SRIPOKU.COM - Hari pertama masuk sekolah pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027 menjadi momen krusial bagi guru untuk membangun fondasi pembelajaran selama satu tahun ke depan.
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah guru langsung membagikan daftar "Peraturan Kelas" yang dibuat secara sepihak dan penuh dengan kata larangan seperti Jangan atau Dilarang.
Dalam paradigma Kurikulum Merdeka, pendekatan ini mulai ditinggalkan dan digantikan dengan Kesepakatan Kelas (Classroom Agreement).
Baca juga: Contoh Soal Asesmen Diagnostik Awal Jenjang SMA/SMK Tahun Ajaran 2026/2027
Perbedaannya terletak pada keterlibatan siswa. Ketika aturan lahir dari suara dan kesepakatan bersama, siswa akan memiliki rasa kepemilikan (sense of ownership) yang tinggi, sehingga mereka menaatinya dengan kesadaran penuh, bukan karena takut dihukum.
Bagi Bapak dan Ibu guru yang ingin menciptakan suasana kelas yang kondusif, aman, dan nyaman sejak minggu pertama, berikut adalah langkah praktis membuat Kesepakatan Kelas yang efektif dan siap pakai:
Langkah awal adalah mengajak murid memikirkan kelas impian mereka. Sediakan media yang menarik agar mereka bebas berpendapat.
Ini adalah kunci psikologis terpenting. Otak manusia, terutama anak-anak, lebih mudah mencerna arahan tindakan daripada larangan. Ubah kata-kata berkonotasi negatif menjadi kalimat aksi yang positif.
| Peraturan Lama (Negatif) | Kesepakatan Kelas (Positif) |
| Jangan berisik saat guru menjelaskan! | Mendengarkan dengan saksama saat orang lain berbicara. |
| Dilarang terlambat masuk kelas! | Hadir di kelas tepat waktu dan siap belajar. |
| Jangan membuang sampah sembarangan! | Menjaga kebersihan lingkungan kelas bersama-sama. |
| Dilarang bertengkar atau mengejek teman! | Saling menghargai dan berbicara dengan sopan. |
Jangan membuat daftar kesepakatan yang terlalu panjang hingga belasan poin, karena anak-anak akan kesulitan untuk mengingatnya. Cukup pilih 4 sampai 5 poin utama yang mencakup seluruh aspek perilaku, kebersihan, dan akademis.
Agar kesepakatan ini terasa formal dan memiliki ikatan moral, lakukan proses pengesahan yang melibatkan seluruh warga kelas.
Langkah terakhir adalah memajang karton Kesepakatan Kelas tersebut di area yang strategis, misalnya di samping papan tulis atau di dekat pintu masuk kelas. Hal ini berfungsi sebagai pengingat visual harian bagi murid sebelum memulai pelajaran.
Kesepakatan kelas bukanlah dokumen mati. Guru bersama murid dapat melakukan refleksi bersama setiap satu bulan atau satu semester sekali. Tanyakan kepada murid: "Dari 5 poin ini, mana yang sudah berjalan sangat baik dan mana yang masih sering kita lupakan?" Jika ada poin yang dirasa sudah tidak relevan, kesepakatan bisa diperbarui bersama.
Dengan menerapkan lima langkah di atas pada minggu pertama sekolah, Bapak dan Ibu guru tidak perlu lagi menghabiskan energi untuk sering memarahi murid. Kelas akan hidup dengan kedisiplinan positif yang lahir dari dalam diri siswa itu sendiri.***