Gianni Infantino Dilaporkan ke IOC, Kasus Folarin Balogun di Piala Dunia 2026 Ikut Diseret
Facundo Chrysnha Pradipha July 15, 2026 03:38 AM

TRIBUNNEWS.COM – Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan. Kali ini, orang nomor satu di federasi sepak bola dunia itu dilaporkan ke Komite Olimpiade Internasional (IOC) karena diduga melanggar prinsip netralitas politik.

Laporan tersebut diajukan oleh organisasi hak asasi manusia FairSquare. Mereka menilai Infantino terlalu dekat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, hingga dianggap mencampurkan urusan politik dengan dunia olahraga.

Kasus ini menjadi perhatian karena FIFA selama ini selalu menegaskan bahwa sepak bola harus bebas dari kepentingan politik. Karena itu, tuduhan terhadap Infantino dinilai cukup serius.

Salah satu sorotan terbesar adalah keputusan FIFA yang menangguhkan hukuman penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, pada Piala Dunia 2026.

Balogun sebelumnya dijatuhi sanksi larangan bermain satu pertandingan. Namun, hukuman itu tiba-tiba ditangguhkan sehingga sang striker tetap bisa memperkuat Amerika Serikat saat menghadapi Belgia pada babak 16 besar.

Keputusan tersebut langsung memunculkan berbagai spekulasi. Terlebih, sebelum keputusan diumumkan, Donald Trump diketahui sempat melakukan komunikasi dengan Gianni Infantino.

Meski begitu, Infantino membantah adanya campur tangan politik. Ia menegaskan bahwa Komite Disiplin FIFA bekerja secara independen dan bebas dari pengaruh pihak mana pun.

Sebelumnya Football Enthusiast, Gigih W pernah menilai bahwa gelaran Piala Dunia 2026 sangat kental dengan kontroversi terutama soal politiknya.

Hal ini pernah ia sampaikan dalam podcast YouTube Super Taktik Tribunnews di Karanganyar, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

"Lebih banyak fakto nonteknis dan politk ya rasanya," ucap Gigih W.

"Waktu ada Swiss yang latihan di US tapi beada di zona ular, belum lagi soal Iran yang bermain di Amerika Serikat tidak dijamin keamanannya, jadi faktor-faktor ini yang membumbui kontroversi di Piala Dunia ini," lanjutnya.

Kasus Balogun Jadi Sorotan

Menurut laporan ESPN, keputusan untuk menangguhkan hukuman Balogun disebut diambil langsung oleh Ketua Komite Disiplin FIFA, Mohammad Al Kamali.

Hal itu cukup mengundang tanda tanya karena dalam sejumlah kasus disiplin sebelumnya, keputusan biasanya tidak diambil hanya oleh satu orang.

Yang membuat kontroversi semakin besar, FIFA hingga kini belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan di balik penangguhan hukuman tersebut.

FairSquare menilai situasi ini layak diselidiki lebih jauh. Organisasi tersebut bahkan meminta IOC membuka investigasi untuk memastikan apakah ada tekanan politik yang memengaruhi keputusan FIFA.

Dalam dokumen pengaduannya, FairSquare menuding Infantino telah melakukan lima pelanggaran terhadap aturan netralitas politik IOC.

Selain itu, mereka juga mengajukan dua dugaan pelanggaran serius lainnya yang dinilai membutuhkan penyelidikan lebih mendalam.

Salah satunya adalah dugaan bahwa FIFA mengubah keputusan disiplin terhadap Balogun setelah adanya tekanan dari Donald Trump.

SPOT SELFIE - Instalasi 48 negara peserta Piala Dunia 2026 jadi spot selfie warga terpasang di depan Museum Titik Nol Pasoepati, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026). (Tribun-Video/Faiz Fadhilah)
SPOT SELFIE - Instalasi 48 negara peserta Piala Dunia 2026 jadi spot selfie warga terpasang di depan Museum Titik Nol Pasoepati, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026). (Tribun-Video/Faiz Fadhilah) (Tribunnews.com/Faiz Fadhilah)

Baca juga: Wonderwall atau Chants Messi? Inggris vs Argentina Hadirkan Duel Unik di Semifinal Piala Dunia 2026

Desakan Investigasi Terus Menguat

Tak hanya soal kasus Balogun, FairSquare juga mempertanyakan promosi situs penggemar resmi Piala Dunia 2026 yang dilakukan Infantino.

Mereka menilai situs tersebut diduga menjadi bagian dari aktivitas pengumpulan data oleh pihak yang memiliki keterkaitan dengan Donald Trump.

Sebelumnya, FairSquare juga telah mengirimkan laporan serupa kepada Komite Etik FIFA pada Desember 2025. Namun hingga kini, organisasi tersebut mengaku baru menerima konfirmasi bahwa laporannya telah diterima tanpa ada perkembangan lanjutan.

Desakan agar kasus ini diusut pun semakin besar.

Federasi Sepak Bola Norwegia telah mengirim surat kepada Komite Etik FIFA agar pengaduan FairSquare segera diproses.

Tak hanya itu, sekitar 50 anggota Parlemen Eropa juga ikut mendesak FIFA untuk menindaklanjuti laporan tersebut.

Bahkan, menurut laporan ESPN, sejumlah anggota parlemen Eropa kini tengah menggalang dukungan untuk mendorong penyelidikan terhadap Gianni Infantino di Parlemen Eropa.

Hingga saat ini, baik FIFA maupun IOC belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan yang diajukan FairSquare.

Apabila IOC memutuskan membuka penyelidikan, kasus ini bisa menjadi salah satu ujian terbesar bagi kepemimpinan Gianni Infantino. Pasalnya, isu netralitas politik merupakan salah satu prinsip utama yang selalu dijunjung tinggi dalam dunia olahraga internasional.

Kini publik tinggal menunggu langkah IOC dan FIFA dalam merespons tudingan tersebut. Hasil penyelidikan nantinya diyakini akan menjadi penentu apakah dugaan pelanggaran itu memiliki dasar yang kuat atau justru tidak terbukti.

(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.