TRIBUN-SULBAR.COM- Masa liburan telah usai. Tahun ajaran baru dimulai, dan jutaan anak kembali memasuki ruang kelas dengan semangat sekaligus rasa gugup.
Di momen itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, mengajak para ayah di seluruh Indonesia meluangkan waktu untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama.
Menurut Wihaji, perjalanan dari rumah ke sekolah mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi seorang anak, momen sederhana tersebut bisa menjadi kenangan yang membekas hingga dewasa.
Baca juga: Dompet Taurus Senyum Lebar, Virgo Jangan Sampai Tumbang! Ini Ramalan Zodiak Hari Ini
Baca juga: Petani di Mamuju Tengah Senang, Terima 30,3 Ton Bantuan Bibit Jagung dari Bupati Arsal Aras
"Yuk, luangkan waktu untuk mengantar putra-putri ke sekolah di hari pertama masuk sekolah. Mungkin perjalanan dari rumah ke sekolah hanya sebentar, tetapi bagi anak, momen itu bisa menjadi kenangan yang diingat seumur hidupnya," kata Wihaji dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (13/7).
Ia mengatakan, perhatian sederhana seperti mengobrol selama perjalanan, memeluk anak sebelum memasuki gerbang sekolah, atau sekadar mengucapkan, "Semangat ya, Nak," dapat memberikan rasa aman sekaligus meningkatkan kepercayaan diri anak saat memulai tahun ajaran baru.
"Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat anak merasa dicintai, didukung, dan lebih percaya diri," ujarnya.
Wihaji menegaskan, peran ayah tidak hanya sebatas mencari nafkah. Kehadiran ayah dalam berbagai fase kehidupan anak, termasuk di hari pertama sekolah, merupakan bentuk keterlibatan nyata dalam proses tumbuh kembang mereka.
"Seorang ayah bukan hanya hadir untuk mencari nafkah. Seorang ayah juga hadir untuk menemani tumbuh kembang anak, sejak langkah-langkah kecilnya hari ini hingga cita-cita besarnya nanti," tuturnya.
Pandangan tersebut juga didukung oleh Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Nur Ainy Fardana Nawangsari. Ia menilai, keterlibatan ayah pada hari pertama sekolah mampu memberikan rasa aman sekaligus memperkuat ikatan emosional antara ayah dan anak.
"Keterlibatan ayah di hari pertama sekolah memberi rasa aman dan dukungan emosional mendalam serta membentuk ikatan positif antara anak dan ayah," kata Nur Ainy.
Menurutnya, kehadiran ayah membantu anak memulai aktivitas belajar dengan lebih tenang, percaya diri, sekaligus menjadi teladan dalam membentuk karakter, kemandirian, dan kemampuan bersosialisasi.
Ia juga mengutip hasil studi tahun 2025 yang menunjukkan bahwa anak dengan ayah yang aktif terlibat dalam pengasuhan cenderung memiliki perkembangan yang lebih baik.
Sebanyak 43 persen menunjukkan prestasi akademik maupun nonakademik yang lebih tinggi, sementara 30 persen memiliki kemampuan sosial dan emosional yang lebih kuat.
Meski begitu, Nur Ainy menekankan bahwa keterlibatan ayah tidak harus diwujudkan dengan mengantar anak ke sekolah setiap hari. Yang jauh lebih penting adalah kehadiran yang konsisten dalam proses tumbuh kembang anak.
Bagi orang tua yang tidak bisa mengantar karena pekerjaan atau alasan lain, ia menyarankan agar tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak sepulang sekolah, menanyakan pengalaman mereka selama belajar, dan menunjukkan ketertarikan terhadap aktivitas yang dijalani anak.
Perhatian sederhana seperti itu, menurutnya, dapat menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan buah hati.(*)