TRIBUNNEWS.COM - Ada pepatah lama dalam sepak bola yang berbunyi, "Attack wins you games, defence wins you titles. Serangan memenangkan pertandingan, tetapi pertahanan memenangkan gelar.
Semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol yang akan berlangsung di Stadion Dallas, pada Rabu (14/7/2026) pukul 02.00 WIB, seolah menjadi panggung untuk membuktikan kebenaran pepatah tersebut.
Prancis dan Spanyol menempuh jalur yang berbeda untuk mencapai semifinal Piala Dunia 2026. La Roja membangun kesuksesan di atas fondasi pertahanan yang solid, sementara Les Bleus memanfaatkan lini serang mereka yang dipenuhi oleh para bintang.
Kekuatan pertahanan bukanlah sesuatu yang menggambarkan sepak bola Spanyol karena lebih identik dengan tiki-taka, permainan yang fokus pada penguasaan bola, operan pendek, dengan kombinasi gaya menyerang.
Tapi di bawah asuhan Luis De La Fuente, Spanyol saat ini tidak lagi hanya mengandalkan serangan atau operan indah, tetapi juga menambahkan aspek baru ke menu permainan mereka, yaitu pertahanan yang kuat dan solid.
"Spanyol dipandang sebagai salah satu tim dengan pertahanan paling solid di turnamen ini, terbukti dengan catatan clean sheet mereka."
"Dibanding era sebelumnya, Spanyol di bawah asuhan Luis de la Fuente kini lebih adaptif. Mereka tetap mempertahankan penguasaan bola, namun kini lebih berani bermain secara vertikal, langsung (direct), dan tidak sekadar melakukan umpan-umpan pendek demi statistik," dari kesimpulan podcast Super Taktik Tribunnews dengan narasumber Football Enthusiast Bayu Ajianto dan Gigih yang direkam di kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Pertahanan kokoh ini bukan cuma pelengkap, melainkan menjadi fondasi dan faktor paling krusial yang membawa Spanyol meraih kesuksesan atau kemenangan dalam turnamen-turnamen terbaru mereka.
Menurut statistik Opta, Spanyol mempertahankan gaya permainan umpan mereka yang khas, menyelesaikan 598 umpan per pertandingan di Piala Dunia, jumlah itu hanya kalah dari Argentina.
Spanyol juga mencatatkan rata-rata penguasaan bola lebih banyak daripada tim lain (66,0 persen), serta mampu meminimalkan peluang yang diberikan kepada lawan.
Itu artinya, Spanyol di bawah Luis de La Fuente tidak meninggalkan jati diri mereka sebagai tim yang mendominasi permainan dengan seni umpan antarpemain.
Setelah enam pertandingan hingga babak semifinal, Spanyol hanya menghadapi 7 tendangan tepat sasaran.
Catatan itu adalah yang paling rendah yang dihadapi per pertandingan (1,17) dari tim mana pun di Piala Dunia sejak 1966.
Selain mahir dalam meminimalkan jumlah tembakan tepat sasaran lawan, anak asuh de la Fuente juga jago mengendalikan harapan gol (xG) lawan yang mereka terima.
Spanyol hanya kebobolan 0,31 xG per pertandingan di turnamen ini, hanya Uruguay yang mencatatkan 0,31 xG per laga, tetatpi itu terjadi di Piala Dunia 1990.
Di balik lini pertahanan tim yang solid, ada kualitas individu yang menunjang dan tampil menonjol.
Di antaranya Aymeric Laporte dengan keahliannya mengatur pertahanan, Unai Simons di bawah mistar gawang dengan gerakannya yang cekatan dalam menepis peluang lawan.
Perlu diketahui, kipper Bilbao itu meencatatkan 100 persen keberhasilan menepis upaya lawan, enam dari enam peluang.
Selain itu ada sang kapten, Rodri yang jago dalam merebut bola dari lawannya. Catatan duelnya lebih banyak dari pemain lainnya di Piala Dunia 2026.
Lalu Pau Cubarsi dan Marc Cucurella. Mereka semua adalah satu kesatuan yang jarang digantikan oleh Luis de la Fuente.
Prancis adalah tim paling produktif dengan koleksi 16 gol dalam enam pertandingan Piala Dunia.
Produktivitas Prancis benar-benar mencolok. Les Bleus telah mencetak 16 gol, melepaskan 47 tembakan tepat sasaran, serta membukukan expected goals (xG) tertinggi sepanjang turnamen dengan total 14,3.
Rata-rata 7,8 tembakan tepat sasaran per pertandingan saat ini adalah yang tertinggi sejak tahun 1966.
Selain itu, anak asuh Didier Deschamps juga mencatatkan xG tertinggi dibandingkan tim lainnya di ajang empat tahunan ini.
Prancis telah menghasilkan total 14,3 xG, setidaknya 1,6 lebih banyak daripada tim lain, Argentina berada di urutan kedua.
Lini serang mereka dipimpin oleh Mbappe yang tampil luar biasa. Delapan gol dan tiga assist menjadikan Kylian Mbappe sebagai pusat ancaman Prancis.
Bintang Real Madrid itu juga masih bersaing ketat dengan Lionel Messi dalam perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026.
Mbappe telah menjalin kerjasama yang baik dengan para penyerang yang dimiliki Prancis, Dembele, Doue, hingga Olise.
Jika Mbappe dan Dembele digabung, keduanya telah menghasilkan 19 peluang, hanya ada tiga pasang pemain sejak 1966 yang menciptakan 20 lebih peluang untuk satu sama lainnya di putaran final Piala Dunia.
Sementara Olise adalah kekuatan kreatif mereka di lini tengah. Ia berada di puncak pemberi assist terbanyak (5) untuk rekannya, dan menjadi pemain pertama yang mencapai angka tersebut dalam satu edisi Piala Dunia sejak Thomas Habler dari Jerman (1994).
Olise hanya berjarak satu assist lagi untuk menyamai rekor Pele sebagai pemberi assist terbanyak di Piala Dunia sejak 1966.
Semifinal di Dallas pada akhirnya bukan sekadar perebutan tiket menuju final.
Laga ini akan menjadi pertarungan dua filosofi yang sama-sama terbukti ampuh sepanjang turnamen: ketajaman lini depan Prancis melawan kokohnya benteng pertahanan Spanyol.
Siapa yang bertahan hingga akhir, pepatah lama sepak bola mungkin kembali menemukan pembuktiannya.
(Tribunnews.com/Sina)