TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pinrang, Sulsel, memastikan wilayahnya masih aman dari dampak kekeringan ekstrem.
Hal tersebut ditegaskan langsung oleh Kepala Pelaksana BPBD Pinrang, Rhommy Manule, saat memberikan keterangan resmi kepada Tribun-Timur.com di kantornya, Jalan Jend Sudirman, Kecamatan Watang Sawitto, Selasa (14/7/26).
Menurut Rhommy, hingga saat ini belum ada laporan konkret mengenai dampak kekeringan yang mengkhawatirkan dari masyarakat.
BPBD Pinrang sendiri saat ini tetap menyiagakan personel untuk mengantisipasi potensi bencana kekeringan tersebut.
Langkah kesiapsiagaan ini difokuskan pada kawasan pemukiman yang memiliki keterbatasan sumber daya air baku.
"Kita siagakan itu sama dengan Kota Makassar, siaga bencana kekeringan untuk kawasan pemukiman," kata Rhommy Manule.
Kesiapsiagaan tersebut diprioritaskan bagi wilayah yang rawan mengalami keterbatasan pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat.
Rhommy menjelaskan bahwa kondisi geografis dan cadangan air di Kabupaten Pinrang sejauh ini masih relatif stabil.
Pemerintah daerah setempat menilai kondisi tahun ini masih jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BPBD, wilayah Pinrang sempat menghadapi fase pemenuhan air paling sulit pada tahun 2022 lalu.
"Sejak 2022 yang pernah dulu tahun yang paling sulit bencana kekeringan," kenang Rhommy terkait kondisi masa lalu.
Namun, Rhommy bersyukur karena untuk periode tahun ini Kabupaten Pinrang masih mampu mengatasi potensi dampak kekeringan.
Indikator keberhasilan tersebut terlihat dari nihilnya laporan krisis air dari tingkat desa hingga kecamatan.
"Untuk saat ini Kabupaten Pinrang masih bisa mengatasi," tutur Rhommy dengan nada optimis.
Ia menambahkan bahwa belum ada masyarakat yang mengeluhkan kelangkaan pasokan air baku untuk kebutuhan harian.
"Karena tidak ada laporan bahwa masyarakat kekurangan air bersih, atau air baku," jelasnya.
Terkait fasilitas kedaruratan, Rhommy mengakui bahwa BPBD Pinrang belum memiliki armada khusus untuk menyalurkan air.
Pihaknya memastikan tidak ada kendaraan taktis operasional yang berfungsi menyuplai air bersih ke pemukiman.
"Dropping air bersih kami tidak punya, yang kami punya adalah mobil pemadam saja," ungkap Rhommy.
Sebagai solusinya, BPBD Pinrang intens melakukan koordinasi dan edukasi langsung kepada pemerintah kecamatan setempat.
Selain keterbatasan armada penyuplai air, BPBD Pinrang juga belum memiliki teknologi untuk melakukan modifikasi cuaca.
Rhommy menegaskan bahwa otoritas pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah pusat.
"Modifikasi cuaca kita enggak punya teknologi di sini, yang punya itu pemerintah pusat," pungkas Rhommy menyudahi wawancara.(*)