Bagi setiap penggemar sepak bola dari generasi tertentu, bayangan seorang pemain yang menerima kartu kuning di semifinal Piala Dunia dan menyadari bahwa ia akan melewatkan partai final memunculkan satu citra yang sama di benak mereka.
Piala Dunia 1990 memang sudah lama berlalu, namun sosok gelandang Inggris Paul Gascoigne yang tak dapat menahan tangis setelah mendapat kartu kuning melawan Jerman Barat tetap menjadi ikon legendaris dalam sejarah sepak bola Inggris.
Saat tim asuhan Bobby Robson berjuang keras untuk mencapai final di Roma pada musim panas itu, Gascoigne mengetahui bahwa ia akan terkena larangan bermain karena akumulasi kartu kuning. Meski pada akhirnya Inggris tidak lolos ke final, air mata Gazza meninggalkan jejak abadi dalam kisah sepak bola Inggris.
Gascoigne bukan satu-satunya pemain yang berpotensi melewatkan laga paling penting dalam kariernya akibat hukuman kartu kuning, namun kini terdapat perubahan arah kebijakan agar pemain tidak dihukum terlalu berat, terutama karena turnamen-turnamen besar kini jauh lebih panjang dan kompleks dibanding sebelumnya.
Pada tahun 1990, Piala Dunia hanya diikuti separuh jumlah tim dibanding Piala Dunia 2026, yang dimulai dengan 48 tim dan untuk pertama kalinya menambahkan babak 32 besar. Dengan demikian, negara-negara yang mencapai babak semifinal akan memainkan delapan pertandingan, sehingga akumulasi kartu kuning bisa menjadi persoalan serius.
FIFA mengatasi potensi masalah larangan bermain yang tidak perlu melalui kebijakan penghapusan kartu kuning atau yang dikenal sebagai amnesti kartu. Pada titik tertentu dalam turnamen Piala Dunia, kartu kuning yang belum menyebabkan skorsing bagi pemain akan dihapus.
Piala Dunia 2026 menjadi turnamen besar pertama di mana amnesti ini dilakukan dua kali. Kartu kuning dihapuskan dari catatan akumulasi pada akhir fase grup dan kembali dihapus setelah perempat final. Ini berarti para pemain hanya perlu menghindari dua kartu kuning dalam tiga pertandingan — dua kali — agar tidak terkena skorsing karena akumulasi.
Saat kita menantikan babak semifinal, tidak ada satu pun pemain dari Spanyol, Prancis, Inggris, atau Argentina yang masih memiliki catatan kartu kuning. Dengan demikian, setiap pemain yang menerima kartu kuning di babak semifinal tetap dapat tampil di final Piala Dunia hari Minggu nanti.
Jude Bellingham dari Inggris dan Gonzalo Montiel dari Argentina sama-sama mendapat kartu kuning pada babak 32 besar. Di babak 16 besar, Manu Kone, Michael Olise, dan Bradley Barcola dari Prancis serta Ferran Torres dari Spanyol juga menerima kartu kuning.
Marc Guehi, Nico O’Reilly, dan Declan Rice mendapat kartu kuning di laga Inggris melawan Meksiko, sementara Jordan Henderson menerima kartu kuning tanpa turun bermain di Stadion Azteca.
Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte (Spanyol) mendapatkan kartu kuning di perempat final, begitu pula dengan Lautaro Martinez, Thiago Almada, dan Manuel Lopez (Argentina). Secara keseluruhan, ada 15 pemain yang telah dihapus catatan kartu kuningnya sebelum semifinal dan kini dapat menerima satu kartu kuning tanpa risiko absen di final.
Namun, pemain yang mendapatkan kartu merah di semifinal, termasuk akibat dua kartu kuning dalam satu pertandingan, tetap akan terkena larangan bermain di final yang akan digelar di Stadion New York New Jersey pada hari Minggu.