Sepakbola Menolak Sepi Tak Pernah Kering: Dari Warkop ke Grup WhatsApp 
AS Kambie July 13, 2026 06:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Pertandingan Piala Dunia 2026 memang jeda dua hari. Tak ada pertandingan pada Senin dan Selasa, 13-14 Juli 2026. Pertandingan perdana delapan besar digelar pada Rabu dini hari, 15 Juli 2026. Prancis vs Spanyol. Lalu Inggris vs Argentina pada Kamis dini hari, 16 Juli 2026.

Tapi pertandingan di luar lapangan tetap jalan. Laga di luar jadwal FIFA terus berlangsung.

Geng Makassar tak mengenal jadwal FIFA. Bahkan tak ada hydration break di Geng Makassar, grup WhatsApp yang berdiri sejak Agustus 2020, 26 tahun silam.

Menjelang malam, Minggu (12/7/2026), suasana Grup WhatsApp Geng Makassar berubah. 

Perdebatan tentang kartu merah Swiss mulai mereda. Perdebatan tentang gol Norwegia yang dianulir VAR juga perlahan kehilangan tenaga.

Arena bergeser. Bukan lagi membahas siapa yang dirugikan. Melainkan siapa yang akan menjadi juara dunia.

Pemantik diskusi  kali ini adalah Najib Latandang. Lelaki gaek ini bukan sekadar penikmat. Dia pelaku. Pemain hebat. Dia legenda hidup PSM Makassar.

Dengan tenang Najib Latandang membuka menu diskusi.

“Ini banyak teman-teman chat saya tanya kira-kira siapa yang baik untuk dipegang dalam semifinal ini. Saya jawab saja, pakai feeling saja. Karena empat semifinalis adalah tim terbaik Piala Dunia 2026. Semuanya papan atas ranking FIFA dan semuanya pernah menjadi juara dunia.”

Kalimat itu menarik. Setelah seharian memperdebatkan data VAR dan rekaman video, Najib justru mengembalikan prediksi kepada sesuatu yang sangat manusiawi.Feeling.

Seolah-olah statistik akhirnya memiliki batas. Lalu intuisi mengambil alih.

Subhan Mappaturung seakan mengerti arah postingan Najib Latandang. Seketika, Subhan Mappaturung menyambar umpan manis itu, “Farid M. Ibrahim Tidak suka pakai feeling, Coach.”

Operan Subhan Mappaturung juga ciamik. Tiki taka. Dia juga bukan pendekar sembarangan. Dia sudah malang melintang di puluhan Group WhtasApp. Dia bukan pengamat kaleng-kaleng. Dia pelaku usaha. Direktur perusahaan terkemuka di Indonesia. 

Kalimat yang dioper Subhan Mappaturung itu memang pendek. Namun cukup menggambarkan pertarungan dua cara berpikir. Satu kubu mempercayai intuisi. Kubu lain menghendaki argumentasi.

Subhan Mappaturung membawa diskusi ke arah yang berbeda. “Inggris selalu menyenangkan. Peradabannya tinggi. Pemain-pemainnya sopan dan berkarakter.”

Bang Cikon segera menyambung. “Sama seperti pemain PSM.” Di titik ini, percakapan tidak lagi berbicara tentang sepak bola Eropa.

Inggris telah berubah menjadi simbol. PSM telah menjadi metafora. Yang sedang dibandingkan bukan lagi kemampuan menggiring bola. Melainkan karakter.

Husain Abdullah, salah satu tokoh paling disegani di Geng Makassar. Diplomat dan akademisi ini menambahkan satu pengamatan kecil yang justru bernilai besar, “Waktu gol Norwegia dianulir, pemain Inggris tidak euforia. Biasa saja.”

Bagi Husain Abdullah, yang biasa disapa Pak Ketua di Geng Makassar, ukuran kebesaran sebuah tim bukan hanya kemampuan mencetak gol. Kemampuan mengendalikan emosi faktor menentukan. Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai habitus. Disiplin yang telah menjadi sifat kedua. Sikap yang tidak lagi dibuat-buat. 

Lalu muncul suara yang selalu ditunggu anggota grup. H Abustan. Pria melankolis ini  akrab dipanggil Petta Prof atau Cak Bus.

Seperti biasa, ia membawa percakapan melampaui pertandingan hari itu. “Hei Jude. Anak muda ini sudah melampaui prestasi generasi emas Inggris. John Terry, Lampard, Beckham, Paul Scholes,” tulis Petta Prof Cak Bus.

Perhatian Abustan bukan pada satu pertandingan. Melainkan pada lintasan sejarah. Ia membaca Jude Bellingham bukan sebagai pemain berusia dua puluhan. Melainkan sebagai mata rantai sejarah sepakbola Inggris.

Subhan Mappaturng kembali mencairkan suasana. “Btw, Bang Jude ini cakep loh Pak,” ujar Subhan Mappaturung. 

Seketika ruang diskusi berubah menjadi ruang keluarga. Analisis taktik berdampingan dengan candaan. Data hidup berdampingan dengan humor.

Najib Latandang kemudian kembali ke papan taktik, “Tim paling lengkap sebenarnya Inggris. Mereka punya striker murni, Harry Kane. Brasil justru dikeluhkan Carlo Ancelotti karena tidak memiliki striker murni.” 

Petta Prof Cak Bus  mengangguk.  Namun ia memilih bahasa yang lebih sederhana.“Kane tendangan geledeknya berbahaya,” katanya.

Najib Latandang kemudian memperluas analisisnya. “Kalau ada striker murni, pertahanan lawan tidak leluasa membantu serangan. Tidak gampang menemukan nomor sembilan. Tidak gampang mengorbankan sebelas starter hanya demi seorang striker murni.”

