Krisis Murid SD Negeri Boyolali Kian Meluas, Disdik : Sekolah Favorit Juga Banyak Tak Penuhi Kuota
Putradi Pamungkas July 13, 2026 05:30 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Krisis murid di SD negeri tidak hanya terjadi di SD Negeri 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Boyolali, Jawa Tengah. 

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali mengungkapkan fenomena kekurangan peserta didik baru terjadi di banyak sekolah dasar, bahkan sekolah yang selama ini dikenal sebagai favorit pun banyak yang belum mampu memenuhi kuota penerimaan siswa baru.

Kepala Disdikbud Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pelaksanaan penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027.

"Kalau se-Kabupaten Boyolali, untuk Sekolah Dasar yang mendapatkan siswa 'unik' atau sangat sedikit memang ada beberapa, termasuk di Sawit. Di SD Negeri Cepokosawit itu tadi memang hanya dapat satu murid," ujar Kuncoro.

SPMB - Ilustrasi Sistem Pendaftaran Murid Baru (SPMB). Fenomena SD Negeri 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, yang hanya menerima satu peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027 ternyata bukan kasus yang berdiri sendiri.
SPMB - Ilustrasi Sistem Pendaftaran Murid Baru (SPMB). Fenomena SD Negeri 2 Cepokosawit, Kecamatan Sawit, yang hanya menerima satu peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027 ternyata bukan kasus yang berdiri sendiri. (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Sekolah Favorit Ikut Terdampak

Menurut Dwi, jumlah SD yang tidak mampu memenuhi daya tampung jauh lebih banyak dibandingkan sekolah yang berhasil memenuhi kuota.

Bahkan, kondisi itu juga dialami sekolah-sekolah yang selama ini memiliki predikat sebagai SD favorit.

"Untuk tingkat SD, jumlah yang tidak terpenuhi kuotanya jauh lebih banyak lagi. Bahkan sekolah-sekolah yang dicap sebagai SD favorit dengan daya tampung 28 siswa per rombongan belajar pun, sangat sedikit yang jumlah muridnya benar-benar penuh," ungkapnya.

Fenomena tersebut menunjukkan persaingan antarsekolah dalam memperoleh peserta didik baru semakin ketat di berbagai wilayah Kabupaten Boyolali.

Baca juga: SPMB 2026 Berakhir, SDN 3 Blumbang Karanganyar Nihil Murid Baru

Jumlah Anak Usia Sekolah Terus Menurun

Disdikbud Boyolali mencatat ada dua faktor utama yang menyebabkan banyak SD negeri mengalami kekurangan murid.

Faktor pertama ialah jumlah sekolah dasar yang masih cukup banyak, sementara lulusan taman kanak-kanak (TK) yang melanjutkan ke jenjang SD terus menurun.

"Jumlah sekolah masih cukup banyak, sementara lulusan TK yang masuk ke SD jumlahnya lebih sedikit," katanya.

Selain itu, faktor demografi juga turut memengaruhi kondisi tersebut.

Kecamatan Sawit menjadi salah satu wilayah dengan jumlah lulusan TK ke SD maupun lulusan SD ke SMP paling sedikit dibandingkan kecamatan lain di Kabupaten Boyolali.

Akibatnya, sejumlah sekolah setiap tahun kesulitan memperoleh peserta didik baru sesuai kapasitas yang tersedia.

Baca juga: Faktor Geografis dan Minim Siswa Jadi Kendala, SDN 3 Blumbang Karanganyar Tak Dapat Murid Baru

Krisis Murid Mulai Merambah SMP

Dwi mengungkapkan, fenomena kekurangan murid kini tidak lagi hanya terjadi di jenjang sekolah dasar.

Dari total 52 SMP di Kabupaten Boyolali, hanya 20 sekolah yang berhasil memenuhi kuota penerimaan siswa baru.

Sementara itu, 32 SMP lainnya masih memiliki kursi kosong.

Menurut Disdikbud, penurunan jumlah anak usia sekolah membuat banyak satuan pendidikan harus bersaing mendapatkan peserta didik baru.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.