Rudal Iran Hantam Dua Kapal Tanker UEA di Selat Hormuz, Satu WN India Tewas
Faisal Zamzami July 14, 2026 08:38 PM

 


SERAMBINEWS.COM, DUBAI – Satu awak kapal berkewarganegaraan India tewas dan delapan lainnya terluka setelah dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab (UEA) dihantam rudal Iran di Selat Hormuz pada Senin (13/7/2026).

Serangan tersebut semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Teluk yang selama beberapa pekan terakhir diwarnai eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat.

Dua kapal yang menjadi sasaran adalah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) Mombasa B dan Al Bahyah, yang dioperasikan oleh ADNOC L&S, anak perusahaan pelayaran Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).

Menurut Kementerian Pertahanan UEA, kedua kapal diserang ketika melintasi jalur selatan Selat Hormuz di perairan teritorial Oman. Serangan memicu kebakaran di dalam kapal dan menyebabkan kerusakan material yang signifikan.

Seorang awak kapal yang berada di atas Mombasa B dilaporkan meninggal dunia. Dari delapan korban luka, empat di antaranya mengalami luka serius. Enam korban luka merupakan warga negara India, sedangkan dua lainnya berkewarganegaraan Ukraina.

Dalam pernyataannya, Kementerian Pertahanan UEA mengecam serangan tersebut dan menegaskan bahwa negaranya memiliki hak untuk memberikan respons.

"UEA tetap memiliki hak penuh untuk menanggapi eskalasi ini," demikian pernyataan resmi kementerian.
ADNOC diketahui menjadi salah satu perusahaan yang aktif mendukung operasi pemindahan minyak mentah dari Teluk menuju pasar internasional melalui skema ship-to-ship transfer (STS) di luar Selat Hormuz.

Operasi tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kelancaran ekspor minyak di tengah meningkatnya ancaman terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca juga: Drone Laut AS Hantam Fasilitas Kapal Selam Iran di Bandar Abbas

IRGC Klaim Kapal Abaikan Peringatan

Secara terpisah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengakui telah menembaki dua kapal tanker super yang disebut melakukan pelanggaran di Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, IRGC menyebut kedua kapal mengabaikan peringatan berulang kali, mematikan sistem navigasi, serta berupaya melintasi jalur yang diklaim dipenuhi ranjau.

Menurut IRGC, tindakan tersebut memaksa pasukannya untuk melumpuhkan kapal-kapal tersebut.

Namun, IRGC tidak menyebut nama kapal yang menjadi sasaran sehingga belum dapat dipastikan apakah pernyataan itu merujuk pada Mombasa B dan Al Bahyah.

IRGC juga menuduh Amerika Serikat mendorong kapal-kapal komersial menggunakan jalur yang dianggap ilegal. Menurut mereka, kerja sama dengan pihak yang disebut sebagai musuh hanya akan memperburuk situasi, menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz, dan memicu krisis energi global.

Laporan UKMTO

Sementara itu, badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) pada Selasa (14/7/2026) melaporkan sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum teridentifikasi saat berlayar sekitar 40 mil laut di timur laut Qalhat, Oman.

Kapten kapal melaporkan proyektil menghantam ruang mesin di sisi kanan kapal. Meski demikian, seluruh awak kapal dinyatakan selamat.

Hingga kini belum dapat dipastikan apakah laporan UKMTO merujuk pada insiden yang sama dengan serangan terhadap dua kapal tanker milik UEA.

Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk.

Dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran selama tiga malam berturut-turut.

Di saat yang sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kembali blokade terhadap pelayaran Iran serta mengusulkan pengenaan biaya sebesar 20 persen bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Setiap gangguan keamanan di kawasan ini berpotensi memengaruhi pasokan energi dunia dan mendorong kenaikan harga minyak internasional.

Reuters juga menyatakan belum dapat memastikan apakah seluruh laporan mengenai insiden tersebut merujuk pada peristiwa yang sama.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.