Percakapan itu menunjukkan bahwa grup ini bukan sekadar tempat bercanda. Ia telah berubah menjadi ruang produksi pengetahuan. Tidak ada moderator. Tidak ada dosen. Tidak ada panel resmi.

Namun teori, sejarah, statistik, psikologi, hingga estetika sepak bola dipertukarkan secara spontan.

Dalam bahasa Bourdieu, setiap anggota sedang menginvestasikan modal budaya yang dimilikinya. Najib menghadirkan modal taktik. Abustan menghadirkan modal sejarah. Subhan menghadirkan modal humor. 

Husain menghadirkan modal observasi. Bang Cikon menghadirkan modal lokal dengan menghubungkan Inggris dan PSM Makassar.

Pahir Halim serta Harris Hody memainkan peran yang tak kalah penting. Mereka menjadi pemberi legitimasi. “Mantap ini ulasannya Cak Bus.” “Bagus sekali kesimpulannya.”

Dua kalimat sederhana itu memperlihatkan bagaimana kapital simbolik bekerja. Sebuah analisis tidak menjadi berpengaruh hanya karena isinya, tetapi juga karena memperoleh pengakuan dari komunitas. 

Dalam arena digital seperti Grup Geng Makassar, “like”, persetujuan, atau pujian menjadi bentuk legitimasi yang memperkuat posisi seseorang sebagai rujukan.

Mungkin, inilah wajah baru ruang publik Indonesia. Dahulu diskusi sepak bola hidup di warung kopi. Hari ini ia berpindah ke grup WhatsApp. 

Tempatnya berubah, tetapi hakikatnya tetap sama: manusia berkumpul bukan hanya untuk mengetahui hasil pertandingan, melainkan untuk bersama-sama memproduksi makna. 

Di situlah sepak bola berubah menjadi percakapan tentang strategi, sejarah, karakter, kepemimpinan, bahkan peradaban. 

Dan justru karena itu, sebuah grup bernama Geng Makassar telah menjelma menjadi laboratorium kecil tempat teori Bourdieu hidup dalam percakapan sehari-hari.

Empat puluh empat negara telah pulang. Mereka meninggalkan Amerika Utara dengan membawa cerita masing-masing. 

Ada yang pulang sebagai kejutan. Ada yang pulang sebagai kekecewaan. Ada pula yang pulang sambil menyalahkan VAR.

Kini tinggal empat. Argentina. Prancis. Inggris. Spanyol. Empat raksasa berdiri di tikungan terakhir. Empat negara dengan sejarah panjang.

Empat negara yang telah mencicipi trofi Piala Dunia. Mereka tinggal selangkah menentukan siapa yang paling layak menyandang gelar kampiun 2026.

Menariknya, semakin sedikit tim yang tersisa, semakin liar pula prediksi bermunculan.

Ironisnya, salah satu prediksi yang paling banyak diperbincangkan sebelum turnamen justru telah gugur. Joachim Klement.

Analis investasi yang beberapa tahun terakhir dikenal berani memadukan statistik, probabilitas, dan kecerdasan buatan untuk membaca arah Piala Dunia itu, sempat menjagokan Portugal dan Belanda sebagai kandidat terkuat menuju partai puncak.

Namun, lapangan berbicara lain. Belanda tersingkir lebih awal. Portugal juga gagal mencapai empat besar.

Model statistik yang tampak meyakinkan di atas kertas akhirnya dikoreksi oleh kenyataan di atas rumput hijau.

Bukan berarti metode Klement gagal total. Justru sebaliknya. Piala Dunia kembali mengingatkan bahwa probabilitas bukanlah takdir. Model statistik hanya menghitung peluang. Ia tidak pernah menjamin hasil.

Di situlah sepak bola selalu berhasil mempertahankan romantismenya. Tidak semua hal dapat ditaklukkan oleh angka. Tidak semua pertandingan tunduk kepada algoritma.

Pierre Bourdieu mungkin akan membaca kegagalan prediksi itu dari sudut yang berbeda.

Bagi Bourdieu, pertandingan tidak hanya ditentukan oleh data, melainkan oleh praktik sosial yang berlangsung di dalam arena. Habitus, modal budaya, modal simbolik, kepemimpinan, tekanan psikologis, bahkan momentum pertandingan ikut membentuk hasil yang tidak seluruhnya dapat dimasukkan ke dalam persamaan matematika.

Karena itu, Piala Dunia 2026 bukan sekadar menguji empat negara semifinalis. Ia juga menguji keyakinan manusia modern bahwa segala sesuatu dapat diprediksi oleh algoritma.

Seperti VAR yang semula hanya membantu wasit, model prediksi berbasis AI juga semakin sering dijadikan rujukan untuk membaca masa depan. 

Namun turnamen ini menunjukkan bahwa AI mampu mempersempit ruang ketidakpastian, bukan menghapusnya. Selalu ada ruang bagi keputusan manusia, keberuntungan, kesalahan kecil, atau momen-momen yang mengubah seluruh alur pertandingan.

Pada akhirnya, Joachim Klement mungkin tersingkir dari bursa prediksi. 

Tetapi pertanyaan yang ia tinggalkan justru menjadi semakin relevan: ketika algoritma gagal membaca masa depan, kepada siapa manusia akan kembali percaya? Pada data, pada intuisi, pada pengalaman, atau seperti Alimuddin Budung di Pinrang pada sebuah ritual mabbaca? 

Di situlah Piala Dunia 2026 berubah dari sekadar turnamen sepak bola menjadi cermin tentang cara manusia mencari kepastian di tengah dunia yang tak pernah sepenuhnya bisa diprediksi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.