Oleh: Gergorius Babo
Asesor SDM Aparatur Ahli Muda BKD Provinsi Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Tidak banyak pertandingan sepak bola yang mampu bertahan sebagai peristiwa sejarah selama lebih dari setengah abad.
Sebagian besar rivalitas lahir karena persaingan prestasi, kedekatan geografis, atau perebutan dominasi regional. Argentina melawan Inggris mengikuti jalur yang berbeda.
Setiap pertemuan selalu membawa lapisan sejarah yang terus berkembang, membuat pertandingan terasa jauh lebih besar daripada sembilan puluh menit permainan.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026, dunia kembali diarahkan pada kisah yang telah berulang selama puluhan tahun.
Media internasional kembali menampilkan cuplikan Hand of God, gol terbaik Diego Maradona, Perang Falklands atau Malvinas, kartu merah David Beckham, hingga peluang Lionel Messi menghadapi Inggris untuk pertama kalinya di Piala Dunia.
Hampir semua narasi bergerak pada pola yang sama, yakni menghubungkan pertandingan dengan konflik masa lalu.
Baca juga: Tergarang dan Tersolid
Cara membaca rivalitas tersebut memang memiliki dasar historis yang kuat. Namun, apabila pembahasan berhenti pada daftar peristiwa masa lalu, ada dimensi yang jauh lebih menarik justru terlewatkan.
Pertemuan Argentina dan Inggris sesungguhnya memperlihatkan bagaimana sepak bola berkembang menjadi ruang tempat dua bangsa mengingat sejarah melalui cara yang berbeda. Di sinilah letak kebaruan dalam membaca rivalitas tersebut.
Selama ini sepak bola dipandang sebagai olahraga yang menghasilkan juara dan pecundang. Dalam rivalitas Argentina dan Inggris, pertandingan juga menghasilkan sesuatu yang lain, yaitu proses negosiasi memori.
Setiap gol, setiap selebrasi, bahkan setiap kontroversi berubah menjadi simbol yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Lapangan hijau bukan hanya arena pertandingan, melainkan ruang tempat sejarah memperoleh makna baru.
Perspektif tersebut semakin menarik ketika dibandingkan dengan karakter rivalitas sepak bola lain di dunia.
Berbeda dengan persaingan yang dibangun melalui pertemuan rutin setiap tahun, Argentina dan Inggris justru memperlihatkan pola yang bertolak belakang.
Salah satu keunikan Argentina dan Inggris terletak pada frekuensi pertemuan mereka yang relatif sedikit.
Sejak awal dekade 1950-an hingga menjelang semifinal Piala Dunia 2026, kedua negara hanya beberapa kali bertemu dalam pertandingan resmi maupun persahabatan.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan Brasil melawan Argentina atau Inggris melawan Skotlandia yang berlangsung hampir setiap generasi.
Secara logika olahraga, rivalitas yang jarang terjadi seharusnya perlahan kehilangan daya tarik. Kenyataannya justru berlawanan.
Setiap kali undian mempertemukan Argentina dan Inggris, perhatian media internasional meningkat secara drastis.
Stadion dipenuhi narasi sejarah, sedangkan ruang digital dipenuhi perdebatan yang menghubungkan pertandingan baru dengan peristiwa puluhan tahun silam.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kualitas sebuah rivalitas tidak ditentukan oleh kuantitas pertandingan. Yang membuat rivalitas tetap hidup adalah kemampuan masyarakat mempertahankan ingatan terhadap momen-momen tertentu.
Dalam kasus ini, memori memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat dibandingkan statistik pertandingan.
Frekuensi pertandingan yang terbatas ternyata tidak mengurangi intensitas rivalitas. Justru kondisi tersebut mengarah pada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana sebuah pertandingan dapat bertahan dalam ingatan kolektif selama puluhan tahun.
Jawabannya tidak hanya ditemukan dalam hasil pertandingan, tetapi juga pada fungsi stadion sebagai ruang penyimpanan memori sejarah.
Museum biasanya dipandang sebagai tempat menyimpan sejarah. Argentina melawan Inggris menunjukkan bahwa stadion juga menjalankan fungsi yang hampir sama.
Setiap pertandingan menjadi ruang untuk membuka kembali arsip kolektif yang telah lama tersimpan dalam ingatan publik.
Ketika Diego Maradona mencetak gol menggunakan tangan pada tahun 1986, dunia melihat dua tafsir yang bertolak belakang. Di Inggris, peristiwa tersebut dipandang sebagai pelanggaran yang mengubah hasil pertandingan.
