Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026, KRI Ajak-653 Bawa Rp 6 Milliar di Wilayah 3T Kaltara dan Kaltim
Junisah July 14, 2026 02:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara kembali menggelar Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026  menggandeng Komando Daerah Maritim (Kodaeral) XIII  Koarmada II untuk memastikan masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan terpencil ) Kalimantan Utara memperoleh uang rupiah yang layak edar sekaligus memperkuat kedaulatan negara.

Pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat dilakukan di Dermaga Kodaeral XIII Tarakan, Selasa (13/7/2026), menggunakan KRI Ajak-653 milik TNI Angkatan Laut (AL) yang akan berlayar selama tujuh hari menuju Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, Pulau Derawan, sebelum kembali ke Tarakan.

Turut hadir Wali Kota Tarakan dan unsur forkopimda, mitra KpwBI Kaltara dan perbankan dalam kegiatan pelepasan Ekpedisi Rupiah Berdaulat pagi hingga siang tadi.

Sesaat sebelum dilepaskan, dilakukan penyematan rompi kepada para petugas pengantar uang layak edar. Selanjutnya mereka satu per satu naik ke KRI Ajak-653. Seluruh awak kapal siaga saat detik detik dilakukan pelepasan KRI Ajak-653. 

Baca juga: Ekspedisi Rupiah Berdaulat Gunakan KRI Singa 651, Bawa Uang Rp 5 Milliar Datangi Lima Wilayah 3T

Tampak petugas kapal di bagian haluan dan  buritan siaga melepaskan tali  tali yang terikat di tiang baja atau bolder Dermaga Kodaeral XIII Tarakan.

Sesaat sebelum KRI Ajak-653 meninggalkan dermaga, kepulan asap kehitaman mulai membumbung dari cerobong di bagian buritan kapal, menandakan mesin utama telah dihidupkan. 

Suara deru mesin perlahan memecah suasana pelabuhan, sementara awak kapal bersiap di pos masing-masing. Tak lama kemudian, tali tambat dilepaskan dari bolder dermaga, dan KRI Ajak-653 itu perlahan bergerak meninggalkan dermaga  untuk memulai pelayaran Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026. 

Kepala Perwakilan BI Kalimantan Selatan sekaligus Kepala Koordinator BI Kalimantan, Aris Munandar, mengatakan Ekspedisi Rupiah Berdaulat bukanlah program baru. Kegiatan tersebut telah berjalan sejak 2012 dan terus diperluas jangkauannya.

"Kegiatan Ekspedisi Rupiah Berdaulat ini sudah sejak 2012 dan sudah 150 kali perjalanan. Sebetulnya ini jauh dari cukup mengingat jumlah pulau di Indonesia yang berpenghuni ada sekitar seribu. Kebutuhan rupiah itu bukan setahun sekali, tetapi setiap hari," ujarnya yang diwawancarai doorstop usai kegiatan.

Menurut Aris Munandar, kerja sama strategis antara Bank Indonesia dan TNI AL  menjadi kunci agar pelayanan penukaran uang di wilayah 3T semakin mudah dijangkau masyarakat.

Melalui sinergi tersebut, Bank Indonesi berharap distribusi uang layak edar ke daerah perbatasan, pulau terluar maupun wilayah terpencil tidak lagi menjadi kegiatan yang bersifat khusus, melainkan pelayanan yang dapat dilakukan secara rutin.

Ia menegaskan, tujuan utama ekspedisi bukan hanya mengedarkan uang rupiah, melainkan menjaga rupiah sebagai simbol kedaulatan negara dan pemersatu bangsa.

"Kami berterima kasih kepada jajaran TNI Angkatan Laut dengan kerja sama yang sangat luar biasa, lancar dan mulus sampai saat ini untuk menjaga agar rupiah tetap menjadi simbol kedaulatan negara, simbol persatuan dan menjadi kebanggaan rakyat di mana pun berada, termasuk yang tinggal di daerah terdepan, terluar, dan terpencil," ucapnya.

Pada pelaksanaan tahun ini, Bank Indonesia membawa uang layak edar senilai Rp6 miliar dalam berbagai pecahan. Nominal tersebut meningkat dibanding ekspedisi pada tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata berada di bawah Rp5 miliar.

Baca juga: Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2024 Kembali Digelar, Kelilingi Lima Wilayah 3T Bawa Rp 8 Miliar

Aris menjelaskan, uang yang dibawa bukan hanya untuk mengganti uang lusuh maupun rusak, tetapi juga memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap pecahan kecil yang digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

"Di samping untuk penukaran uang lusuh atau uang robek, apabila ada kebutuhan uang yang lebih kecil untuk ke pasar atau anak-anak sekolah juga bisa dilakukan," jelasnya.

Berdasarkan hasil survei BI, sekitar 80 persen uang yang beredar di sejumlah wilayah sasaran sebenarnya sudah waktunya diganti.Meski sebagian besar masih layak digunakan sebagai alat pembayaran, BI memilih menggantinya lebih awal agar masyarakat memperoleh uang dengan kualitas yang lebih baik.

"Bukan berarti tidak layak edar, tetapi alangkah baiknya masyarakat tidak menunggu sampai uang benar-benar rusak atau robek," katanya.

