TRIBUNMANADO.CO.ID - Pertandingan Inggris vs Argentina di Piala Dunia selalu panas dan berujung drama.
Ini pertandingan multidimensi.
Tak hanya tentang bola.
Tapi juga politik, sosial, budaya hingga identitas kebangsaan.
Perang Malvinas selalu jadi diksi untuk menggambarkan sengitnya laga tersebut.
Tak usah jauh-jauh, di Manado ada sebuah kampung bernama kampung Argentina.
Salah satu cerita menyebut kampung itu dinamakan Argentina karena demam Maradona serta ada satu kampung tetangga yang bernama Malvinas.
Perang Malvinas adalah konflik antara Argentina versus Inggris memperebutkan pulau Malvinas (Falkland) yang berlangsung selama 74 hari pada tahun 1982 dengan Inggris jadi pemenang.
Nah, Argentina membalas kekalahan tersebut, bukan di palagan medan perang, tapi di lapangan hijau.
Dalam Piala Dunia 1986, Argentina sukses membungkam Inggris di perempat final lewat dua gol Diego Armando Maradona.
Dua gol tersebut, satu dengan tangan yang disebut gol tangan Tuhan, satu lagi dengan melewati lima pemain Inggris, dianggap sebagai gol paling bersejarah dalam dunia sepakbola.
Malvinas selalu memisahkan kedua negara itu.
Tapi kedua negara itu bukan cuma Malvinas.
Saya mencatat dua tokoh wanita yang bisa membuat kedua bangsa itu akur dan tak melulu tentang perang.
Di Argentina ada Evita Peron.
Sedang di Inggris ada Lady Diana.
Keduanya sama sama tokoh wanita yang welas asih, rendah hati, pro wong cilik dan disayangi dunia.
María Eva Duarte de Perón, yang lebih dikenal dengan nama Evita, adalah Ibu Negara Argentina yang paling ikonik dan berpengaruh sejak tahun 1946 hingga wafatnya pada tahun 1952.
Ia merupakan istri kedua dari Presiden Argentina, Juan Domingo Perón.
Lahir dari keluarga miskin di pedesaan, Evita bertransformasi menjadi aktris terkenal di Buenos Aires, sebelum akhirnya menjadi salah satu tokoh politik paling berkuasa di Amerika Selatan.
Evita merupakan tokoh kunci yang mengesahkan undang-undang hak pilih perempuan (hak untuk memilih) di Argentina pada tahun 1947.
Ia mendirikan yayasan sosial yang mendistribusikan makanan, uang, obat-obatan, serta membangun sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan bagi kaum miskin.
Salah satu ciri Evita yang melekat adalah keberpihakannya pada kaum papah.
Sebelum Jokowi atau Sherly Tjoanda rajin blusukan menjenguk warga, Evita sudah melakukannya.
Ia mengunjungi ghetto ghetto kaum miskin, mendengar keluhan mereka dan mencarikan solusi.
Evita memeluk dan mencium orang sakit, sesuatu yang jarang dilakukan politisi kala itu.
Ia dipuji bagai orang suci oleh kaum buruh dan kelas pekerja, sebaliknya
dibenci kaum elit dan oligarki Argentina.
Evita meninggal dunia akibat kanker serviks pada 26 Juli 1952 dalam usia yang sangat muda, yaitu 33 tahun.
Sebelum wafat, Kongres Argentina menganugerahinya gelar resmi sebagai "Pemimpin Spiritual Bangsa".
Sementara Lady Diana adalah tokoh paling berpengaruh pada abad ke 20 berkat empatinya pada kemanusiaan yang menembus batas dan pemberontakannya pada tradisi kerajaan Inggris yang kaku.
Dia adalah istri pertama Pangeran Charles yang saat ini jadi raja Inggris.
Pada tahun 1987, Diana mengguncang dunia dengan menjabat tangan pasien HIV/AIDS tanpa menggunakan sarung tangan, sebuah aksi nyata yang berhasil mengubah persepsi negatif publik terhadap penularan penyakit tersebut.
Pada Januari 1997, putri Diana memicu perhatian global dengan memakai rompi pelindung dan berjalan langsung melewati ladang ranjau aktif yang sedang dibersihkan oleh badan amal di Angola.
Diana meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di Paris.
Ia wafat di usia muda.
Banyak orang Inggris yang menyebut Diana tak mati.
Dia tetap hidup sebagai putri yang bertahta di hati rakyat Inggris.
Jika perang Malvinas memisahkan kedua negara, maka cinta Diana dan Peron pada yang papah dan terhina adalah titik temu kedua negara itu.
Sepakbola bukan sebuah jalan permusuhan, tapi perayaan kemanusiaan.
Dengan kacamata itulah saya ingin menyaksikan pertandingan Inggris vs Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026.
Semangat cinta itu diwakili dua sosok.
Lionel Messi dan Jude Bellingham.
Messi adalah pemain sepak bola terbaik dunia yang sudah melampaui Pele dan Maradona.
Di usianya ke 39, Messi masih sanggup menggendong Argentina ke puncak tertinggi.
Kemampuannya tak menurun.
Visi, drible dan skillnya masih sulit ditandingi.
Sementara Bellingham adalah bintang muda Inggris yang sinarnya paling terang di Piala Dunia 2026.
Ia sudah mencetak 6 gol, mungkin satu satunya gelandang yang pernah melakukan itu di Piala Dunia.
Bellingham adalah tipe pemain masa kini, seorang Versatile.
Ia bisa main di playmaker, second striker, box to box, sayap hingga gelandang bertahan.
Semua ia lakoni sama baiknya.
Ini pemain yang sulit dijaga.
Dalam kondisi topnya, Bellingham akan sulit dihentikan.
Persamaan dari Messi dan Bellingham adalah keduanya sama sam rendah hati dan penuh empati pada kemanusiaan.
Kamis dini hari nanti, entah lagu apa yang terdengar, Don't cry for me Argentina atau Candle With The Wind.
(Tribun Manado/Arthur Rompis)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK