Dosen UMY Sebut Pidato Presiden Prabowo Terlalu Dominan Narasi Historis dan Emosional
Muhammad Fatoni July 13, 2026 09:14 PM

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menyebut pidato Presiden Prabowo Subianto pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, Minggu (12/7/2026) kemarin masih terlalu dominan pada narasi historis dan emosional. 

Kendati membangkitkan semangat massa, namun kurang memberikan sentuhan konkret, data terkini, dan solusi visioner yang dibutuhkan pelaku pasar dan investor.

"Meski penuh semangat, pidato tersebut terasa kurang selaras dengan kondisi kekinian. Banyak bagian pidato masih terlalu dominan pada narasi historis dan emosional," katanya, Senin (13/7/2026).

Dari perspektif akademisi Ilmu Komunikasi, ia memandang setiap ucapan presiden bukan sekadar pidato biasa.

Ucapan presiden merupakan pesan berisiko tinggi yang langsung memengaruhi persepsi publik, kepercayaan investor, serta sentimen pasar secara keseluruhan.

Menurut dia, pola komunikasi yang paling tepat bagi Presiden Prabowo adalah pendekatan yang lebih strategis, inklusif, dan berorientasi pada audiens. 

"Sebaiknya, pidato kepresidenan mengalir dengan keseimbangan yang indah antara emosi yang menyentuh hati, logika yang didukung data faktual, serta kredibilitas yang menenangkan," terangnya.

Fajar melanjutkan framing positif memang diperlukan. 

Kendati demikian, struktur pidato mestinya lebih jelas serta menggambarkan situasi terkini.

Baca juga: Pakar UGM Soroti Pidato Prabowo pada Hari Koperasi, Ingatkan Risiko Model Top-Down  

Perlu Aksi Konkret

Tak hanya itu, diperlukan data pendukung, visi jangka panjang yang inspiratif, menawarkan aksi konkret yang terukur, serta manfaat nyata bagi berbagai lapisan masyarakat. 

"Nada yang tegas namun tetap empati dan terkendali akan jauh lebih efektif daripada retorika yang terlalu konfrontatif," lanjutnya.

Ia menambahkan komunikasi yang baik juga tidak berhenti saat pidato usai.

Namun, diperlukan kelanjutan yang terencana melalui penjelasan teknis, konten yang mudah dipahami, serta dialog terbuka dengan berbagai pihak. 

Untuk itu, ia mendorong adanya tim komunikasi khusus yang profesional untuk membantu menyusun pesan yang tajam, mengantisipasi dampak pasar, menjaga konsistensi narasi, serta mengelola dinamika media sosial yang semakin cepat.

"Kehadiran tim semacam ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud profesionalisme dalam memimpin komunikasi kenegaraan di era modern. Pada akhirnya, komunikasi yang efektif akan menjadi katalisator penting bagi keberhasilan berbagai program pembangunan nasional," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.