PERDOSRI Luncurkan SIG Sarkopenia, Rumuskan 3 Pilar Utama Penyelamatan Otot
Dodi Hasanuddin July 13, 2026 12:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) secara resmi memperkenalkan kelompok studi klinis terbarunya, yaitu Special Interest Group (SIG) Sarkopenia.

Momentum ini diresmikan melalui perhelatan Webinar Awam Nasional bertajuk “Inisiasi Kerja Interdisiplin dalam Tatalaksana Sarkopenia dengan Orientasi Penyesuaian Perilaku dan Budaya yang Suportif”, Minggu (12/7/2026). 

Acara ini mengintegrasikan edukasi praktis berbasis komunitas dengan literatur sains global mutakhir untuk mengatasi ancaman penurunan massa dan fungsi otot di Indonesia. Sarkopenia kini disorot sebagai tantangan kesehatan nasional yang serius.

Baca juga: Kandungan Antiinflamasi dan Antikoagulan pada Gel Topikal Bantu Atasi Nyeri Otot dan Memar

Data Asia-Pasifik berdasarkan kriteria AWGS (Asian Working Group for Sarcopenia) menunjukkan bahwa prevalensi kondisi ini mencapai kisaran 29 persen, dan dapat melipatgandakan risiko mortalitas serta disabilitas fungsional pada lansia. 

Melalui peluncuran kelompok peminatan baru ini, PERDOSRI menegaskan urgensi pergeseran paradigma pelayanan kesehatan dari yang bersifat penanganan penyakit (diseasebased) menuju perlindungan dan pengoptimalan kapasitas fungsi tubuh secara paripurna (functionbased paradigm).

"Kita harus mendobrak stigma di masyarakat yang menganggap bahwa tubuh yang melemah, melambat, atau mudah jatuh adalah konsekuensi maklum dari proses penuaan. Profesi Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi hari ini menyatakan dengan tegas: Lemah otot bukan sekadar tua! Ini adalah Sarkopenia, sebuah kondisi medis objektif yang bisa kita intervensi sejak dini melalui strategi promotif, preventif, dan rehabilitatif yang terukur," kata Ketua Umum Pengurus Pusat PERDOSRI, DR.Dr Rumaisah Hasan, Sp.KFR, SubSp., N.M.(K)., FEMG.

Penyelamatan Otot

Dalam pemaparan ilmiah dari jajaran narasumber interdisiplin—yang melibatkan pakar Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (Sp.K.F.R), Penyakit Dalam Konsultan Geriatri (Sp.P.D. K-Ger), serta Gizi Klinik (Sp.G.K)—dijelaskan alur penegakan diagnosis yang berjenjang dan aplikatif.

Mulai dari penapisan mandiri sederhana di komunitas menggunakan metode Tes Cincin Jari (Finger-ring test) dan kuesioner SARC-F, evaluasi kekuatan otot lewat uji kekuatan genggaman tangan (Hand Grip Strength), penilaian performa fisik fungsional melalui uji Chair Stand Test (kemampuan berdiri-duduk 5 kali), hingga konfirmasi kuantitatif massa otot paha depan menggunakan Ultrasonografi (USG) muskuloskeletal dengan rasio STAR (Sonographic Thigh Adjustment Ratio).

Baca juga: Konsumsi Susu Whey Protein Bantu Pemulihan Otot Selepas Aktivitas

Visi teknologi masa depan turut diperkuat dengan dipaparkannya hasil studi multisenters internasional terbaru, SARCO X Study, yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah ternama JAMDA.

Riset tersebut memperlihatkan efisiensi tinggi dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Machine Learning) dalam penapisan sarkopenia.

Dengan menganalisis variabel klinis dasar seperti usia, aktivitas fisik, serta komorbiditas kronis berupa Hipertensi dan Diabetes Mellitus, algoritma cerdas ini mampu memangkas kebutuhan tes kekuatan fisik konvensional hingga 38,1 persen dan meminimalisasi penggunaan perangkat pencitraan medis hingga 49,5 persen. 