Selain pelayanan kas keliling, Bank Indonesia juga memanfaatkan ekspedisi untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ciri-ciri keaslian rupiah.

Menurut Aris, literasi mengenai rupiah justru menjadi bagian yang sangat penting karena masyarakat perlu mengetahui cara mengenali uang asli melalui metode dilihat, diraba, dan diterawang.

"Kami memandang edukasi dan literasi rupiah jauh lebih penting, karena masyarakat akan memahami mana rupiah asli. Di rupiah kita ada paling tidak tujuh tanda khusus yang menyatakan bahwa uang tersebut asli," ujarnya.

Aris mengungkapkan, pengalaman ekspedisi sebelumnya menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap uang layak edar selalu tinggi.

Bahkan, uang yang dibawa hampir selalu habis ditukarkan sehingga BI terus mengevaluasi kebutuhan nominal maupun perluasan wilayah pelayanan. Ia juga menyebutkan, peningkatan terbesar dari program ini bukan semata pada jumlah uang yang dibawa, melainkan bertambahnya pulau yang disinggahi.

Jika sebelumnya hanya menyasar pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara lain, kini cakupan pelayanan juga diperluas ke pulau-pulau berpenghuni lainnya di Kalimantan.

PELEPASAN KRI AJAK-653 - Pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat di Dermaga Kodaeral XIII Tarakan, Selasa (13/7/2026), menggunakan KRI Ajak-653 milik TNI Angkatan Laut yang akan berlayar selama tujuh hari menuju Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, Pulau Derawan, sebelum kembali ke Tarakan.
PELEPASAN KRI AJAK-653 - Pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat di Dermaga Kodaeral XIII Tarakan, Selasa (13/7/2026), menggunakan KRI Ajak-653 milik TNI Angkatan Laut yang akan berlayar selama tujuh hari menuju Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, Pulau Derawan, sebelum kembali ke Tarakan. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Komandan Kodaeral XIII, Laksamana Muda TNI Sumarji Bimoaji, mengatakan TNI Angkatan Laut kembali dipercaya mendukung distribusi rupiah ke wilayah kepulauan melalui pengerahan KRI Ajak-653.

Ia tak menampik ada tantangan geografis Kalimantan Utara memang tidak mudah, namun telah diantisipasi dengan kesiapan personel, kapal perang, hingga pemantauan cuaca.

Ia menyebutkan, Ekspedisi Rupiah Berdaulat Tahun 2026 ini merupakan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. " Khusus wilayah geografis Kalimantan Utara maupun sekitar perairan Kalimantan memang tantangannya tidak mudah sehingga kami mengerahkan unsur yang dapat menyesuaikan situasi," ujarnya.

Ia mengatakan, hasil pemantauan cuaca menunjukkan kondisi pelayaran diperkirakan cukup bersahabat selama pelaksanaan ekspedisi. KRI Ajak-653 yang digunakan juga dinilai memiliki stabilitas tinggi sehingga mampu mendukung distribusi uang ke wilayah kepulauan.

"Kami sudah mengecek perkiraan cuaca, insya Allah selama proses Ekspedisi Rupiah Berdaulat Tahun 2026 cuaca akan bersahabat. Unsur yang kami kerahkan adalah KRI Ajak-653 yang memiliki stabilitas sangat baik dan dapat mendukung pendistribusian rupiah berkualitas ke wilayah-wilayah tersebut," katanya.

Menurut Sumarji, rute pelayaran tahun ini mencakup lima titik, yakni Pulau Sebatik, Pulau Bunyu, Pulau Maratua, Teluk Sulaiman, dan Pulau Derawan. Seluruh lokasi tersebut merupakan wilayah yang telah cukup dikenal oleh awak KRI Ajak karena sering menjadi daerah patroli TNI AL.

Ia menambahkan, KRI Ajak bukan kali pertama mendukung ekspedisi serupa.
KRI Ajak sudah lebih dari lima kali mendukung kegiatan ini. Sebelumnya juga ada KRI Singa dan KRI Hiu yang mendukung ekspedisi di wilayah Kalimantan. "Mereka adalah unsur satuan kapal cepat ini sangat efektif untuk penyebaran rupiah ke wilayah terpencil," katanya.

 Mewakili Gubernur Kalimantan Utara, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kaltara H. Sapi'i menyampaikan apresiasi atas kembali digelarnya Ekspedisi Rupiah Berdaulat di wilayah perbatasan.

"Ekspedisi Rupiah Berdaulat bukan sekadar agenda distribusi uang rupiah layak edar, tetapi juga merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjangkau masyarakat hingga wilayah terdepan, terluar, dan terpencil," ujarnya.

Sapi'i menambahkan, Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga memiliki posisi strategis dalam menjaga kedaulatan bangsa.

Karena itu, keberadaan rupiah di wilayah perbatasan menjadi simbol identitas nasional sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi dan persatuan masyarakat.

"Kami juga mengapresiasi sinergi Bank Indonesia dan TNI Angkatan Laut yang kembali menghadirkan layanan kas keliling ke lima pulau sasaran di Kalimantan Utara," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.