 12, 2026 09:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK – Sikap tegas diambil oleh salah satu pendidikan di Trenggalek untuk tidak menerima lagi makan bergizi gratis (MBG). Salah satu alasannya menyita waktu kegiatan belajar mengajar (KBM) selama 30 menit.

Adalah SD Muhammadiyah 1 Trenggalek atau SD Inovatif memutuskan mengambil langkah berbeda pada tahun ajaran 2026-2027.

Sekolah ini menghentikan keikutsertaannya dalam program nasional tersebut dan kembali mengandalkan program makan siang mandiri yang telah dijalankan sejak sekolah berdiri.

Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi mengatakan keputusan tersebut bukan karena sekolah menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi anak-anak.

Baca juga: Ratusan Peserta Ikuti Baiatan Tarekat Syadziliyah di Pondok Jajar Trenggalek 

"Untuk tahun ajaran baru ini, SD Muhammadiyah resmi memutuskan tidak lagi mengikuti program MBG. Kami mengambil keputusan ini dalam rapat kerja internal hari Selasa kemarin," ulas Ikhsan Nur Wahyudi, Minggu (12/7/2026).

Keputusan itu diambil setelah evaluasi internal terhadap pelaksanaan MBG sejak November 2025.

Menurutnya, hasil evaluasi menjadi bahan pembahasan dalam rapat kerja sekolah sebelum akhirnya diputuskan untuk tidak melanjutkan sebagai penerima manfaat program pada tahun ajaran baru.

Ikhsan mengatakan salah satu pertimbangan terbesar adalah berkurangnya waktu belajar di kelas.

Menurutnya mekanisme pembagian makanan kepada seluruh siswa setiap hari membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Alhasil, mengurangi durasi pembelajaran.

"Alasan penting bagi kami yaitu soal waktu. Distribusi makanan MBG di lingkungan sekolah minimal membutuhkan waktu hingga 30 menit. Bagi kami, durasi itu sangat berharga karena mengurangi jatah efektif anak-anak belajar di dalam kelas," ulasnya.

Ikhsan menambahkan selain itu, sekolah juga menemukan masih banyak makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dinilai tidak sejalan dengan pendidikan karakter yang selama ini dibangun di lingkungan sekolah.

"Sisa makanannya terlalu banyak yang terbuang. Sayang sekali, sangat mubazir. Padahal dalam ajaran Islam, kita tahu bersama bahwa perilaku mubazir itu tidak diperbolehkan dan harus kita hindari," tegas Ikhsan.

Sekolah juga mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi para siswa. Menurut Ikhsan, sebagian besar orang tua murid dinilai mampu memenuhi kebutuhan makan anaknya.

Sehingga manfaat program pemerintah diharapkan bisa lebih difokuskan kepada sekolah yang siswanya membutuhkan.

"Kami merasa anak-anak di tempat lain masih ada yang jauh lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi ini daripada siswa-siswi di SD Muhammadiyah," ujarnya.

Sebagai pengganti MBG, SD Inovatif kembali mengoptimalkan program makan siang mandiri yang selama ini telah menjadi bagian dari sistem pembelajaran di sekolah.

Melalui program tersebut, sekolah bekerja sama dengan dapur mitra untuk menyiapkan makanan. Berbeda dengan MBG, makanan disajikan dalam wadah besar sehingga siswa dapat mengambil nasi sesuai kebutuhan dan menambah porsi bila masih lapar.

Model ini juga memberi keleluasaan bagi sekolah untuk mengevaluasi kualitas makanan serta mengatur variasi menu agar lebih sesuai dengan selera siswa.

"Program makan siang mandiri ini sudah ada sejak pertama kali sekolah ini berdiri. Sayang jika kami hapus begitu saja. Apalagi, mayoritas wali murid juga mendesak agar program internal ini tetap berjalan," kata Ikhsan.

Ia menambahkan, fleksibilitas menjadi keunggulan program internal sekolah karena menu dapat disesuaikan apabila ada masukan dari siswa maupun orang tua.

"Kalau ada menu yang kurang cocok atau kualitasnya menurun, kami bisa langsung menegur pihak dapur."

"Kami juga bisa mengatur sendiri variasi menunya agar anak-anak tidak bosan. Sementara di program MBG, kami tidak punya kuasa menentukan menu karena semua sudah terkunci mengikuti juknis yang ada," tandasnya. 

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.