Apa Pun! Jude Bellingham vs Thomas Tuchel Hanya ‘Badai di Cangkir Teh’ bagi Inggris di Piala Dunia 2026 Meski Ada ‘Sejarah’ di Antara Keduanya
Rina Kusumawati July 14, 2026 02:24 AM

Jude Bellingham dan Thomas Tuchel memiliki “sejarah” panjang dan masih sesekali berselisih, namun mantan pemain tim nasional Inggris, Gary Pallister, menjelaskan kepada GOAL bahwa pertukaran kata terbaru antara keduanya tidak lebih dari sekadar “badai di cangkir teh”. Skuad Inggris 2026 sedang berupaya menorehkan keabadian di Piala Dunia yang digelar di Amerika Utara, dan sangat penting untuk menjaga keharmonisan di dalam tim.

Karakter Tuchel: Tegas namun menginginkan suasana tim yang bahagia

Tidak ada tanda-tanda perpecahan di tim tersebut. Semangat yang dibangun di bawah asuhan Sir Gareth Southgate—yang membawa Inggris ke dua final Kejuaraan Eropa secara beruntun dan memberinya gelar bangsawan—masih terjaga dan kini disempurnakan oleh staf kepelatihan baru.

Mantan pelatih Chelsea, Paris Saint-Germain, dan Bayern Munich itu dikenal sebagai sosok yang menuntut banyak hal, tetapi juga memiliki sisi publik dan pribadi yang berbeda. Tuchel tidak akan memanjakan ego pemain atau membiarkan suasana tim terguncang, tetapi ia ingin rasa percaya diri dan energi positif tumbuh di ruang ganti.

Walau belum sepenuhnya memperlihatkan gaya permainan menyerang seperti yang dijanjikan saat ia diangkat sebagai pelatih, catatan prestasinya sulit untuk dibantah. Setelah membawa Inggris melalui kualifikasi Piala Dunia tanpa cela, kini mereka telah mencapai babak semifinal turnamen besar lainnya dan tinggal dua pertandingan lagi dari trofi pertama dalam 60 tahun.

Apa yang dikatakan Tuchel & Bellingham setelah kemenangan Inggris atas Norwegia

Tuchel tidak sepenuhnya terkesan dengan performa anak asuhnya ketika menyingkirkan Norwegia dalam laga perempat final yang melelahkan di bawah suhu panas tinggi di Stadion Hard Rock, Miami. Pelatih asal Jerman itu memuji “usaha” para pemain, tetapi menilai timnya bermain agak “ceroboh”.

Bellingham langsung mengetahui komentar tersebut dan menanggapinya dengan berkata: “Ya, baiklah, terserah. Itu pertandingan yang sangat berat, jadi saya menghargai kerja keras semua pemain yang sudah berjuang habis-habisan di lapangan.”

Ia menambahkan: “Mungkin dia tidak tahu seperti apa rasanya bermain dalam kondisi seperti ini melawan Erling Haaland, [Martin] Odegaard, [Antonio] Nusa, [Alexander] Sorloth, kalian tahu. Itu bukan tim yang mudah dihadapi.”

Pernyataan pascalaga itu menjadi bahan perbincangan hangat, mengingat Tuchel sebelumnya juga pernah mengkritik perilaku Bellingham di lapangan dan memicu perdebatan mengenai peran bintang Real Madrid tersebut dalam skemanya.

Di Piala Dunia kali ini, Bellingham tampil luar biasa dengan mencetak enam gol sekaligus menjadi pemimpin berkarisma. Namun, apakah komentar spontan setelah laga itu perlu ditanggapi serius?

Bellingham vs Tuchel: Mengapa keduanya sama-sama benar dalam penilaiannya

Memberikan pandangannya tentang situasi itu, mantan bek Inggris Gary Pallister — dalam wawancara dengan NetBet Sport — mengatakan kepada GOAL: “Saya rasa tidak ada penggemar Inggris yang mengatakan bahwa kami bermain hebat malam itu [melawan Norwegia]. Semua tahu itu.”

“Saya juga tidak menganggap itu pertandingan yang bagus. Kedua tim kesulitan karena panas yang ekstrem. Orang perlu memahami betapa beratnya kondisi itu. Saya mengerti kenapa Jude berkata begitu, karena saya sendiri pernah berlibur di suhu 35 derajat dan bahkan tidak sanggup berjemur, hanya bisa berendam di kolam renang!”

“Mereka bermain dalam suhu hampir 40 derajat. Saya pernah bermain dalam kondisi serupa di Thailand, dan itu sangat mengerikan. Udara benar-benar tidak ada. Kalian tahu maksud saya? Sekali sprint saja terasa seperti lari maraton. Sangat berat. Memang panasnya berlaku untuk kedua tim, tetapi itu memengaruhi pertandingan dan performa. Beberapa pemain juga sudah mengakui hal itu.”

“Tuchel benar, kami memang tidak bermain baik. Tapi Jude juga benar. Kalian harus mengerti betapa sulitnya bertanding di kondisi seperti itu dan tetap tampil di level tertinggi ketika kalian bahkan kesulitan bernapas. Jadi, saya tidak akan mempermasalahkannya lebih jauh.”

“Kita tahu ada sedikit sejarah antara keduanya — Tuchel pernah tidak menyertakannya dalam beberapa skuad dan pertandingan. Mungkin saat itu keputusan tersebut tepat untuk Jude maupun tim Inggris.”

“Dia adalah pelatih, dia bosnya, jadi tidak perlu menantangnya. Saya rasa keputusan Tuchel di awal hubungan mereka mungkin memang yang terbaik. Sekarang kita melihat versi terbaik dari Jude.”

“Dia adalah salah satu pemain terbaik di Piala Dunia ini. Penampilannya luar biasa untuk Inggris. Dia mencetak gol, menunjukkan bahwa dirinya bertalenta kelas dunia, serta memiliki semangat dan tekad untuk membawa tim ini menuju kemenangan yang semua harapkan.”

“Saya yakin ini tidak lebih dari sekadar badai di cangkir teh. Tidak akan berkembang lebih jauh. Jude sangat ingin menambah kemenangan bersejarah bagi Inggris di Piala Dunia ini. Saya yakin dia akan tampil luar biasa lagi saat melawan Argentina.”

Piala Dunia 2026: Inggris bersiap hadapi Argentina di semifinal

Bellingham sebelumnya membawa Inggris kembali unggul setelah kehilangan keunggulan di laga pembuka melawan Kroasia. Ia kemudian memecah kebuntuan dalam pertandingan sulit kontra Panama, sebelum mencetak dua gol dalam laga 16 besar melawan Meksiko di Stadion Azteca.

Ia kembali mencatatkan dua gol saat menghadapi Norwegia, membantu tim Tuchel bangkit setelah tertinggal lebih dulu, dan merayakan kemenangan dramatis lewat gol di perpanjangan waktu. Kini, The Three Lions siap menghadapi Lionel Messi dan juara bertahan Argentina di Atlanta pada hari Rabu.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.