Diduga Jadi Korban Bully, Siswa MAN 3 Padang Ledakkan Bom Rakitan di Kelas
Erik S July 15, 2026 08:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, PADANG –  R (17), seorang siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Padang Sumatra Barat (Sumbar) meledakkan bom rakitan di sekolahnya, Selasa (14/7/2026).

Bom rakitan tersebut diledakkan sekitar pukul 10.30 WIB.

Ledakan tersebut diduga dari bom rakitan berdaya ledak rendah (low explosive). 

Korban Bully

Pelaku yang merupakan siswa kelas XII diduga nekat merakit bom karena mengalami tekanan psikologis akibat sering menjadi korban perundungan atau bullying di sekolah.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan sementara, aksi tersebut bukan terkait jaringan terorisme.

"Benar terjadi ledakan tersebut. Pelakunya seorang siswa kelas XII MAN. Ini dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam karena sering menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-teman sekelasnya," kata Susmelawati kepada wartawan, Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, pelaku merasa selama ini kerap menjadi sasaran perundungan sehingga memilih melakukan aksi balasan dengan merakit bom secara mandiri.

"Anak ini merasa sering menjadi objek bullying. Jadi dia mengambil jalan pintas dengan merakit bom berskala kecil atau low explosive. Cara merakitnya dipelajari secara mandiri melalui internet," ujarnya.

Susmelawati menjelaskan, bom rakitan tersebut diletakkan pelaku di bawah meja di dalam ruang kelas saat jam istirahat.

Pelaku diduga berharap ledakan mampu merobohkan dinding kelas sehingga dapat mencelakai teman-teman yang selama ini diduga merundungnya.

Baca juga: 5 Kesamaan Ledakan SMP Kalbar & SMA 72 Jakarta: Bullying, Bom Rakitan, Komunitas Gelap

"Bom itu diletakkan di bawah meja dengan harapan ledakan bisa meruntuhkan dinding kelas untuk mencelakai teman-teman yang sering membully dirinya. Namun bangunan sekolah cukup kuat sehingga ledakan tidak menimbulkan kerusakan yang mengakibatkan korban jiwa," jelasnya.

Tidak Ada Korban Jiwa

Ia memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Saat ledakan terjadi, ruang kelas juga dalam kondisi kosong.

"Tidak ada orang di dalam kelas saat ledakan terjadi. Yang terdengar hanya dentuman dan muncul kepulan asap dari dalam ruangan," katanya.

Laporan mengenai ledakan diterima polisi sekitar pukul 10.15 WIB, bertepatan dengan jam istirahat sekolah.

Setelah menerima laporan, personel Brimob, Tim Gegana, Polresta Padang, Polsek, Kapolda Sumbar, hingga Wakapolda Sumbar langsung mendatangi lokasi melakukan pengamanan dan penyelidikan.

Seluruh barang bukti bom rakitan telah diamankan, sementara pelaku dibawa ke Polresta Padang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga: Polisi Ungkap Ledakan Bom Rakitan di SMAN 72 Jakarta Berkekuatan Rendah

"Saat ini anak tersebut diamankan di Polresta Padang. Tim Gegana Brimob juga sudah melakukan penyisiran di lingkungan sekolah untuk memastikan situasi aman," ujarnya.

Meski demikian, polisi masih mendalami bentuk perundungan yang diduga dialami pelaku karena kondisi psikologis siswa tersebut belum memungkinkan untuk dimintai keterangan secara mendalam.

Susmelawati menambahkan, Polda Sumbar juga akan memberikan pendampingan psikologis kepada pelaku agar tidak semakin terpapar tindakan yang lebih berbahaya.

"Kami fokus melakukan rehabilitasi kepada anak ini. Ini bukan jaringan teror, tetapi anak yang diduga menjadi korban bullying. Kami ingin melakukan pemulihan agar dia tidak terpapar ke arah yang lebih jauh yang tidak kita inginkan," ujarnya.

Kesaksian Siswa

Para siswa yang berada di sekitar lokasi langsung berhamburan menyelamatkan diri setelah mendengar suara ledakan keras yang disertai getaran dan kepulan asap putih tebal.

