BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU – Meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa hari terakhir mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan.
Sebelumnya, usulan hujan buatan sempat belum mendapat kepastian. Namun, eskalasi karhutla yang terus bertambah membuat operasi tersebut akhirnya dijadwalkan mulai Rabu (15/7/2026).
Kelala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Putra mengatakan, peningkatan jumlah kejadian karhutla menjadi pertimbangan utama dilaksanakannya OMC.
“Beberapa hari terakhir memang terjadi peningkatan eskalasi kebakaran hutan dan lahan. Sejak rapat koordinasi terakhir, sudah beberapa kali terjadi karhutla,” ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Baca juga: Puluhan Hektare Lahan di Peramuan Banjarbaru Terbakar, Petugas Cegah Api Tak Merembet ke Pemukiman
Baca juga: Jalan Martapura Lama Banjarmasin Rusak Berulang, Struktur Tanah Diduga Bermasalah
Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kalsel hingga 14 Juli 2026 mencatat 81 kejadian karhutla dengan total 221,39 hektare lahan terdampak.
Selain itu, terpantau 2.481 titik hotspot di berbagai wilayah Kalsel.
Dari seluruh daerah, Kota Banjarbaru menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni mencapai 118,4 hektare dari 48 kejadian. Sementara Tanahlaut menempati posisi kedua dengan 45,72 hektare dari delapan kejadian, disusul Kabupaten Banjar seluas 43,1 hektare dari tujuh kejadian.
Ronny menjelaskan, sebagian besar kebakaran masih dapat dipadamkan apabila lokasinya mudah dijangkau. Namun, tantangan muncul ketika api membakar kawasan yang berada di medan sulit.
“Kejadian yang bisa dijangkau dapat teratasi dengan baik. Namun untuk lahan atau medan yang tidak bisa dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat, otomatis kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pemadaman secara optimal,” katanya.
Ronny berharap OMC dapat membantu menekan perkembangan titik api melalui hujan buatan.
“Harapannya apabila dilakukan modifikasi cuaca akan terjadi hujan buatan yang dapat mengurangi suhu permukaan sekaligus membasahi lahan, sehingga potensi kebakaran bisa ditekan,” jelasnya.
OMC direncanakan berlangsung selama tujuh hari, mulai 15 hingga 21 Juli 2026. Sasaran operasi mencakup seluruh wilayah Kalsel, meski lokasi penyemaian awan akan disesuaikan dengan kondisi meteorologi.
“Keberhasilan penyemaian sangat bergantung pada keberadaan awan dan arah angin. Kalau tepat sasaran hujan akan turun di wilayah yang diharapkan, tetapi kalau ada perubahan angin tentu tidak bisa dijamin,” ujar Ronny.
Untuk mendukung operasi tersebut, pesawat Cessna Caravan 208B telah tiba di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, Selasa (14/7/2026).
Sebelum operasi dimulai, tim akan melakukan pengecekan kesiapan pesawat, material semai, serta mengevaluasi kondisi cuaca dan potensi pembentukan awan.
“Besok dilakukan pengecekan kesiapan pesawat, kesiapan bahan yang akan disemai ke awan, sekaligus melihat situasi cuaca beberapa hari ke depan. Operasi ini sangat bergantung pada ketersediaan awan,” ujarnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)