"Implementasi sains modern ini membuka jalan bagi pemerataan layanan kesehatan otot di Indonesia. Skrining berbasis kecerdasan buatan dapat diadopsi secara luas di fasilitas kesehatan primer seperti Puskesmas, memberikan penapisan yang cepat, efisien, dan berbiaya rendah bagi masyarakat luas, bahkan jauh sebelum manifestasi klinis disabilitas fisik muncul," tambah DR.Dr Rumaisah Hasan. 

Sebagai fondasi utama tata laksana komprehensif, webinar ini merumuskan 3 Pilar Utama Penyelamatan Otot yang harus diimplementasikan oleh masyarakat dan tenaga medis secara sinergis:

  • Nutrisi Protein Adekuat

Memastikan asupan protein tinggi yang terdistribusi merata berkisar antara 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari, ditunjang suplemen pendukung sesuai indikasi klinis. 

  • Latihan Kekuatan Spesifik (Resistance Exercise)

Menjalankan latihan beban atau resistansi terarah (seperti gerakan squat, sit-to-stand, dan penggunaan resistance band) sebanyak 2–3 kali seminggu, menegaskan pesan penting bahwa jangan hanya mengandalkan jalan kaki untuk menjaga kekuatan otot rangka.

  • Optimalisasi Vitamin D dan Gaya Hidup Aktif

Mempertahankan kadar kecukupan Vitamin D dalam tubuh guna mendukung stabilitas, koordinasi gerak neuromuscular, serta meminimalisasi risiko jatuh pada populasi lanjut usia.

Melalui pembentukan SIG Sarkopenia ini, PP PERDOSRI berkomitmen penuh untuk mendorong pengembangan riset terapan berkelanjutan, penyusunan panduan praktik klinis nasional yang integratif, serta program edukasi publik yang konsisten guna menginspirasi masyarakat membangun "tabungan otot" sejak usia produktif demi tercapainya Indonesia yang sehat, aktif, dan tangguh.

Orientasi Penyesuaian Perilaku dan Budaya

Ketua SIG Sarkopenia PP PERDOSRI, Dr. Rwahita Satyawati, D., Sp.K.F.R., Ger. (K) menyatakan bahwa tema yang diangkat pada webinar kali ini, yaitu "Inisiasi Kerja Interdisiplin dalam Tatalaksana Sarkopenia dengan Orientasi Penyesuaian Perilaku dan Budaya yang Suportif", membawa sebuah pesan filosofis dan visi kedokteran masa depan yang sangat kuat.

Baca juga: Entrasol dan Anomali Coffee Rilis Minuman Kopi Bernutrisi yang Mendukung Pembentukan Tulang dan otot

Selama ini, kondisi penurunan massa, kualitas, dan kekuatan otot atau sarkopenia, sering kali luput dari perhatian karena dianggap maklum sebagai konsekuensi alami dari proses penuaan.

Di masyarakat kerap mendengar kalimat, "Wajar kalau sudah tua menjadi lemas dan lambat." Namun, melalui forum ilmiah dan edukatif ini, PERDOSRI ingin menegaskan sebuah paradigma baru: Kenali Sarkopenia—Lemah Otot Bukan Sekadar Tua!

"Sebagai Ketua Pengurus Pusat PERDOSRI, saya ingin memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya serta rasa hormat saya kepada Special Interest Group (SIG) Sarkopenia PERDOSRI. Sebagai rumpun peminatan atau SIG yang baru saja terbentuk di bawah naungan PP PERDOSSI, pergerakan cepat dan inisiatif nyata yang ditunjukkan hari ini sungguh membanggakan. Langkah awal yang dipilih tidak tanggung-tanggung, yaitu langsung turun merangkul masyarakat awam melalui media edukasi. Ini adalah bukti nyata komitmen profesi kita untuk senantiasa hadir dan relevan bagi kebutuhan publik," tuturnya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.