Anak Ponpes Terjun ke Bisnis Kafe di Banjarbaru, Nama Tempat Usaha Pun Sarat Makna Spiritual
M.Risman Noor July 13, 2026 10:49 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU-Berawal dari suka nongkrong, membuat sekolompok anak muda di Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) terjun ke dunia bisnis dengan menjalankan usaha kafe.

Itulah awal mula berdirinya kafe Tujuh Persen Coffee & History yang tertelatak di Jalan Dahlina, Kelurahan Loktabat Selatan, Kecamatan Banjarbaru, Selatan, Kota Banjarbaru.

Leader Cafe Tujuh Persen, Muhammad Zainal Ilmi mengungkapkan ia dan teman-temannya membangun kafe ini karena gemar nongkrong dan ingin menciptakan perputaran ekonomi.

Menurutnya, nama Tujuh Persen diambil dari latar belakangnya sebagai anak pondok pesantren, yang merujuk pada 7 anggota tubuh saat sujud. Sedangkan kata History ditambahkan karena ia dan teman-temannya menyukai sejarah.

"Awalnya kan karena basic kami ini anak pondok (pesantren). Jadi Tujuh Persen itu,  tujuh anggota sujud. Nah, diambil dari sana, dari tujuh anggota sujud yang buat wudhu," ungkap salah satu Owner Cafe Tujuh Persen ini.

Baca juga: Harkopnas 2026, Hanya 29 Koperasi dari 490 yang Dinilai Sehat di Kota Banjarmasin

Baca juga: Penjualan Seragam Sekolah di Banjarbaru Melonjak, Pedagang Pasar Bauntung Akui Kenaikan 50 Persen

Lanjut Zen, Kafe ini dibangun secara bertahap dari area depan, dalam, hingga ke belakang dan berhasil melakukan renovasi pertamanya setelah satu tahun berjalan.

Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan kembali melakukan penambahan fasilitas cafe seperti ruangan area bebas rokok.

“Untuk saat ini kan, karena banyak permintaan customer untuk AC, untuk ramah perempuan itu yang anti rokok lah. Untuk saat ini sampai di situ dulu, tapi untuk ke depan kita persiapkan untuk smoking area di bagian samping, sama private room untuk rapat, untuk nongkrong yang biar suka main musik, kesenian, itu nggak terganggu,” ujarnya

Tidak hanya menjadi tempat nongkrong dan minum kopi, kafe Tujuh Persen Coffee & History juga memberikan wadah bagi mahasiswa yang melakukan kegiatan diskusi hingga nonton bareng (nobar).

Ia menyebut bahwa kafe mereka ini menyasar kalangan mahasiswa sebagai tempat diskusi, baik untuk membahas sejarah maupun lainnya.

“Branding dari awal memang untuk diskusi, untuk membahas-membahas sejarah atau menciptakan sejarah baru, itu harapannya,” ujarnya.

Berbagai varian kopi disini dibanderol dengan harga muli Rp10 ribu, harga yang cukup bersahabat di kantong. (banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.