BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Penutupan sementara layanan BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU 24.331.131 Desa Nibung, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah ( Bateng ), Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ( Babel ), mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Sejak nozzle pengisian Pertalite ditutup dan diberi tanda spanduk putih bertuliskan “Mohon Maaf SPBU Dalam Pembinaan Untuk Melayani Anda Lebih Baik Lagi”, masyarakat pengguna Pertalite harus mencari bahan bakar ke SPBU lain.
Kondisi tersebut membuat antrean kendaraan di jalur pengisian Pertamax terlihat lebih padat. Sementara warga yang sehari-hari mengandalkan Pertalite harus menempuh jarak lebih jauh untuk memenuhi kebutuhan BBM.
Kepala Desa Nibung, Astiar, meminta PT Pertamina meninjau kembali penghentian sementara penyaluran Pertalite di SPBU tersebut. Menurutnya, kebijakan tersebut memberikan dampak luas terhadap aktivitas masyarakat.
"Seperti yang kita lihat sekarang, masyarakat begitu sulit mendapatkan BBM jenis Pertalite akibat dihentikannya pengiriman ke SPBU Desa Nibung. Kami meminta kepada pihak Pertamina agar dapat meninjau kembali penghentian sementara pengiriman BBM jenis Pertalite ke SPBU Desa Nibung," kata Astiar kepada Bangkapos Senin (13/07/2026).
Menurut Astiar, dampak penghentian penyaluran Pertalite tidak hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga mengganggu berbagai pelayanan masyarakat.
"Dampaknya sangat luar biasa. Mobil ambulans desa yang mengantar pasien ikut terhambat, begitu juga anak-anak sekolah, para petani, pekerja hingga ASN yang setiap hari membutuhkan kendaraan untuk beraktivitas," ujarnya.
Ia mengatakan Kecamatan Koba hanya memiliki dua SPBU yang melayani penjualan BBM subsidi jenis Pertalite. Akibatnya, ketika salah satu SPBU tidak beroperasi, masyarakat harus mencari BBM ke SPBU lain dan antrean menjadi lebih panjang.
"Di Kecamatan Koba ini khususnya hanya ada dua SPBU yang melayani BBM subsidi jenis Pertalite. Karena itu kami berharap Pertamina segera mengirimkan kembali pasokan Pertalite ke SPBU Desa Nibung agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi," katanya.
Astiar menyebutkan penghentian sementara penyaluran Pertalite memberikan efek berantai terhadap perekonomian desa.
"Petani merupakan mata pencaharian utama masyarakat Desa Nibung. Ketika mereka kesulitan mendapatkan BBM, mereka tidak bisa berangkat ke kebun. Bahkan ada beberapa warga yang pulang sambil mendorong motornya karena kehabisan bensin. Akibatnya, mereka kehilangan upah harian yang menjadi sumber penghasilan keluarga," ujarnya.
Manajer SPBU 24.331.131 Desa Nibung, Ruli menjelaskan, penghentian sementara layanan Pertalite dilakukan setelah pihaknya menerima surat sanksi dari PT Pertamina terkait evaluasi pelayanan di SPBU tersebut.
"Hari Kamis (9/7/2026) kami mendapatkan surat sanksi dari Pertamina berupa penutupan sementara layanan BBM subsidi jenis Pertalite karena terkait pelayanan yang kurang baik seperti video viral terkait antrean pihak Pertamina juga telah melakukan pengecekan ke lapangan," kata Ruli.
Menurutnya, sanksi tersebut berlaku selama satu minggu. Apabila tidak ada perubahan, penyaluran Pertalite diperkirakan kembali dibuka pada Kamis (16/7/2026).
"Surat yang kami terima dari Pertamina berlaku selama satu minggu. Kemungkinan kami kembali mendapatkan pasokan Pertalite pada Kamis (16/7/2026)," ujarnya.(Bangkapos.com/Erlangga)