BANJARMASINPOST.CO.ID - Tumbuh subur dengan sejuta manfaat, tanaman hidroponik yang dibudidayakan Akhmad Fujianto atau yang akrab disapa Eboy menawarkan wahana alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Dibudidayakan di sekitar lingkungan rumahnya, Hidroganik Alfa (Alfarm Hydroponic) yang beralamat di RT15 Gg Bambu Indah, Kelurahan Pekapuran Raya, Kecamatan Banjarmasin Timur, Banjarmasin, Eboy memilih pupuk organik cair untuk menutrisi tanaman hidroponik miliknya.
Tak hanya menawarkan alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis, pupuk organik cair dari olahan tangan Eboy ini juga memiliki nilai kemandirian terkhususnya bagi para petani
Bahan-bahan pembuatan pupuk organik cair ini didapat Eboy dari berbagai sisa limbah rumah tangga di sekitarnya seperti rumput liar, kulit buah, daun sisa panen, rumput liar, hewan mati (bekas lauk makan), dan air cucian beras.
Sisa limbah rumah tangga tersebut kemudian difermentasi dalam drum selama minimal satu bulan untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.
Meski memiliki perbedaan dengan pupuk kimia, pupuk organik cair (POC) olahan Eboy ini juga memiliki keunggulan yang patut diacungi jempol. Di antaranya mampu memperkuat akar, meningkatkan daya tahan tanaman, dan memperlambat lumut di pipa hidroponik.
Baca juga: Pelaku Penganiayaan di Sungai Kupang HSS Marah Mantan Istri Kawin dengan Korban
Dipaparkan Eboy, pupuk organik yang diproduksinya ini memiliki perbedaan cukup signifikan dari pupuk kimia terutama perihal nutrisi dan dampaknya pada ekosistem.
“Pupuk kimia lebih fokus memberikan unsur hara secara cepat sedangkan POC tidak hanya memberi nutrisi tetapi juga membantu menjaga mikroorganisme dan keseimbangan ekosistem, prinsip saya bertani bukan hanya memberi makan tanaman tetapi juga merawat lingkungan tempat tanaman hidup,” paparnya.
Penggunaan pupuk organik dalam waktu lama diterangkan Eboy justru dapat memperbaiki kualitas tanah dan menjaga keseimbangan mikroorganisme dengan catatan dosis dan cara mengaplikasikan yang tetap harus diperhatikan.
Produk sayuran yang dihasilkan dengan penggunaan pupuk organik cair diterangkan Eboy belum tentu berbeda dengan yang menggunakan pupuk kimia. Yang perlu digaris bawahi penggunaan pupuk cair organik ini merupakan salah satu upaya menjaga keseimbangan mikroorganisme, memanfaatkan bahan-bahan organik di sekitar, dan menciptakan sistem budidaya yang lebih berkelanjutan.
Bagi Eboy, keberhasilan bertani bukan hanya diukur dari hasil panennya, tetapi juga dari kesehatan ekosistem yang mendukung pertumbuhan tanaman.
Untuk menghasilkan pupuk organik berkualitas, Eboy mempelajari konsep JADAM, yaitu metode pertanian alami yang dikembangkan di Korea Selatan dan telah banyak diterapkan oleh para petani di sana.
Konsep ini menjadi dasar yang kemudian dipelajari, dipraktikkan, dan disesuaikan Eboy dengan kondisi di Indonesia, khususnya untuk budidaya hidroponik.
Meski demikian, Eboy hingga kini belum mengambil langkah untuk meperjual belikan POC Hidroganik Alfa yang ia pelajari. Sebaliknya Eboy justru memilih untuk membagikan ilmu ia kembangkan kepada para petani terkhusus yang berada di daerahnya.
Langkah ini dipilih Eboy berdasarkan tujuan utamanya yakni bukan hanya memproduksi pupuk yang ramah dan bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga membangun kemandirian petani.
Hingga kini Eboy pun aktif membagikan ilmunya dengan melaksanakan berbagai workshop hingga membuka lebar pintu kediamannya bagi petani maupun warga yang hendak belajar membuat pupuk organik. (banjarmasinpost.co.id/Danti Ayu Sekarini)