Di Argentina, banyak masyarakat memaknainya sebagai simbol kecerdikan sekaligus pemulihan harga diri nasional setelah kekalahan dalam Perang Malvinas empat tahun sebelumnya.
Peristiwa yang sama menghasilkan dua memori yang berbeda. Fakta historis tidak berubah, tetapi makna sosialnya berkembang mengikuti pengalaman masing-masing bangsa. Hal tersebut menjelaskan mengapa satu pertandingan mampu bertahan dalam ingatan selama puluhan tahun.
Gol kedua Maradona bahkan memperkuat fenomena tersebut. Aksi melewati lima pemain Inggris sebelum mencetak gol tidak hanya dikenang sebagai salah satu gol terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Gol tersebut berkembang menjadi simbol kemampuan individu mengalahkan kekuatan yang lebih besar. Simbol seperti inilah yang membuat pertandingan terus hidup dalam kesadaran publik.
Namun, memori kolektif tidak berhenti di tribun stadion maupun halaman buku sejarah. Perkembangan teknologi komunikasi membuat proses pewarisan ingatan mengalami perubahan yang sangat besar, sehingga rivalitas ini terus memperoleh kehidupan baru di era digital.
Generasi yang mengalami langsung Piala Dunia 1986 kini semakin sedikit. Demikian pula mereka yang mengalami Perang Falklands secara langsung.
Namun menariknya, rivalitas Argentina dan Inggris justru tetap memperoleh perhatian besar dari generasi muda yang lahir puluhan tahun setelah kedua peristiwa tersebut.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa memori kini tidak lagi diwariskan terutama melalui pengalaman hidup. Media digital mengambil alih sebagian besar proses tersebut.
YouTube, media sosial, film dokumenter, podcast, hingga arsip digital membuat setiap generasi dapat mengalami kembali sejarah tanpa harus hadir pada masa ketika peristiwa itu terjadi.
Setiap menjelang pertandingan, jutaan orang kembali menyaksikan Hand of God, wawancara Maradona, gol David Beckham, atau dokumenter mengenai Perang Malvinas.
Algoritma media sosial secara otomatis menghidupkan kembali memori yang sebenarnya telah lama berlalu. Proses tersebut memperlihatkan bahwa teknologi digital bukan hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk cara masyarakat mengingat sejarah.
Dalam konteks inilah rivalitas Argentina dan Inggris memperoleh kehidupan baru. Yang diwariskan bukan hanya fakta pertandingan, melainkan emosi yang menyertai fakta tersebut. Media digital berhasil mentransfer emosi antargenerasi sehingga rivalitas tetap terasa aktual.
Transformasi cara masyarakat mengingat sejarah tersebut juga memengaruhi figur yang menjadi simbol utama rivalitas. Pergantian generasi menghadirkan tokoh baru yang tidak hanya meneruskan warisan masa lalu, tetapi juga membentuk narasi yang berbeda mengenai hubungan Argentina dan Inggris.
Selama hampir empat puluh tahun, wajah rivalitas Argentina dan Inggris identik dengan Diego Maradona. Setiap pembahasan hampir selalu kembali kepada dua gol legendaris tahun 1986. Dominasi narasi tersebut membuat hubungan kedua negara seolah berhenti pada satu titik sejarah.
Kemunculan Lionel Messi perlahan menggeser pusat perhatian tersebut. Messi membangun reputasi melalui jalur yang sangat berbeda. Warisannya tidak dibentuk oleh konflik, melainkan oleh konsistensi performa, kepemimpinan, serta keberhasilan membawa Argentina meraih Copa América, Finalissima, dan Piala Dunia 2022.
Perubahan ini menghadirkan dimensi baru. Apabila Maradona menjadi simbol konfrontasi terhadap Inggris, Messi justru menjadi simbol transformasi sepak bola Argentina menuju identitas yang lebih kolektif.
Kesuksesan Argentina tidak lagi bergantung pada satu momen heroik yang sarat muatan politik, melainkan pada pembangunan sistem permainan yang matang di bawah Lionel Scaloni.
Karena alasan tersebut, semifinal Piala Dunia 2026 memiliki makna yang berbeda dibandingkan pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dunia bukan hanya menunggu apakah Argentina mampu mengalahkan Inggris.
Dunia juga menyaksikan apakah rivalitas klasik tersebut memasuki babak baru yang tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh bayang-bayang Maradona.
Perubahan makna rivalitas tersebut berlangsung bersamaan dengan transformasi besar dalam industri sepak bola dunia. Globalisasi kompetisi membuat hubungan antarpemain berubah secara mendasar, sehingga wajah rivalitas modern tidak lagi sama seperti beberapa dekade lalu.
Perubahan lain yang menarik terlihat dari hubungan antarpemain kedua negara. Pada era Bobby Charlton atau Maradona, pemain Inggris dan Argentina hampir tidak pernah berbagi ruang profesional dalam kompetisi yang sama. Situasi tersebut berbeda jauh dengan kondisi sepak bola modern.
Saat ini banyak pemain Argentina dan Inggris bermain bersama di Liga Inggris, Liga Spanyol, maupun berbagai kompetisi elite Eropa. Mereka berlatih dengan pelatih yang sama, mengenakan seragam klub yang sama, bahkan menjalin persahabatan di luar lapangan.
Fenomena tersebut menghasilkan paradoks yang menarik. Globalisasi membuat hubungan personal antarpemain menjadi semakin dekat. Namun ketika mengenakan seragam nasional, identitas kebangsaan kembali muncul dengan sangat kuat.
Profesionalisme internasional tidak menghapus nasionalisme olahraga, melainkan berjalan berdampingan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa rivalitas modern mengalami transformasi. Permusuhan personal berkurang, tetapi makna simboliknya justru semakin besar. Yang dipertarungkan bukan lagi kebencian antarpemain, melainkan representasi sejarah, identitas, dan kebanggaan nasional.
Perubahan hubungan antarpemain memperlihatkan bahwa rivalitas tidak lagi didominasi oleh permusuhan personal. Pergeseran tersebut membuka ruang untuk memahami pertandingan sebagai proses pengelolaan memori sejarah melalui kompetisi yang damai.
Selama bertahun-tahun media menggunakan istilah balas dendam untuk menggambarkan setiap pertemuan Argentina dan Inggris. Narasi tersebut memang mudah dipahami karena menghubungkan pertandingan dengan konflik sejarah.
Namun pendekatan tersebut semakin kehilangan relevansi ketika melihat perkembangan hubungan kedua negara saat ini.
Menjelang semifinal Piala Dunia 2026, berbagai tokoh di Argentina justru mengajak masyarakat memandang pertandingan sebagai kompetisi olahraga.
Veteran Perang Malvinas menyerukan agar sejarah dihormati tanpa menjadikannya alasan memperpanjang permusuhan. Lionel Scaloni juga menegaskan bahwa pertandingan tersebut tetaplah pertandingan sepak bola.
Perubahan sikap tersebut memperlihatkan bahwa sepak bola mampu menjalankan fungsi yang lebih besar dibandingkan hiburan.
Lapangan hijau menjadi ruang tempat bangsa-bangsa mengelola ingatan sejarah melalui kompetisi yang damai. Konflik tidak dilupakan, tetapi dipindahkan ke arena yang diatur oleh aturan, sportivitas, dan penghormatan terhadap hasil pertandingan.
Perspektif inilah yang layak disebut sebagai diplomasi memori. Sepak bola menjadi media yang memungkinkan sejarah tetap dikenang tanpa harus kembali menghasilkan konflik politik maupun kekerasan.
Rivalitas tidak dihapus, melainkan diarahkan menjadi kompetisi yang memperkuat penghormatan terhadap identitas masing-masing bangsa.
Seluruh perubahan tersebut menunjukkan bahwa makna rivalitas terus bergerak mengikuti perubahan masyarakat, teknologi, dan budaya sepak bola. Pertandingan yang sama tetap dipertahankan oleh sejarah, tetapi cara manusia memaknainya selalu mengalami pembaruan.
Argentina melawan Inggris tidak lagi dapat dipahami hanya sebagai cerita mengenai Hand of God, Perang Malvinas, atau duel para pemain legendaris.
Rivalitas tersebut telah berkembang menjadi ruang tempat sejarah, identitas nasional, globalisasi, dan teknologi digital saling berinteraksi dalam membentuk memori kolektif.
Di sinilah letak kebaruan analisis ini. Sepak bola bukan hanya menghasilkan juara, melainkan juga menjalankan fungsi sebagai diplomasi memori, yaitu mekanisme damai yang memungkinkan bangsa-bangsa mengingat masa lalu tanpa harus mengulang konfliknya.
Selama sejarah terus diwariskan dan dimaknai oleh setiap generasi, setiap pertemuan Argentina dan Inggris akan selalu menghadirkan makna yang jauh melampaui hasil akhir di papan skor. (*)