Abaikan Ultimatum AS, IRGC Pastikan Selat Hormuz Tertutup, Baku Tembak Tak Terhindarkan
Whiesa Daniswara July 12, 2026 11:35 PM

TRIBUNNEWS.COM - Wilayah Timur Tengah semakin membara setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menutup Selat Hormuz.

Padahal sebelumnya, Amerika Serikat (AS) telah melayangkan ultimatum keras yang menuntut jaminan keamanan jalur pelayaran internasional tersebut.

Namun, IRGC tetap melakukan aksinya seolah mengabaikan ultimatum dari AS.

"Tidak ada kapal yang diizinkan melintas," tegas pihak IRGC melalui pernyataan resmi mereka, sebagaimana dikutip dari Axios.

Tak hanya menutup Selat Hormuz, Iran juga meluncurkan serangan rudal terhadap sebuah kapal kargo komersial di wilayah tersebut.

Menanggapi aksi IRGC, Komando Sentral AS (CENTCOM) langsung bergerak cepat dengan meluncurkan gelombang serangan udara baru ke wilayah Iran.

Ketegangan ini menandai runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati kedua belah pihak.

Berdasarkan keterangan resmi CENTCOM, kapal yang menjadi korban kebrutalan rudal Iran adalah GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus.

Akibat serangan tersebut, kapal mengalami kebakaran hebat dan kerusakan parah pada ruang mesin hingga terdampar di tengah laut.

"Iran sebenarnya telah diberikan kesempatan untuk mematuhi Nota Kesepahaman (MoU) yang ada, namun mereka kembali gagal," tulis pernyataan resmi CENTCOM melalui akun media sosial X mereka.

Baca juga: Oman, Kuwait, dan Yordania Kutuk Serangan Iran, Bom-Bom Amerika Bikin Negara Teluk Membara

"Sebagai konsekuensinya, Amerika Serikat memberikan pembalasan berat dengan melumpuhkan kemampuan Iran yang mengancam pelaut sipil dan kapal komersial secara bebas," lanjut pernyataan tersebut.

CENTCOM menegaskan operasi militer ini diperintahkan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump.

Hingga saat ini, otoritas maritim melaporkan satu orang kru kapal sipil dinyatakan hilang, sementara kru lainnya terpaksa dievakuasi menggunakan sekoci darurat setelah kapal tak lagi bisa dioperasikan.

Alasan IRGC Rudal Kapal

Komando Angkatan Laut IRGC merilis pernyataan resmi yang menegaskan, tindakan keras tersebut diambil sebagai langkah penegakan hukum laut terhadap kapal yang dianggap "pembangkang" dan membahayakan keselamatan navigasi regional.

Iran mengklaim sebelum rudal dilepaskan, kapal kargo tersebut dengan sengaja mematikan sistem identifikasi otomatis mereka.

Selain itu, kapal tersebut dituduh mencoba menerobos rute terlarang di bawah pengaruh dan dukungan aktor-aktor asing.

"Kapal tersebut mengabaikan peringatan berkali-kali yang dikirimkan oleh patroli perbatasan kami."

Selang beberapa jam setelah insiden pertama, tensi semakin meruncing ketika IRGC kembali mengumumkan keberhasilan mereka melumpuhkan kapal komersial kedua yang dinilai melakukan pelanggaran serupa di koridor perairan yang sama.

Baca juga: Tak Hanya Tutup Selat Hormuz, Iran juga Luncurkan Rudal dan Drone ke Negara Teluk Balas Serangan AS

Diprediksi Guncang Harga Minyak Dunia

Penutupan Selat Hormuz ini diprediksi akan memicu guncangan hebat pada harga minyak mentah dunia.

Iran secara tegas menyatakan tidak akan membuka kembali selat tersebut bagi kapal mana pun sebelum intervensi militer AS dicabut sepenuhnya.

Teheran menimpang kesalahan atas eskalasi ini kepada Washington dan negara-negara tetangga yang masih bersedia menampung pangkalan militer Barat.

Di lain pihak, langkah agresif Iran ini langsung menuai kecaman internasional.

Mengutip WANA, negara-negara sekutu Barat yang dipimpin CENTCOM, dilaporkan mulai menyiagakan armada tempur mereka di sekitar Laut Arab.

Hal ini guna mengantisipasi eskalasi konflik yang lebih luas serta memastikan prinsip kebebasan bernavigasi internasional tetap dihormati.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.