Seorang siswa, Deva, mengaku saat ledakan terjadi dirinya sedang berada di kantin belakang sekolah.

"Pas ledakan saya sedang di kantin belakang. Saya langsung berlari ke arah kelas yang jaraknya sekitar dua kelas dari lokasi. Saat sampai di sana, saya melihat orang-orang sudah berhamburan dan ada asap putih tebal dari arah TKP," ujarnya.

Deva mengaku sempat melihat R sebelum dan sesudah kejadian.

Menurutnya, R datang ke sekolah tidak mengenakan seragam, melainkan kaus putih dan celana panjang.

Ia juga melihat R membawa ketapel, anak busur panah, serta kelereng.

Baca juga: Ledakan Bom Rakitan di Festival Thailand, Tiga Tewas dan 48 Terluka

"Dia bawa semacam ketapel, anak busurnya juga ada, kemudian kelereng juga ada," katanya.

Diduga Sudah Mencari Korban Sejak Pagi

Menurut Deva, sejak pagi R diduga sudah mencari seorang siswa berinisial M.

"Saya rasa abang M ini sudah diintainya sejak pagi. Abang M juga sempat kabur karena dengar dirinya sedang dicari oleh R," ucapnya.

Bahkan sebelum ledakan terjadi, kata Deva, R sempat menanyakan keberadaan M kepada beberapa siswa.

"Tadi pagi dia sempat bertanya ke teman saya, 'ada melihat si M?' Teman saya jawab tidak ada, lalu dia pergi," katanya.

Tak lama setelah ledakan, Deva kembali berpapasan dengan R di sekitar kelas.

Saat itu, kata dia, kepala R sudah dibalut kain sehingga hanya bagian matanya yang terlihat. Ia pun sempat terkejut karena didekati R.

"Saya sempat terkejut karena setelah ledakan dia bertanya lagi kepada saya, 'ada melihat si M?' Saat itu dia memegang ketapel dengan anak busur panah. Saya jawab tidak ada. Setelah dia pergi baru saya sadar kalau itu si R," ujarnya.

Pendiam dan Jarang Bergaul

Selama bersekolah, Deva mengenal R sebagai sosok yang pendiam dan lebih sering menyendiri.

"Biasanya dia sendiri saja, pendiam, kurang bergaul. Saya pernah ketemu di kantin, dia sendirian. Saya ajak ngobrol," katanya.

Deva juga mengaku R pernah menyampaikan kepadanya bahwa ia sedang mencari M.

"Si R ini juga sering menyampaikan kalau dia memang sedang mencari-cari si M. Ke saya pun dia pernah berkata begitu," tuturnya.

Siswa Panik Berhamburan ke Lapangan

Sementara itu, siswa lainnya, Thoriq, mengatakan ledakan terjadi saat jam pergantian pelajaran ketika guru belum masuk ke kelas.

"Sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu saya sedang main handphone di kelas karena jam pergantian pelajaran. Tiba-tiba terdengar ledakan yang cukup keras. Terasa getaran dan baunya karena kelas kami dekat dengan lokasi," tuturnya.

Menurut Thoriq, suara ledakan langsung memicu kepanikan di kalangan siswa.

"Setelah terdengar ledakan semuanya panik, langsung lari keluar ke lapangan. Saya tidak sempat melihat sumber ledakan karena fokus menyelamatkan diri," katanya.

Kepala MAN 3 Padang, Marliza, mengatakan selama berada di sekolah, R merupakan siswa yang berperilaku baik.

"Kalau anak kita ini baik-baik saja. Dia cuma pendiam. Tidak ada keluhan-keluhan apa-apa di sekolah mengenai apa pun," kata Marliza kepada TribunPadang.com.

Menurutnya, R hanya tercatat beberapa kali tidak masuk sekolah, namun tidak berkaitan dengan persoalan kedisiplinan yang serius.

"Memang anaknya sering izin atau libur, tapi selain itu belajar seperti anak-anak yang lain," ujarnya.

Terkait dugaan motif di balik peristiwa ledakan tersebut, Marliza mengaku belum mengetahui secara pasti dan menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak kepolisian.

"Kami juga belum mendalami. Untuk motif, nanti lebih jelasnya dari pihak yang menangani penyelidikan," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.