SERAMBINEWS.COM – Iran dilaporkan telah menembak jatuh sekitar 30 drone tempur MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat sejak pecahnya perang. Informasi tersebut disampaikan seorang pejabat AS pada Rabu, menandai salah satu kerugian terbesar yang dialami armada pesawat nirawak Washington dalam konflik ini.
MQ-9 Reaper merupakan drone andalan Angkatan Udara AS yang mulai dioperasikan sejak 2007. Selama hampir dua dekade, pesawat tanpa awak ini menjadi tulang punggung berbagai operasi militer Amerika di Timur Tengah, termasuk perang di Irak dan Afghanistan.
Namun, keunggulan Reaper yang dirancang untuk beroperasi di wilayah dengan dominasi udara AS kini mulai terpukul oleh kemampuan pertahanan udara Iran.
Baca juga: Laser Sinar Besi Israel Resmi Dipakai, Bisa Tembak Drone dan Rudal Iran dari Pesawat Tempur
Media pemerintah Iran sebelumnya mengklaim telah menembak jatuh satu MQ-9 Reaper saat serangan udara AS pada Selasa. Sehari kemudian, Teheran kembali mengumumkan berhasil menghancurkan sebuah "drone musuh" di wilayah selatan Iran.
Setiap unit MQ-9 Reaper memiliki nilai sekitar US$16 juta atau setara lebih dari Rp260 miliar (kurs Rp16.300 per dolar). Dengan estimasi 30 unit yang hilang, nilai kerugian Amerika diperkirakan mencapai sekitar US$480 juta, belum termasuk perlengkapan dan persenjataan yang dibawa drone tersebut.
Pabrikan General Atomics sendiri telah menghentikan produksi MQ-9 Reaper pada tahun lalu setelah membangun total 575 unit. Kontrak pembelian terakhir diumumkan Angkatan Udara AS pada 2020.
"Pemain Paling Berharga" dalam Perang
Pada Mei lalu, Kepala Staf Angkatan Udara AS, Jenderal Kenneth Wilsbach, menyebut MQ-9 Reaper sebagai "most valuable player" (MVP) dalam operasi militer melawan Iran.
"Kami telah melaksanakan sangat banyak serangan. Tidak ada platform lain yang mendekati kemampuannya," ujar Wilsbach saat sidang anggaran di Kongres.
Pernyataan itu menunjukkan betapa pentingnya peran Reaper dalam strategi serangan udara Amerika terhadap target-target Iran.
Serangan Berlanjut Meski Gencatan Senjata Rapuh
Laporan ini muncul ketika Amerika Serikat kembali melancarkan gelombang serangan baru ke Iran pada Rabu. Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang sempat diumumkan praktis telah berakhir setelah kedua pihak terus saling melancarkan serangan.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa operasi terbaru dilakukan untuk meminta pertanggungjawaban Iran atas aksi yang disebut sebagai agresi terhadap pelayaran komersial dan awak sipil di jalur pelayaran internasional.
Sejumlah Pesawat Tempur AS Juga Hilang
Selain kehilangan puluhan drone Reaper, militer AS juga mengalami sejumlah insiden serius selama konflik berlangsung.
Pada Maret, tiga jet tempur F-15 Amerika secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait. Seluruh awak berhasil menyelamatkan diri dengan kursi lontar.
Di bulan yang sama, sebuah pesawat tanker KC-135 jatuh di Irak barat setelah bertabrakan di udara dengan pesawat KC-135 lainnya, menewaskan enam awak.
Sementara pada April, sebuah F-15 ditembak jatuh oleh Iran. Pilot berhasil diselamatkan, sedangkan petugas sistem persenjataan dievakuasi dua hari kemudian. Sebuah pesawat serang A-10 yang memberikan dukungan dalam operasi penyelamatan juga terkena tembakan Iran, namun masih sempat terbang ke Kuwait sebelum akhirnya jatuh dan pilotnya berhasil keluar dengan selamat.
Meski demikian, klaim bahwa sekitar 30 MQ-9 Reaper telah ditembak jatuh belum disertai bukti publik yang dapat diverifikasi secara independen, dan hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Pentagon mengenai jumlah pasti drone yang hilang dalam konflik tersebut.