MTsN 1 Asahan Tolak Ambil MBG, Sekitar 400 Siswa Tak Lagi Terima Makan Bergizi Gratis
Ayu Prasandi July 13, 2026 08:11 PM

TRIBUN-MEDAN.com, KISARAN - Beredar informasi sekolah MTsN 1 Asahan, Rawang Lama, Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan menolak mengambil makan bergizi gratis (MBG) di tahun ajaran baru, Senin (13/7/2026).

Diperkirakan sebanyak 400 orang siswa tak menerima manfaat MBG atas penolakan tersebut. Tokoh pemuda Asahan, Anda Suhendra Rambe menyoroti hal ini.

Anda yang juga merupakan ketua DPD Tani Merdeka Kabupaten Asahan ini, mengaku langkah yang diambil tersebut tidak sejalan dengan program pemerintah Prabowo Subianto.

Katanya, dirinya awalnya mendapat laporan dari orang tua siswa bahwa anak-anak mereka tak lagi menerima manfaat MBG.

Hal tersebut, disebut bahwa hal tersebut karena sekolah menolak menerima manfaat Makan Bergizi Gratis dari pemerintah.

"Kami awalnya ada yang menyampaikan. Orang tua siswa yang bilang kalau anaknya tidak menerima manfaat MBG. Setelah saya telusuri, ternyata memang satu sekolah tidak menerima manfaat MBG," ujar Anda Suhendra Rambe, Senin (13/7/2026).

Ia menilai, penghentian program tersebut berpotensi mengurangi manfaat yang selana ini diterima oleh ratusan siswa di MTsN 1 Asahan itu.

Kata Anda, MBG sebenarnya memiliki program yang baik untuk perbaikan gizi anak dan menekan angka stunting bagi anak-anak usia sekolah.

"Sebagai organisasi relawan yang dibentuk untuk mendukung program ketahanan pangan, kebijakan strategis Presiden Republik Indonesia ini, kami akan berkordinasi dengan kedua pihak," terangnya.

Ia berharap hak anak-anak untuk memperoleh makan bergizi gratis tersebut segera terpenuhi. Serta kedua belah pihak harus menurunkan ego masing-masing.

Sementara kepala satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) 02 Rawang Lama, Gunawan saat dikonfirmasi wartawan membenarkan hal tersebut.

Ia mengaku menerima surat dari MTsN 1 Asahan terkait penghentian status sebagai penerima manfaat MBG.

Gunawan membeberkan, dalam surat tersebut, pihak sekolah menyampaikan beberapa alasan, antara lain penilaian terhadap menu MBG yang dianggap belum sesuai, adanya konflik kepentingan, serta persoalan kerjasama yang dinilai kurang humanis.

Ia mengaku sudah berupaya membuka komunikasi dengan pihak sekolah. Namun, kunjungannya belum dapat bertemu dengan kepala sekolah.

"Saya sudah dua kali datang ke Sekolah, bahkan pernah didampingi oleh Babinsa. Kami juga mencatat buku tamu, namun memang belum berjodoh untuk bertemu dengan kepala sekolah," katanya.

Sementara itu, pihak kepala sekolah saat dikonfirmasi belum menjawab konfirmasi terkait alasan penghentian penerimaan manfaat MBG.

(cr2/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.