SRIPOKU.COM, MARTAPURA – Di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah, warga Desa Karang Negara, Kecamatan Madang Suku II, Kabupaten OKU Timur, Sumsel, masih hidup dengan keterbatasan akses.
Selama lebih dari satu abad, desa yang berdiri sejak sekitar tahun 1902 itu belum memiliki jembatan penghubung menuju Desa Riang Bandung.
Akibatnya, seluruh aktivitas masyarakat masih bergantung pada perahu ketek untuk menyeberangi Sungai Komering.
Mulai dari mengangkut hasil pertanian, mengurus administrasi pemerintahan, mendapatkan layanan kesehatan, hingga anak-anak yang bersekolah di tingkat SMP dan SMA, semuanya harus melintasi sungai setiap hari.
Sekretaris Desa Karang Negara, Najamuddin, mengatakan keinginan masyarakat memiliki jembatan bukanlah harapan baru.
Menurutnya, aspirasi tersebut telah berkali-kali disampaikan kepada pemerintah, namun hingga kini belum juga terealisasi.
"Sejak desa ini berdiri sampai sekarang belum pernah ada pembangunan jembatan. Dari dulu hingga sekarang masyarakat hanya mengandalkan perahu ketek sebagai akses utama keluar masuk desa. Padahal jembatan ini sudah sangat lama menjadi harapan seluruh masyarakat," ujarnya kepada Sripoku.com, Rabu (15/7/2026).
Warga Siap Hibahkan Lahan
Najamuddin mengungkapkan, besarnya harapan masyarakat dibuktikan dengan kesiapan warga untuk menghibahkan lahan apabila pembangunan jembatan benar-benar direalisasikan.
Bahkan, jika masih diperlukan pembebasan lahan di wilayah Desa Riang Bandung, masyarakat Desa Karang Negara siap bergotong royong atau patungan mengumpulkan dana.
"Warga di Desa Karang Negara sudah siap menghibahkan lahannya apabila dibutuhkan untuk pembangunan jembatan. Bahkan jika masih diperlukan pembebasan lahan di wilayah Desa Riang Bandung, masyarakat kami siap bergotong royong dan patungan. Yang kami inginkan hanya satu, yaitu adanya jembatan agar desa ini tidak lagi terisolasi," katanya.
Ia menilai keberadaan jembatan akan memangkas waktu tempuh, menekan biaya transportasi, sekaligus memperlancar aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan pemerintahan.
Anak Sekolah Harus Naik Ketek Setiap Hari
Desa Karang Negara hanya memiliki fasilitas pendidikan hingga jenjang sekolah dasar.
Sementara itu, siswa yang melanjutkan pendidikan ke SMP dan SMA harus bersekolah di desa lain dengan menyeberangi Sungai Komering menggunakan perahu ketek.
"Setiap hari anak-anak kami harus menyeberangi Sungai Komering menggunakan perahu ketek untuk berangkat dan pulang sekolah. Kami berharap mereka bisa berangkat dengan akses yang lebih aman dan lebih mudah. Jembatan bukan hanya soal jalan, tetapi juga tentang masa depan pendidikan anak-anak kami," ungkap Najamuddin.
Petani Terbebani Ongkos Angkut dan Kemarau
Harapan pembangunan jembatan juga datang dari para petani.
Saluddin, salah seorang petani di Desa Karang Negara, mengaku biaya produksi pertanian terus membengkak karena hasil panen harus melalui dua kali proses pengangkutan.
Gabah dari sawah diangkut menggunakan jasa ojek menuju tepi sungai, kemudian diseberangkan menggunakan perahu ketek.
Untuk sekali angkut, petani harus membayar sekitar Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per karung kepada ojek, ditambah ongkos perahu sekitar Rp6 ribu per karung.
Tak hanya persoalan akses, petani juga tengah menghadapi musim kemarau yang menyebabkan sawah mulai kekeringan.
Saluddin mengaku harus memompa air dari Sungai Komering sejauh sekitar 150 meter menuju sawahnya selama tiga hari tiga malam tanpa henti.
Dalam satu musim tanam, penyedotan air bisa dilakukan hingga tiga kali dengan kebutuhan sekitar 10–12 liter BBM setiap kali penyedotan.
Karena tidak terdapat SPBU di desa tersebut, para petani terpaksa membeli Pertalite eceran dengan harga mencapai Rp15 ribu per liter.
"Bagi kami, jembatan bukan hanya memudahkan membawa hasil panen. Jembatan akan membuka akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, sekaligus mempercepat kemajuan desa. Itu yang sudah lama kami impikan," pungkas Saluddin.